Para peneliti melaporkan temuan ular laut purba berukuran raksasa yang diperkirakan mencapai panjang sekitar 12 meter dan hidup kurang lebih 56 juta tahun silam. Spesies ini diyakini pernah menempati posisi predator puncak di lautan, jauh sebelum paus dan hiu berukuran besar menguasai rantai makanan laut.
Penemuan dan kajian terhadap spesies yang diberi nama Palaeophis colossaeus membuka perspektif baru mengenai kehidupan laut pada zaman Eosen. Mengutip Indian Defence Review, sisa fosil berupa tulang belakang ular tersebut ditemukan di kawasan yang dahulu merupakan bagian dari Laut Tethys, wilayah yang kini berubah menjadi Gurun Sahara di Afrika Utara.
Ukuran vertebra yang ditemukan jauh melampaui ukuran tulang belakang ular modern. Hal ini mengindikasikan tubuh yang sangat panjang sekaligus berotot, sehingga memungkinkan hewan ini bergerak lincah dan memangsa beragam jenis makhluk laut di perairan tropis purba.
Palaeophis colossaeus hidup pada periode ketika suhu global Bumi lebih tinggi dibandingkan saat ini. Lautan dangkal tropis kala itu menjadi habitat kaya sumber makanan, termasuk ikan-ikan purba dan organisme laut lainnya. Keberadaan fosil berukuran masif ini membantu ilmuwan menelusuri cara kerja anatomi reptil laut purba serta peran ekologis mereka sebagai pemangsa utama.
“Palaeophis colossaeus merupakan ular dengan ukuran luar biasa, memiliki vertebra yang lebih besar dibandingkan spesies ular hidup mana pun yang diketahui,” kata Rania Hadid, penulis kajian sekaligus pelapor temuan tersebut.
Kajian struktur tulang belakang juga mengungkap bahwa tubuh ular ini kemungkinan memiliki kombinasi kekuatan dan kelenturan yang tinggi dibandingkan banyak reptil laut sezamannya. Para ahli menduga kemampuan tersebut memungkinkan ular laut raksasa ini memburu ikan berukuran besar, bahkan hiu kecil, yang hidup di lautan tropis purba. Rahang yang besar serta kemampuan membuka mulut lebar diperkirakan menjadi keunggulan tambahan dalam menangkap mangsa besar.
Penemuan ini bukan hanya menambah daftar keanekaragaman reptil laut prasejarah, tetapi juga berperan penting dalam merekonstruksi ekosistem laut masa lalu, termasuk perubahan dominasi predator puncak dari reptil menuju mamalia laut seiring perjalanan evolusi selama jutaan tahun.
Ke depan, penelitian lanjutan terhadap fosil-fosil ini serta kondisi lingkungan purba tempat Palaeophis colossaeus hidup diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai hubungan antara predator laut purba, perubahan iklim global pada awal era Eosen, serta dinamika evolusi ekosistem laut hingga terbentuk seperti yang dikenal saat ini.
