Bandung –
Bulan puasa identik dengan kehangatan keluarga saat berbuka bersama di rumah. Berbagai macam hidangan disajikan saat menyambut buka puasa setiap harinya. Tetapi apakah terus berlanjut demikian?
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Bahan masakan menjadi komoditas utama bagi masyarakat untuk membuat hidangan yang disajikan di meja makan. Pasokan komoditas ini sering kali bergantung pada peran pedagang sayur keliling yang menjembatani jarak antara pasar induk dan depan pintu rumah konsumen.
Bagi Jajang, seorang pedagang sayur keliling yang sudah berkelana sejak 1978, menyebutkan bahwa penjualan sayur di bulan Ramadhan belakangan ini tidak memiliki perubahan, jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
“Sekarang puasa enggak ada bedanya sama bulan Syawal atau bulan lain. Kalau dulu mah kerasa bedanya, puasa lebih cepat habis barang (dagangannya) sampai banyak yang nyegat” ujarnya saat ditemui baru-baru ini.
Jajang merasakan penurunan daya beli masyarakat sejak tahun 2015. Dimana di tahun-tahun sebelumnya pedagang sayur keliling menjadi sosok yang ditunggu, baik saat bulan Ramadhan, maupun hari-hari biasanya.
“Mulai kerasa beda itu di tahun 2015-an, orang-orang mulai jarang beli ke tukang sayur. Kalau di tahun-tahun sebelum itu, apalagi tahun 2003-an, hari biasa juga banyak yang nungguin tukang sayur, apalagi pas bulan puasa” tambah Jajang.
Menurut Jajang, pada tahun-tahun itu, terutama sekitar tahun 2003, produktivitas dapur rumah tangga sangat tinggi. Ibu-ibu lebih memilih memasak sendiri untuk menu berbuka dan sahur. Sehingga kehadiran tukang sayur keliling seperti Jajang menjadi tumpuan utama warga agar tidak perlu repot pergi jauh ke pasar induk.
Hal ini diakui oleh salah satu pelanggannya, Nenah. Ia mengaku sekarang hanya membeli kebutuhan kecil atau mendadak saja ke tukang sayur.
“Beli ke Mang Jajang untuk masak sehari-hari yang sekali-sekali aja. Kalau mau belanja banyak untuk stok, biasanya langsung ke pasar” jelas Nenah.







