Tradisi Nyekar Jelang Ramadan, TPU Samsu Indramayu Ramai Peziarah

Posted on

Indramayu

Menjelang bulan suci Ramadan, suasana di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Samsu, Kelurahan Lemahmekar, Kecamatan Indramayu, mulai didatangi peziarah pada Selasa (17/2/2026). Deretan pusara yang biasanya lengang, kini perlahan ramai oleh keluarga yang datang membawa doa dan kenangan.

Tradisi nyekar menjadi ruang perjumpaan batin antara mereka yang hidup dengan yang telah berpulang. Di antara para peziarah, Rita (58) tampak duduk bersimpuh bersama putrinya, Icha, di sisi sebuah makam yang tanahnya masih merah dan belum sepenuhnya mengeras.

Dengan suara lirih, Rita bercerita bahwa pusara tersebut adalah milik keponakannya yang wafat sekitar seratus hari lalu. Kepergian sang keponakan di usia 22 tahun akibat penyakit paru-paru menyisakan sesak di dada Rita.

“Masih baru, kurang lebih seratus hari,” ucapnya pelan saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).

Mata Rita berkaca-kaca saat mengenang sosok almarhumah. Meski bukan anak kandung, kedekatan mereka terjalin erat lantaran sang keponakan tumbuh besar bersama putrinya yang sebaya.

“Anaknya adik saya. Dekat sekali dengan anak saya yang perempuan, karena memang seumuran,” tuturnya.

Tak hanya di satu pusara, Rita dan Icha juga memanjatkan doa di makam keponakan lain yang meninggal saat dilahirkan, serta di makam ayah Rita.

Usai berdoa, keduanya membersihkan ketiga makam tersebut dengan saksama. Mereka merapikan rumput liar dan menyapu dedaunan kering hingga area makam tampak lebih terawat dibandingkan sekelilingnya.

Di sela ziarah, Rita menyempatkan diri bersilaturahmi dengan ibunya yang kini berusia 87 tahun. “Tadi sebelum ke sini, kami ke rumah ibu dulu,” katanya.

Bagi Rita, ziarah menjelang Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia memaknainya sebagai wujud kasih dan ikhtiar menjaga ikatan batin dengan keluarga yang telah tiada. Ziarah juga menjadi tradisi.

Rita sengaja datang lebih awal karena memperkirakan TPU akan dipadati warga pada sore hari. Menurutnya, waktu menjelang petang menjadi momen favorit masyarakat untuk berziarah sebelum memasuki bulan puasa.

“Biasanya sore puncaknya, ramai sekali. Jadi saya pilih datang lebih dulu,” katanya.

Tradisi ini dipastikan berlanjut hingga Idulfitri nanti. Rita dan keluarga akan kembali datang untuk mendoakan orang-orang terkasih. “Iya, hari pertama Lebaran juga ke sini lagi. Dan itu jadi tradisi juga, pasti ramai seperti sebelum puasa,” ujarnya.

Sementara itu, petugas TPU Samsu, Santoso (50), membenarkan bahwa kunjungan peziarah mulai meningkat sejak akhir pekan lalu. Meski belum mencapai puncak, aktivitas warga yang datang silih berganti sudah mulai terlihat.

“Sudah ada yang datang sejak Minggu. Biasanya makin ramai sehari sebelum puasa, terutama sore menjelang tarawih,” jelasnya.

Menurut Santoso, ziarah menjelang Ramadan telah mengakar kuat. Bahkan, para perantau kerap menyempatkan diri pulang ke kampung halaman demi mendoakan keluarga yang telah tiada.

“Kalau jadi puasa hari Kamis, kemungkinan besok sore sudah ramai. Ini memang tradisi tiap mau masuk Ramadan,” tuturnya.

Di tengah desir angin dan aroma tanah basah, TPU Samsu menjadi saksi bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merawat ingatan serta mempererat kasih yang tak terputus oleh waktu.