Terungkap Asal-usul Gelombang Setinggi 20 Meter di Lautan

Posted on

Bandung

Para peneliti akhirnya mengungkap asal-usul gelombang raksasa atau rogue waves, yakni ombak laut ekstrem yang dapat muncul mendadak dengan ketinggian lebih dari dua kali gelombang normal di sekitarnya, bahkan bisa melampaui 20 meter.

Fenomena yang selama puluhan tahun dianggap sekadar mitos di kalangan pelaut ini kini terbukti nyata secara ilmiah. Sebuah riset skala besar menunjukkan bahwa gelombang raksasa bukanlah anomali misterius, melainkan konsekuensi alami dari dinamika fisika laut.

Temuan tersebut dimuat dalam jurnal Scientific Reports, berdasarkan analisis sekitar 27.500 rekaman gelombang laut yang dikumpulkan selama 18 tahun, dari 2003 hingga 2020. Data itu berasal dari perairan Laut Utara di sekitar platform minyak Ekofisk. Hasilnya mengungkap bahwa kemunculan gelombang raksasa dipicu oleh pertemuan dan penumpukan beberapa gelombang pada momen yang bersamaan, bukan oleh faktor supranatural atau mekanisme langka.

Peneliti utama studi ini, Dr. Francesco Fedele, seorang matematikawan terapan dan profesor madya di School of Civil and Environmental Engineering, Georgia Institute of Technology, menegaskan bahwa temuan tersebut merevisi cara pandang lama tentang ombak ekstrem.

“Gelombang liar tetap tunduk pada hukum fisika laut. Mereka bukan pengecualian, dan ini merupakan bukti lapangan paling kuat sejauh ini,” kata Fedele, sebagaimana dikutip dari Science Alert.

Dalam penelitian itu, tim juga menemukan bahwa teori yang selama ini populer-yakni modulational instability, proses pengumpulan energi yang menyebabkan satu gelombang tumbuh sangat besar-ternyata tidak berperan dominan di lautan terbuka. Berbeda dengan kondisi laboratorium, gelombang di laut lepas menyebar ke berbagai arah, sehingga interaksinya jauh lebih kompleks.

Sebaliknya, para ilmuwan menyimpulkan bahwa gelombang raksasa lebih sering terbentuk melalui dua mekanisme fisika yang relatif sederhana. Pertama, interferensi konstruktif, ketika beberapa gelombang kecil bertemu secara bersamaan dan saling memperkuat hingga membentuk puncak yang jauh lebih tinggi. Kedua, ketidaksimetrian bentuk gelombang, di mana bagian puncak lebih curam sementara lembahnya lebih landai, sehingga efek penumpukan menjadi semakin kuat.

Kombinasi kedua proses tersebut menghasilkan pola gelombang ekstrem yang disebut quasi-deterministik. Artinya, meski masih mengandung unsur acak, kemunculannya tetap mengikuti pola fisika tertentu yang bisa dipahami dan dianalisis secara statistik berdasarkan data nyata.

Temuan ini memiliki implikasi penting, tidak hanya bagi ilmu kelautan, tetapi juga untuk keselamatan pelayaran dan perlindungan infrastruktur lepas pantai. Selama ini, banyak model prakiraan gelombang dan perancangan kapal menganggap gelombang raksasa sebagai kejadian sangat jarang dan sulit diprediksi. Dengan pemahaman baru ini, sistem prediksi dan peringatan dini berpeluang ditingkatkan, sehingga risiko kerusakan dan kecelakaan akibat ombak ekstrem dapat ditekan.