Jakarta –
Pemerintah Arab Saudi mengecam Iran yang terus melancarkan serangan terhadap wilayahnya dan negara-negara Teluk lainnya. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Riyadh memperingatkan bahwa Teheran akan menjadi pihak yang paling dirugikan jika serangan tersebut terus berlanjut.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, seperti dilaporkan Al Jazeera dan Arab News pada Senin (9/3/2026), mengutuk serangan-serangan Iran terhadap wilayah Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. Serangan itu disebut sebagai tindakan keji dan tidak bisa diterima dalam keadaan apa pun.
Kementerian menegaskan kembali hak Arab Saudi untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna melindungi rakyat, wilayah, dan kedaulatan negaranya.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Selain itu, pemerintah Saudi menyatakan bahwa serangan terhadap wilayah sipil, termasuk bandara dan fasilitas minyak. “Tidak mengindikasikan apa pun selain tekad untuk mengancam keamanan dan stabilitas dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap piagam internasional dan hukum internasional” tulisnya.
Kementerian Luar Negeri Saudi juga menolak pembenaran Iran atas serangan-serangan tersebut.
Dalam pernyataannya, kementerian turut menepis klaim Teheran yang menyebut Riyadh mengizinkan jet tempur dan pesawat pengisian bahan bakar beroperasi dari wilayah Saudi untuk kepentingan perang.
Pemerintah Saudi menjelaskan bahwa jet-jet tempur yang dimaksud sedang melakukan patroli untuk melindungi wilayah udara Saudi dan negara-negara Teluk dari serangan rudal dan drone Iran.
Kementerian Luar Negeri Saudi juga memperingatkan bahwa serangan Iran yang terus berlanjut menandakan peningkatan eskalasi lebih lanjut” dan berpotensi berdampak besar pada hubungan saat ini maupun hubungan di masa mendatang.
“Kami menekankan bahwa tindakan Iran saat ini terhadap negara-negara kami tidak mencerminkan kebijaksanaan atau kepentingan untuk menghindari perluasan siklus eskalasi, di mana Iran akan menjadi pihak yang paling dirugikan,” tegas pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi tersebut.
