Ciamis –
Di sudut Lingkungan Janggala, Kelurahan Ciamis, senyum merekah di wajah Eben (67). Lansia yang bekerja serabutan ini akhirnya bisa bernapas lega setelah rumahnya yang ambruk akibat cuaca ekstrem dan bangunan lapuk, perlahan kembali berdiri.
Sebulan lalu, hujan deras dan angin kencang merobohkan rumah tua yang ia huni selama puluhan tahun. Kayu penyangga yang lapuk tak lagi mampu menahan beban hingga tempat berteduh Eben dan cucunya itu rata dengan tanah.
Senin (2/2/2026), suara palu dan adukan semen kembali terdengar. Rumah Eben dibangun ulang bukan dari bantuan besar pemerintah, melainkan dari uang kencleng warga yang dihimpun melalui program ‘Satu Bulan Satu Rutilahu’ oleh Unit Pengelola Zakat (UPZ) Kelurahan Ciamis.
Program ini sederhana namun berdampak nyata, infak kencleng dari warga satu kelurahan dikumpulkan setiap bulan untuk memperbaiki satu rumah tidak layak huni (rutilahu), termasuk milik Eben.
“Rumah saya ambruk sekitar satu bulan lalu. Memang sudah tua, usang, dan lapuk. Pas hujan dan angin langsung roboh,” ujar Eben.
Ia tinggal berdua dengan cucunya. Selama perbaikan, Eben menumpang di rumah anaknya yang tak jauh dari lokasi. Ironisnya, kondisi rumah sang anak pun hampir serupa, tua dan mulai rapuh.
“Sekarang sementara tinggal di rumah anak saya. Nunggu rumah ini selesai diperbaiki supaya bisa ditempati lagi,” katanya.
Eben, lansia di Ciamis yang rumahnya sempat ambruk kini senang karena rumahnya dapat berdiri lagi. (Foto: Dadang Hermansyah/) |
Pembangunan rumah Eben dilakukan secara swadaya dengan melibatkan warga sekitar. Bagi Eben, bantuan ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan harapan untuk hidup lebih layak.
“Terima kasih banyak. Bantuan ini sangat bermanfaat buat saya dan keluarga,” tuturnya.
Bendahara UPZ Kelurahan Ciamis, Anen Suhendi, menjelaskan gerakan infak kencleng ini melibatkan 32 RW. Lantaran masih banyak rutilahu, UPZ memfokuskan program ini selama satu tahun penuh untuk perbaikan hunian warga.
“Target kami satu bulan satu rutilahu dengan anggaran sekitar Rp 10 juta. Program ini sudah berjalan sejak Desember 2025 dan Januari 2026. Artinya, sudah dua rumah yang kami bantu,” kata Anen.
Menariknya, kepercayaan masyarakat meningkat pesat seiring berjalannya program. Awalnya, dana kencleng hanya terkumpul sekitar Rp 2 juta per bulan, namun kini jumlahnya melonjak drastis.
“Sekarang bisa tembus Rp 20 sampai Rp 21 juta per bulan. Alhamdulillah, antusias masyarakat luar biasa,” ujarnya.
Lurah Ciamis, Muhlaso, mengapresiasi kekompakan warga dan kinerja UPZ Kelurahan Ciamis. Ia menilai program ini menjadi contoh nyata gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Terima kasih kepada warga Kelurahan Ciamis yang terus berpartisipasi dalam gerakan infak kencleng. Juga kepada UPZ yang sudah mencurahkan waktu dan pikirannya untuk masyarakat,” pungkasnya.








