Bayangkan bumi yang sunyi, tanpa derap langkah maupun riuh percakapan manusia. Kekosongan itu justru diisi oleh benda-benda kecil yang akrab di masa kanak-kanak. Gambaran fiksi ini hadir dalam pameran seni bertajuk Toyscapes After Us di Hybridium Art Gallery & Cafe, Jalan Dago Giri 101, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Pameran tunggal seniman Hilman Hendarsyah ini berlangsung sejak 22 November hingga 3 Januari 2026 di bawah arahan kurator Axel Ridzky. Berbeda dari galeri konvensional, Toyscapes After Us menyuguhkan pengalaman menikmati karya mulai pukul 12.00 WIB hingga 17.00 WIB, menangkap transisi suasana dari terik siang menuju syahdu sore hari di kawasan Lembang.
Lewat karyanya, Hilman membangun dunia alternatif; sebuah imajinasi tentang bumi yang ditinggalkan manusia dan kini dihuni boneka serta figur plastik. Bak semesta Toy Story, benda-benda mati itu seolah bernapas, bergerak, dan mencoba mengisi kekosongan peradaban yang telah ditinggalkan.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Namun, pameran ini bukan sekadar nostalgia. Hilman menyisipkan lapisan makna mendalam dengan merespons karya maestro seperti Raden Saleh hingga Martin Johnson. Ia memadukan sejarah seni rupa dengan elemen mainan, menciptakan kontras tajam antara ingatan kolektif dan masa depan yang rapuh.
Keunikan ini memikat pengunjung, salah satunya Alifa. Datang bersama pasangannya, ia mengaku terkesan dengan atmosfer yang dibangun. “Tempatnya nyaman dan konsepnya keren, setiap sudut terasa penuh cerita,” ungkapnya kepada infoJabar.
Dengan pencahayaan temaram dan ruang yang intim, Toyscapes After Us menawarkan pengalaman kontemplatif. Pameran ini mengajak pengunjung merefleksikan kembali keberadaan manusia, relasinya dengan benda, serta jejak yang tersisa saat manusia tak lagi menjadi pusat dunia.
“Karya-karya di sini seperti berbisik, namun tetap terasa menusuk,” tulis keterangan kurator yang terpampang di ruang pamer.
Narasi tersebut menegaskan sebuah pesan satir: bahwa dunia tidak menunggu manusia, dan apa yang kelak menggantikan peran kita mungkin hanyalah benda-benda kecil yang dulu pernah menjadi teman bermain, lalu terlupakan.







