Viral Konten Dugaan Mark Up Beras MBG di Sukabumi, Ini Faktanya

Posted on

Sukabumi

Dugaan manipulasi laporan pengadaan bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lembursitu, Kota Sukabumi, sempat viral di media sosial. Isu ini mencuat setelah beredar potongan konten podcast yang menampilkan pengakuan mantan akuntan SPPG terkait dugaan selisih laporan pengadaan bahan pangan.

Dalam konten yang beredar, disebutkan adanya perbedaan antara jumlah barang yang dipesan dan yang dilaporkan secara administratif. Salah satu contohnya terkait pengadaan beras, di mana dalam laporan pembelian tercatat 11 karung, sementara barang yang disebut diterima hanya 9 karung.

Konten tersebut memicu perbincangan luas di media sosial dan menimbulkan dugaan adanya praktik manipulasi laporan pengadaan bahan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

Mantan akuntan SPPG Lembursitu, Dela Shifa Fauziah, kemudian menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi akibat konten podcast tersebut.

“Saya secara tulus dan ikhlas memohon permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terkait dalam hal ini, Badan Gizi Nasional, Yayasan Ath-Tho-Mitra, dan masyarakat,” kata Dela dalam pernyataan klarifikasinya yang diterima , Rabu (11/3/2026) malam.

Dela menjelaskan pembuatan konten podcast tersebut merupakan inisiatif pribadinya karena saat itu terpancing emosi setelah adanya permasalahan dengan salah satu mitra kerja.

Ia juga mengakui data yang disampaikan dalam konten tersebut belum sepenuhnya lengkap. Setelah dilakukan pengecekan bersama, ditemukan adanya penambahan bahan baku yang tidak masuk dalam data yang ia miliki saat itu.

“Ternyata ada penambahan bahan baku dari barang yang sudah di-PO-kan, dan itu belum termasukkan ke dalam data saya, sehingga terjadilah ketidaksinkronan data,” ujarnya.

Ia menegaskan klarifikasi tersebut dibuat atas keinginannya sendiri sebagai bentuk tanggung jawab untuk meluruskan informasi yang sempat beredar. “Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya khususnya dan semuanya, karena dengan emosi tidak akan menyelesaikan suatu masalah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Lembursitu 2, Fikri Febriansyah, menjelaskan polemik tersebut bermula dari miskomunikasi antara akuntan dan tim ahli gizi terkait ketersediaan bahan pangan di dapur.

Menurut Fikri, pada hari kejadian terdapat kekurangan bahan pangan seperti beras, ayam, dan buah pada dini hari sehingga pihak dapur harus segera membeli tambahan ke koperasi.

“Awalnya ini miss komunikasi antara akuntan dengan ahli gizi juga tidak ada laporan. Di hari itu ada kekurangan beras, ayam dan buah, jadi mau bagaimana lagi karena kekurangannya terjadi dini hari. Kita harus segera membeli langsung ke koperasi,” kata Fikri.

Ia menyebutkan penambahan bahan pangan tersebut di antaranya sekitar tiga karung beras atau sekitar 75 kilogram serta sekitar 40 kilogram ayam. Fikri menjelaskan setiap bahan pangan yang datang biasanya disortir terlebih dahulu. Jika ditemukan bahan yang rusak atau tidak layak, maka harus segera diganti.

“Kita diawali barang datang lalu disortir dulu. Kadang ada yang busuk atau rusak, termasuk beras. Jadi harus ada pengganti di dini hari sehingga kita pesan lagi ke koperasi,” ujarnya.

Fikri menambahkan saat kejadian tersebut akuntan yang bersangkutan sedang sakit sehingga tidak berada di dapur ketika proses penambahan bahan pangan dilakukan.

Setelah polemik tersebut viral di media sosial, pihak SPPG langsung melakukan komunikasi dengan akuntan yang bersangkutan untuk melakukan pengecekan data bersama.

“Pertama saya menghubungi akuntan bersangkutan untuk diskusi dan pengecekan karena memang ada penambahan di hari tersebut juga,” kata Fikri.

Terkait isu pemecatan, Fikri menegaskan tidak ada pemecatan terhadap akuntan tersebut. Ia menyebut yang bersangkutan hanya dialihkan tugasnya setelah dilakukan evaluasi.

“Sebenarnya itu bukan pemecatan, tapi dialihkan. Dari awal kami diskusi dan ditawarkan untuk dipindahkan tugasnya. Karena dari evaluasi pendataannya dan komunikasinya dinilai masih kurang,” tutupnya.