Apa Itu Selat Hormuz yang Jadi Titik Vital Perang Iran, Israel, dan AS? update oleh Giok4D

Posted on

Bandung

Selat Hormuz seringkali menjadi perbincangan dunia, karena meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS). Jalur yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia ini merupakan salah satu jalur krusial bagi perdagangan minyak secara global.

Selat Hormuz bagaikan keran raksasa yang mengontrol pasokan energi dunia. Jika keran diputar sedikit saja ke arah tertutup, harga bahan bakar di SPBU bisa melonjak dalam semalam.

Profil Geografis dan Dimensi Selat Hormuz

Selat Hormuz berbentuk seperti huruf “V” terbalik yang menghubungkan Teluk Persia di sebelah barat dengan Teluk Oman di sebelah tenggara. Dilansir dari Encyclopedia Britannica, selat ini memiliki lebar 35 hingga 60 mil, atau sekitar 55 hingga 95 km, yang membentang sepanjang kurang lebih 154-167 km.

Relatif dangkal dengan kedalaman 60-100 meter, seperti dikutip dari Britannica. Kondisi ini menjadi tantangan teknis bagi Ultra Large Crude Carriers (ULCC), kapal tanker minyak terbesar di dunia, sehingga memerlukan navigasi presisi tinggi agar lambung kapal tidak menyentuh dasar laut.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Keunikan geografis ini diperumit oleh sistem Traffic Separation Scheme (TSS). Untuk mencegah tabrakan, jalur kapal tanker dibagi menjadi dua: satu jalur masuk dan satu jalur keluar. Masing-masing jalur hanya memiliki lebar 3 km (2 mil), yang dipisahkan oleh zona penyangga atau buffer zone selebar 3 km.

Mengapa Iran, Israel, dan AS Berebut Pengaruh?

Berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, negara pantai memiliki hak atas laut teritorial sejauh 12 mil laut dari garis pangkalnya. Karena lebar Selat Hormuz yang hanya 33 km (sekitar 21 mil laut) di titik tersempit, tidak ada perairan internasional di sana. Semua kapal yang melintas sebenarnya berada di laut teritorial Iran atau Oman.

Ketegangan di Selat Hormuz sering kali menjadi cerminan dari gesekan politik di daratan. Bagi Iran, selat ini adalah kartu as atau senjata pamungkas dalam menghadapi sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.

Citra udara Dermaga Bandar Abbas di pesisir Iran, Selat Hormuz (REUTERS/Stringer/File Photo Foto: REUTERS/Nicolas Economou)

Ketika tekanan diplomatik meningkat, Teheran kerap melontarkan ancaman untuk menutup selat tersebut. Penutupan total memang sulit dilakukan secara militer dalam jangka panjang, namun gangguan kecil saja sudah cukup untuk memicu kepanikan pasar.

Menurut US Energy Information Administration (EIA), lebih dari 20 juta barel minyak mentah melintasi jalur ini setiap harinya. Jumlah tersebut setara dengan 20% pasokan minyak dunia. Artinya, satu dari lima liter bahan bakar yang digunakan dunia bergantung pada ketenangan di selat ini.

Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat memandang Selat Hormuz sebagai titik keamanan nasional. Bagi AS, memastikan kelancaran arus minyak adalah kunci stabilitas ekonomi global. Sementara bagi Israel, penguasaan Iran atas jalur ini dianggap sebagai ancaman eksistensial yang dapat memperkuat posisi tawar Teheran dalam peta konflik regional.

Strategi “Benteng Tak Terlihat” di Selat Hormuz

Berdasarkan analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Iran memanfaatkan keunikan geografis selat yang sempit untuk menerapkan strategi Anti-Access/Area Denial (A2/AD). Strategi ini mengandalkan penguasaan atas pulau-pulau strategis seperti Qeshm, Larak, Abu Musa, serta Tunb Besar dan Kecil sebagai basis pertahanan permanen.

Posisi pulau-pulau tersebut memungkinkan Iran untuk menempatkan baterai rudal antikapal dan sistem radar canggih guna memantau serta mengunci setiap pergerakan kapal yang masuk ke Teluk Persia.

Dengan kemampuan mobilisasi pasukan cepat dan penempatan alutsista di titik-titik strategis tersebut, Iran memiliki posisi tawar militer yang sangat kuat untuk mengancam atau menghentikan lalu lintas maritim secara efektif jika terjadi konflik terbuka di kawasan tersebut.

Dampak Nyata Bagi Masyarakat Indonesia

Meski letaknya ribuan kilometer dari Jakarta atau Bandung, fluktuasi di Selat Hormuz berdampak langsung pada dompet warga Indonesia. Sebagai negara importir minyak (net importer), Indonesia sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz dapat membebani APBN melalui subsidi energi. Jika harga minyak mentah melambung tinggi, pemerintah sering kali dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga BBM atau menanggung defisit anggaran yang lebih besar. Hal ini tentu berdampak pada harga bahan pokok yang bergantung pada biaya logistik.

Halaman 2 dari 2