Jakarta –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur maritim penting bagi perdagangan energi dunia.
Trump mengancam akan menghantam Iran puluhan kali lebih keras jika pemblokiran aliran minyak melalui jalur perairan strategis tersebut terus berlanjut.
Dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (10/3/2026), Trump memperingatkan langkah pemblokiran yang berkelanjutan dapat memicu respons militer besar dari Amerika Serikat.
“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang telah mereka alami sejauh ini,” tulis Trump dalam pernyataan via Truth Social.
“Selain itu, kita akan menghancurkan target-target yang mudah dihancurkan yang akan membuat Iran hampir tidak mungkin untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara — Kematian, Api, dan Amarah akan menimpa mereka — Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak akan terjadi,” kata Presiden AS tersebut.
Trump menyebut sikap tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk melindungi pasar energi internasional. Ia menggambarkannya sebagai hadiah dari Amerika Serikat kepada China, dan semua negara yang banyak menggunakan Selat Hormuz.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Semoga, ini adalah isyarat yang akan sangat dihargai,” ucapnya.
Selat Hormuz ditutup sejak Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, melancarkan serangan udara skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan yang terjadi setelah perang meletus pada akhir Februari itu hampir sepenuhnya menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan berbagai komoditas lainnya.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang biasanya menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia serta sebagian besar volume ekspor gas alam cair global. Namun, menurut perusahaan analisis Kpler, yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut turun hingga 90 persen dalam sepekan terakhir.
