Kematian Tragis Lani di Sawah Sukabumi

Posted on

Sukabumi

Rentetan peristiwa mengerikan mengguncang Desa Cikaranggeusan, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, pada Kamis (12/2/2024). Bermula dari penganiayaan sadis pada dini hari, peristiwa ini berujung pada penemuan mayat pelaku dalam kondisi mengenaskan.

Lani (64), pria yang sebelumnya dilaporkan mengamuk dan menganiaya tetangganya bernama Sani, ditemukan meninggal dunia di kubangan sawah. Tubuhnya ditemukan dalam kondisi terikat tali, yang memicu dugaan kuat adanya aksi main hakim sendiri oleh massa yang geram.

Kepala Desa Cikaranggeusan, Supriyatno, menceritakan detik-detik mencekam pagi itu. Ia mengaku awalnya menerima laporan warga mengenai aksi brutal Lani terhadap Sani.

“Ada kadus (Kepala Dusun) yang lapor ke rumah saya sekitar jam 6.40 WIB. Ada orang katanya, Bapak Sani, dipukulin, dianiaya sama Bapak Lani,” kata Supriyatno.

Supriyatno segera mendatangi lokasi Sani dan mendapati korban dalam kondisi kritis akibat hantaman benda tajam berupa cangkul.

“Ternyata orang tersebut itu Bapak Sani teh memang ripuh, repot. Di sini ada benjolan, di sini pinggangnya, dan ini apa perut ya,” ujar Supriyatno menggambarkan kondisi korban.

Namun, saat hendak mengevakuasi Sani ke rumah sakit, Supriyatno justru menemukan Lani, terduga pelaku penganiayaan, sudah tak bernyawa di tengah jalan.

“Setelah di jalan, saya melihat tergeletak Bapak Lani. Saya lihat, didekatin Pak, didekatin ternyata udah enggak ada nyawanya, Pak. Udah meninggal,” ucap Supriyatno.

Ia juga memastikan kondisi jenazah tersebut saat pertama kali ditemukan olehnya di lokasi kejadian.

“Yang ditemukan itu tergeletak mayat dan terikat. Kondisinya sudah tidak bernapas. Saya enggak pegang, enggak pegang. Cuman dekat ke sini aja gitu,” tambahnya.

Tangis Habul Melihat Ayahnya Terikat

Habul Hamid, anak Lani, tak kuasa menahan tangis saat tiba di lokasi kejadian. Ia mendapati ayahnya diperlakukan secara tidak manusiawi sebelum mengembuskan napas terakhir.

“Posisi waktu itu tergeletak di sawah, tangan diikat, kaki diikat. Matanya ada yang tutup-tutupnya gitu, pakai tutup. Mungkin pakai plastik apa kain lah, enggak tahu sejenis itu,” ungkap Habul.

Habul juga melihat tanda-tanda kekerasan fisik yang cukup parah pada jasad ayahnya tersebut.

“Kira-kira itu kelihatan dari secara mata saya ya, memar di muka. Di belakang kepalanya lembek, dan (ada) luka-luka serius,” tuturnya.

Ia menduga kuat ayahnya dikeroyok menggunakan benda tumpul oleh massa. “Ya kemungkinan bisa terjadi (pakai benda tumpul), karena di sekitar juga ada bekas pemukulan kayu-kayu seperti pohon singkong lah ada,” jelas Habul.

Polisi Tetapkan 7 Tersangka

Merespons kejadian ini, Polres Sukabumi bergerak cepat. Kapolres Sukabumi AKBP Samian menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak memberikan ruang bagi aksi main hakim sendiri.

“Kami tidak menoleransi aksi main hakim sendiri. Setelah menerima laporan, tim diterjunkan ke lokasi untuk meredam situasi dan mengamankan individu-individu yang diduga terlibat guna mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum,” tegas Samian.

Satreskrim Polres Sukabumi akhirnya mengamankan tujuh orang berinisial DS, UK, MS, RS, SH, DP, dan JJ yang diduga melakukan pengeroyokan hingga Lani tewas.

“Kami pastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur. Kami meminta warga untuk memercayakan penanganan kasus ini kepada kepolisian dan tidak melakukan tindakan melanggar hukum lainnya,” ujar Kasatreskrim Polres Sukabumi AKP Hartono.

Riwayat Gangguan Jiwa

Di balik tragedi berdarah ini, terungkap fakta bahwa Lani memiliki riwayat gangguan jiwa atau skizofrenia selama bertahun-tahun. Namun, proses pengobatannya dilaporkan sering terputus.

“Iya betul, sesuai itu (Skizofrenia). Kondisi kejiwaannya terganggu sudah lama, 2 sampai 3 tahun lah, tapi jelasnya ke Puskesmas sajalah,” jelas Kades Supriyatno.

Supriyatno menyayangkan sikap keluarga yang kerap membawa Lani pulang secara paksa saat sedang menjalani perawatan medis. “Dia mengaku ‘saya mah enggak sakit, saya mah normal’. Di rumah sakit jiwa dikeluarkan (sebelum waktunya), dibawa pulang sama anaknya. Sudah dua kali dicabut (perawatannya) sama anaknya,” ungkap Supriyatno.

Halaman 2 dari 2