Bandung –
Istilah ‘Peter Pan Syndrome’ belakangan mengemuka di publik, sejak penyanyi Onadio Leonardo mengaku mengalami kondisi tersebut. Hal itu diketahui pria yang disapa Onad itu, usai konsultasi psikologis selama rehabilitasi kasus penyalahgunaan narkoba.
Sebenarnya seperti apa tanda-tanda Peter Pan Syndrome? Spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ menjelaskan orang dengan kondisi Peter Pan Syndrome memiliki kecenderungan perilaku dan emosi yang belum dewasa.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Meski sudah dewasa orang dengan kondisi ini biasanya kesulitan mengambil peran orang dewasa, misalnya seperti berkomitmen, mandiri, dan bertanggung jawab.
“Menghindari atau menolak tanggung jawab dewasa seperti keuangan, pekerjaan, dan rumah tangga. Kesulitan dalam hubungan yang stabil dan berkomitmen,” kata dr Lahargo pada detikcom saat membicarakan ciri orang dengan Peter Pan Syndrome, Rabu (3/2/2026).
dr Lahargo menyebut orang dengan kondisi ini cenderung merasa terjebak dalam masa muda. Hal ini membuat mereka enggan untuk merencanakan masa depan.
Tak Bisa Mandiri, Bergantung Pada Orang Lain
Ciri lain dari orang dengan Peter Pan Syndrome juga ketergantungan secara emosional atau bahkan finansial pada orang lain. Perilakunya cenderung kekanak-kanakan dan sulit serius dalam hal-hal penting.
“Ciri selanjutnya adalah sulit mengatur stres, konflik, atau tugas yang membosankan. Sering pindah kerja, kurang fokus, atau tidak bertahan dalam rutinitas dewasa. Kemudian, menyalahkan orang lain atas masalah dalam hidupnya,” katanya.
Perlu diingat, pemeriksaan profesional kesehatan jiwa perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis atau kondisi kesehatan mental tertentu.
Peter Pan Syndrome Bukan Diagnosis Resmi
dr Lahargo mengingatkan ‘Peter Pan Syndrome’ bukanlah istilah diagnosis medis resmi. Istilah tersebut digunakan untuk mempermudah tim medis menjelaskan kondisi psikologis yang dialami oleh pasien.
“Peter Pan Syndrome bukan diagnosis resmi seperti gangguan kepribadian atau gangguan mental lainnya. Namun, perilaku yang dikaitkan dengan istilah ini seringkali beririsan dengan pola kepribadian tertentu, tingkat kematangan emosional, dan respons terhadap tanggung jawab hidup,” kata dr Lahargo.
Ia mengatakan kondisi ini dapat berkurang atau dikendalikan bila pasien mau menjalani penanganan yang tepat. Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan melalui psikoterapi dan dukungan lingkungan yang tepat.
Salah satu faktor pemulihan yang penting adalah kesadaran dari pasiennya itu sendiri.
“Terapis biasanya fokus pada perkembangan emosional, keterampilan hidup, dan hubungan interpersonal, bukan pada ‘menyembuhkan sindrom’ secara literal,” tandasnya.
