Garut –
Di bawah tekanan zaman, sebuah asosiasi akhirnya dibentuk untuk mempromosikan kepentingan Garut. Sosok bupati yang mengambil inisiatif untuk mendirikan asosiasi ini tentu layak mendapatkan pujian.
Demikian sebuah kalimat yang tertuang dalam laporan koran Belanda lawas, Soerabaijasch Handelsblad yang terbit pada 2 Maret 1934. Dalam laporan ini, koran tersebut mengabarkan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut telah membentuk Vereeniging Mooi Garoet.
Dalam bahasa Belanda, vereeniging berarti asosiasi, sedangkan kata ‘Mooi Garoet’ sering diartikan sebagai Garut yang indah. Jadi, secara harfiah, Vereeniging Mooi Garoet adalah Asosiasi Garut Indah.
Laporan itu menyebutkan bahwa Asosiasi Mooi Garoet dibentuk oleh Bupati Tg. M. Soeria-Kartalegawa. Jika mengacu pada tanggal pembuatan berita tahun 1934, bupati yang dimaksud adalah RAA Muh. Musa Suria Kartalegawa (1929-1944).
Asosiasi ini dibentuk setelah pemerintah mendapatkan gambaran dari Hoogland, seorang warga Belanda yang menjabat Ketua Bandoeng Vooruit-sebuah perkumpulan pariwisata modern pada zamannya yang didirikan di Bandung pada 17 Februari 1925.
“Pujian juga pantas diberikan kepada Bapak Hoogland, Ketua Asosiasi Bandoeng Vooruit, karena beliau datang ke Garoet malam itu khusus untuk memberikan nasihat kepada asosiasi yang baru didirikan ini,” tulis koran tersebut dalam Bahasa Belanda.
Pada saat itu, minat terhadap pertemuan ini dilaporkan cukup tinggi. Selain para petinggi Garut, ada sekitar 30 orang dari berbagai entitas yang diundang bupati untuk menghadiri acara tersebut. Setelah diputuskan melalui pemungutan suara umum, akhirnya Asosiasi Mooi Garoet resmi didirikan.
Bupati Garut bertindak sebagai ketua asosiasi. Sedangkan jabatan sekretaris dan bendahara dijabat oleh De Groot dan Holthuis. Kemudian ada Weissenborn dan Hacks yang menjabat sebagai komisaris. Mereka diberikan wewenang untuk mengajukan permohonan pembentukan badan hukum bagi asosiasi tersebut.
Dari nama-nama tersebut, selain RAA Muh. Musa Soeria Kartalegawa, ada satu nama lagi yang tidak asing di kalangan warga Garut pencinta sejarah. Dia adalah Thilly Weissenborn, sang komisaris.
Thilly merupakan fotografer ternama pada zamannya di Garut. Sejarah mencatat, Thilly adalah pemilik Apotek Garut dan studio Foto Lux yang sangat masyhur saat itu. Karya foto-fotonya yang memukau bahkan masih banyak ditemukan di dunia maya hingga kini.
Selain Soerabaijasch Handelsblad, koran Belanda lainnya, de Locomotief, juga memuat laporan serupa pada tanggal yang sama. Dari laporan de Locomotief diketahui bahwa asosiasi ini memiliki segudang misi.
“Asosiasi ini bertujuan untuk mempromosikan kepentingan Garoet dalam arti seluas-luasnya dan berharap dapat mencapai tujuan ini dengan meningkatkan kesadaran akan wilayah yang sangat indah, memerangi segala kemungkinan penyalahgunaan, mempromosikan pariwisata dan mempromosikan Garoet sebagai tempat tinggal dengan menyoroti kondisi kehidupan yang terjangkau dan iklim yang sangat indah,” katanya.
Deretan Tokoh Dunia yang Pernah Kepincut Garut
Sebelum asosiasi ini didirikan, Garut memang sudah mendapatkan tempat di hati para pelancong, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Beberapa nama tokoh dunia yang tersohor di zamannya dilaporkan pernah berkunjung ke Garut.
Adipati Agung Franz Ferdinand, misalnya. Dalam laporan koran Belanda, Het Vaderland yang terbit tanggal 11 April 1893, disebutkan bahwa pewaris takhta Kerajaan Austria-Hongaria yang diproyeksikan menggantikan sang ayah, Adipati Agung Karl Ludwig, sempat melancong ke Hindia Belanda dan berkunjung ke Garut.
Menurut laporan tersebut, jauh sebelum menjadi tokoh yang diperbincangkan akibat pembunuhan dirinya di Sarajevo pada 1914 yang memicu Perang Dunia I, Franz Ferdinand sempat menyambangi Gunung Papandayan dan Situ Bagendit.
“Pagi ini sangat ramai di Tandjong Priok, ketika Archduke Franz Ferdinand tiba di sana dan berkendara ke Weltevreden pada pukul setengah sepuluh dengan kereta Gubernur Jenderal. Rabu pergi ke Garut, di perjalanan ada jeda di Bandung. Kamis, perjalanan dilakukan ke Papandayan, Jumat ke Danau Bagendit. Sore hari Archduke akan pergi ke Cianjur dan pada hari Sabtu berburu rusa,” katanya.
Nama lainnya yang pernah berkunjung ke Garut adalah Phra Bat Somdet Phra Poramintharamaha Chulalongkorn Phra Chunla Chom Klao Chao Yu Ha, Phra Chulachomklao Chaoyuhua alias Chulalongkorn, atau Rama V, seorang raja dari Thailand yang dulu bernama Kerajaan Siam.
Menurut sejarawan Garut, Warjita, Chulalongkorn datang dua kali ke Garut. “Beliau datang ke Garut itu sekitar tahun 1896 dan 1901,” katanya.
Dalam laporan Algemeen Handelsblad yang terbit 7 Februari 1928, kedatangan Raja Siam ke Indonesia 30 tahun sebelumnya sangat berkesan di benak masyarakat. Chulalongkorn dianggap sebagai raja asing pertama yang menginjakkan kaki di tanah Jawa.
“Perjalanan itu memberikan kesan mendalam bagi banyak orang. Begitu dalam, sehingga kunjungan itu masih banyak dibicarakan bertahun-tahun kemudian,” ungkap Algemeen Handelsblad yang saat itu memuat berita rencana kedatangan kembali King Chulalongkorn ke Indonesia di tahun tersebut.
Tidak hanya para raja dan penguasa negara, deretan artis ternama dunia juga pernah menginjakkan kaki di Garut. Di antaranya adalah Renate Muller, penyanyi berbakat berkebangsaan Jerman yang populer di era tahun 1900-an.
Memang tidak banyak referensi yang didapat berkaitan dengan kunjungan Renate Muller ke Garut. Namun menurut sejarawan Warjita, salah satu tempat yang dikunjungi Renate Muller adalah Hotel Ngamplang, yang pada zamannya sangat populer di Garut.
“Sebelum Charlie Chaplin datang ke Ngamplang, Renate Muller sudah lebih dahulu ke sini,” ucap Warjita.
Nama terakhir adalah sosok yang paling diingat dan dianggap paling ikonik. Dia adalah Charlie Chaplin. Nama Chaplin begitu akrab karena gayanya yang nyentrik. ‘Si Aktor Bisu’ itu dilaporkan dua kali berkunjung ke Garut.
Terdapat dua versi mengenai waktu kedatangan pertamanya. Ada sumber yang menyebut Charlie datang pada tahun 1927, namun ada pula yang menyebut tahun 1932. Yang jelas, kedatangan kedua Charlie Chaplin ke Garut terjadi pada tahun 1936.
Charlie Chaplin berkunjung ke Garut menggunakan kereta api lokomotif. Fotonya saat berpose di sebuah tempat yang diyakini sebagai Stasiun Garut tetap abadi dan masih bisa disaksikan hingga saat ini.
Di Garut, Charlie Chaplin dikabarkan sempat menginap di Grand Hotel Ngamplang yang legendaris, serta Hotel Papandayan yang saat ini lokasinya menjadi Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0611/Garut, persis di samping bangunan Stasiun Garut.
Video Respons Dedi Mulyadi soal Warga Garut Diduga Diintimidasi Anak Kades“
