Bandung –
Sejumlah negara di Asia memperketat aturan skrining kesehatan di bandara, menyusul temuan infeksi virus Nipah yang baru-baru ini terjadi di Bengal Barat, India.
India sendiri bukan kali pertama menghadapi virus Nipah. Wabah pertama yang tercatat terjadi di Bengal Barat pada awal tahun 2000-an, di wilayah dekat perbatasan Bangladesh. Bertahun-tahun kemudian, Kerala melaporkan kasus Nipah mulai 2018. Sejak itu, negara bagian tersebut mengalami beberapa wabah kecil.
Kasus virus Nipah memang jarang terjadi. Namun, virus ini sama sekali tidak bisa dianggap sepele. Begitu menginfeksi manusia, kondisinya dapat memburuk dengan sangat cepat.
Gejala awal meliputi:
- demam
- sakit kepala
- nyeri otot
- gangguan pernapasan.
Dalam banyak kasus, infeksi berkembang menjadi radang otak (ensefalitis). Tingkat kematiannya pun tinggi. Pada beberapa wabah, lebih dari separuh pasien yang terinfeksi tidak selamat.
Dokter spesialis saraf dr Deep Das dari CK Birla Hospitals, CMRI, menjelaskan virus Nipah pertama kali berkembang biak di saluran pernapasan atas, lalu menyebar ke aliran darah. Dari sana, virus dapat menginfeksi sistem kardiovaskular dan berbagai organ tubuh lainnya.
“Nipah memiliki karakteristik yang sangat berbahaya karena dapat merusak pembuluh darah. Peradangan pembuluh darah ini memungkinkan virus menembus sawar darah-otak dan mencapai otak,” jelasnya, dikutip dari Times of India.
Menurutnya, infeksi virus Nipah menyebabkan radang otak berat, yang memicu pembengkakan otak dan berkembang menjadi ensefalitis.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Gejala awal biasanya berupa demam, nyeri otot, dan sakit kepala. Namun, kondisi dapat berkembang menjadi kebingungan, lemas berat, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Pembengkakan otak yang parah dapat membuat tubuh kehilangan kendali atas fungsi vital, seperti pernapasan dan pengaturan detak jantung,” ujar dr Deep.
Ia menegaskan bahwa infeksi Nipah merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan:
- diagnosis cepat
- isolasi ketat
- serta perawatan intensif neurologis dan kritis.
Perkembangan penyakit yang sangat cepat membuat risiko kematian meningkat drastis jika tidak segera ditangani.
