Tasikmalaya –
Di balik narasi sejarah lokal Tasikmalaya yang kental dengan nuansa religiusitas pesantren, ternyata terselip satu lembar sejarah tentang eksistensi organisasi rahasia Freemasonry.
Betapa daerah kecil yang dikenal dengan Kota Santri ini, ternyata pernah dihinggapi organisasi rahasia yang kerap dikaitkan dengan agenda sekularisme terhadap agama. Beberapa nama elit lokal atau priyayi juga disebut menjadi bagian dari organisasi ini.
Berdasarkan jurnal penelitian bertajuk Sejarah Freemasonry Di Tasikmalaya, 1902-1939, yang disusun oleh Faizal Arifin, Rahmat Mulya Nugraha, dan Taryadi pada 2021 lalu, mengungkap bahwa pengaruh organisasi ini bahkan menjangkau wilayah administratif terkecil di Hindia Belanda, termasuk Tasikmalaya, melalui keterlibatan para elit pribumi (priyayi).
Salah satu tokoh sentral dalam sejarah ini adalah Raden Somanah Soeriadiredja, seorang birokrat pribumi yang memegang posisi strategis di wilayah yang saat itu masih bernama Afdeeling Soekapoera.
Berdasarkan Regeering Almanak tahun 1902, Raden Somanah menjabat sebagai Wedana Distrik Tasikmalaya sejak 12 Agustus 1900. Ia kemudian dialihkan menjadi Wedana di Ciawi pada September 1902.
Sebagai seorang Wedana, ia menerima upah bulanan sebesar 200 Gulden, jumlah yang cukup besar di masa itu dan menjadi indikasi motif ekonomi di balik loyalitas elit priyayi terhadap pemerintah kolonial.
Fakta bergabungnya Raden Somanah didasarkan pada sebuah surat laporan kegiatan loji di Bandung yang ditulis oleh R.B.M pada 14 Januari 1901.
Raden Somanah resmi diterima sebagai anggota Freemason di Loji ‘St Jan’ Bandung pada 12 Januari 1901. Dia dilantik bersama tujuh kandidat lainnya, termasuk kerabatnya, Raden Toemenggoeng Salmon Salam Soerjadiningrat (Bupati Majalengka).
Kehadiran Raden Somanah dalam organisasi ini bukan sekadar keanggotaan biasa. Freemasonry menggunakan elit pribumi seperti Somanah sebagai alat “deradikalisasi” strategis.
“Saat ritual pelantikan, pemimpin ritual (A.M) memberikan pidato khusus kepada Wedana Somanah dan Bupati Majalengka. Mereka diarahkan untuk menjalankan tugas kepemimpinan pribumi yang sejalan dengan kepentingan kolonial Belanda melalui saran dan rekomendasi organisasi,” tulis Faizal.
Meski ia bertugas di Tasikmalaya, prosesi inisiasi dan pertemuan besar dilakukan di Loji St Jan Bandung, yang merupakan loji tertua dan berpengaruh di Jawa Barat.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Peran sebagai freemason, membuat Raden Somanah memiliki karier birokrasi yang berpengaruh. Dia tercatat aktif dalam struktur perbankan kolonial, yakni Soekapoera Hulp, Spaar-en Landbouweredietbank di Tasikmalaya. Ini menunjukkan pengaruhnya yang luas di sektor ekonomi lokal.
Masuknya para priyayi seperti Raden Somanah ke dalam organisasi rahasia Belanda ini berdampak pada hubungan mereka dengan rakyat.
Masyarakat Tasikmalaya di masa itu boleh jadi tak menyadari adanya gerakan organisasi rahasia ini. Namun indikasinya, terlihat dari keberpihakan priyayi terhadap kolonial. Selain itu muncul upaya “deradikalisasi” perlawanan rakyat terhadap kolonial. Rakyat diajak memaklumi kehadiran penjajah yang datang membawa budaya dari peradaban modern.
Sebagai sebuah organisasi rahasia yang mengusung penyebaran ajaran, masyarakat tentu tak menyadari sepenuhnya. Misi-misi organisasi ini dibalut oleh berbagai kemasan di berbagai sektor kehidupan. Baik pelajaran di sekolah, kegiatan sosial hingga infiltrasi dalam bentuk seni dan hiburan.
“Kepentingan kolonial agar Freemason Bumiputera secara tidak sadar, dipengaruhi agar menerima dan berdamai dengan Kolonialisme ditunjukkan dengan mayoritas anggota loji Freemasonry didominasi oleh orang Eropa (Belanda),” tulis Faizal.
Menurut dia, selain Raden Somanah, terdapat tiga anggota Freemason yang tinggal di Tasikmalaya. Tiga orang tersebut adalah, LG Eggink, Stam, dan Onnen. Berbeda dengan Raden Somanah, ketiganya warga berkebangsaan Belanda.
Sekedar diketahui, pada awal dekade 60-an, Presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan larangan terkait aktivitas organisasi ini. Semua loji dilarang menggelar aktivitas terkait organisasi.







