Jepang –
Di Jepang, mengundurkan diri dari pekerjaan ternyata bukan perkara mudah. Budaya kerja yang menjunjung loyalitas jangka panjang serta kecenderungan menghindari konflik membuat banyak pekerja merasa sulit menyampaikan niat resign secara langsung kepada atasan.
Dikutip dari Sora News 24, banyak perusahaan Jepang, hubungan kerja bersifat jangka panjang tanpa kontrak evaluasi rutin. Kondisi ini membuat karyawan jarang memiliki momen formal untuk mendiskusikan kelanjutan karier mereka. Ditambah lagi, budaya setempat cenderung menghindari konfrontasi terbuka.
Situasi inilah yang melahirkan Momuri, perusahaan jasa yang menawarkan layanan perantara untuk berhenti kerja. Nama Momuri sendiri merupakan plesetan dari frasa Jepang “Mou muri” yang berarti “Saya sudah tidak tahan lagi.”
Dengan tarif sekitar 12.000 hingga 22.000 yen atau setara Rp 1,2 juta hingga Rp 2,3 juta (kurs asumsi Rp 105 per yen), Momuri akan menghubungi perusahaan klien dan menyampaikan keputusan pengunduran diri. Tak hanya itu, mereka juga menangani dokumen dan komunikasi administratif yang diperlukan.
Menariknya, Momuri tidak membantu klien mencari pekerjaan baru. Layanan mereka murni fokus membantu seseorang keluar dari pekerjaan saat ini.
Namun di balik keunikannya, Momuri mengaku juga kerap menerima permintaan tak biasa. Dalam unggahan di akun Twitter resminya, perusahaan itu menyebut sering dihubungi oleh pihak perusahaan.
“Kami secara rutin menerima permintaan seperti, ‘Kami ingin membuat salah satu karyawan kami berhenti, apakah Anda bisa menghubungi mereka melalui telepon?” tulis Momuri.
Di Jepang, pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat alasan ekonomi umumnya dipandang negatif. Memecat karyawan tanpa pelanggaran berat juga dihindari. Akibatnya, perusahaan sering tetap mempertahankan karyawan meski kinerjanya kurang optimal.
Secara teori, jika karyawan memilih mundur secara sukarela, stigma sosial dan hambatan hukum terkait pemecatan bisa dihindari. Namun praktik meminta pihak ketiga membujuk karyawan agar resign tentu memunculkan persoalan etika.
Momuri sendiri tidak menyebut pernah memenuhi permintaan dari perusahaan tersebut. Mereka menegaskan tetap berfokus sebagai jasa perantara pengunduran diri, bukan perantara pemecatan.
Fenomena ini menjadi gambaran unik bagaimana budaya kerja di Jepang melahirkan solusi bisnis yang tak biasa.
