Di ujung jalan setapak yang menurun curam, membelah rimbunnya pohon pisang dan vegetasi liar Hutan Jeruk Nipis, sebuah gubuk reyot berdiri seolah menyembunyikan duka.
Atapnya hanya lembaran seng berkarat yang ditumpuk sembarang dengan terpal plastik lusuh, sementara dindingnya terbuka, membiarkan angin dan serangga hutan leluasa masuk.
Di sanalah Uloh (70) kini menghabiskan sisa usianya. Tubuhnya yang kurus tampak ringkih saat duduk di atas balai-balai bambu, sesekali tangannya memijat lutut dan kaki, menyiratkan kelelahan fisik yang tak berkesudahan.
Sembilan bulan sudah warga Kampung Babakan Cisarua, RT 02 RW 15, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi ini menyepi. Bencana longsor dan banjir bandang awal Maret 2025 lalu merenggut segalanya, rumahnya, harta bendanya, dan belahan jiwanya, Ooy.
Ingatan Uloh tentang malam bencana itu masih begitu tajam. Ia menuturkan info-info saat tanah dan bangunan rumahnya ambruk menimbun mereka berdua.
“Teu tiasa luncat (tidak bisa loncat), tertimbun saja. Tertutup oleh dua bangunan rumah,” tutur Uloh dengan suara bergetar, saat ditemui infoJabar, Kamis (8/1/2026).
Malam itu, ia berjuang sendirian di tengah kegelapan. Tidak ada tetangga yang datang, karena semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
“Membela diri sendiri saja karena tidak ada yang menolong. Saya ngukui (mengorek) tanah, kena beling, kaca, bata. Menggali ke bawah, bisanya cuma ngesot,” kenangnya getir.
“Kaki tertindih pikulan kayu (pamikul), tidak bisa apa-apa,” lanjutnya.
Saat berhasil menyeruak dari reruntuhan, ia hanya mendapati puing. Sang istri, Ooy, tak selamat. Trauma itu membekas dalam.
Meski memiliki anak laki-laki di Pasir Pogor, Uloh memilih bertahan di gubuk tak layak ini. “Sieun ngarepotkeun (takut merepotkan),” alasannya singkat, selain karena kemudahan akses air sungai di hutan dibandingkan di tempat anaknya.
Kesendirian Uloh di hutan kian berat dengan ancaman kelaparan. Bukan hanya karena ketiadaan bahan pangan, tetapi juga karena tamu tak diundang. Bantuan beras yang ia simpan kerap dijarah kawanan monyet liar yang menghuni hutan tersebut.
“Beras disimpan di sini kemarin diserang (monyet). Karung dan lain-lain, habis, tiga hari ini,” keluh Uloh sambil menunjuk sudut gubuknya yang berantakan.
Ia mengaku sempat tinggal di pengungsian sekolah, namun tidak betah. “Di sekolahan tidak kebagian,” ujarnya.
Kini, ia hanya berharap ada bantuan hunian yang layak agar tidak perlu was-was saat hujan deras mengguyur atap gubuknya yang bocor. “Suka takut kalau begini (hujan),” tambahnya.
Ketua RT setempat, Heri, menampik anggapan bahwa warga membiarkan Uloh terlantar. Menurut Heri, ia dan warga lainnya sudah berkali-kali membujuk Uloh untuk tinggal di tempat yang lebih layak.
“Sudah berapa kali kami tawarkan tempat menginap, warga juga mengajak. Tapi Pak Uloh menolak halus,” ujar Heri saat ditemui di lokasi.
Heri menjelaskan, kondisi warga Kampung Babakan Cisarua lainnya pun tak kalah memprihatinkan. Mereka semua adalah korban bencana yang sama. Heri meluruskan stigma bahwa warga mendirikan bangunan di bantaran sungai secara ilegal.
“Warga tidak tinggal di bantaran sungai. Dahulu, jarak sungai ke permukiman itu jauh, puluhan meter,” tegas Heri.
Bencana Maret 2025 itulah yang mengubah bentang alam secara drastis. Arus sungai yang mengamuk berpindah jalur, menghantam permukiman yang sebelumnya aman.
“Bencana membuat jalur sungai beralih, arusnya menghantam rumah warga. Belasan rumah hanyut terbawa air, dan puluhan lainnya rusak berat,” ungkap Heri. Rumah Heri sendiri pun tak luput dari kerusakan.
