Sungai Cikapundung pernah menjadi “halaman belakang” Kota Bandung yang terabaikan. Bantaran sungai dipenuhi pemukiman warga yang berdiri rapat, sebagian besar tanpa izin. Alih-alih menjadi sumber kehidupan, sungai justru dipunggungi dan kerap diasosiasikan sebagai tempat pembuangan.
“Dulu di sini banyak rumah-rumah warga, bangunan liar. Di sebelah ada kolam buat mancing, yang atas juga kebun sama rumah,” ujar Mumuh (27), petugas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum yang kini bertugas di kawasan tersebut.
Kondisi itulah yang membentuk wajah Sungai Cikapundung sebelum berubah menjadi kawasan yang kini dikenal sebagai Teras Cikapundung.
Perubahan itu bermula dari kesadaran komunitas lingkungan terhadap kondisi sungai. Pada 2008, sejumlah pegiat yang tergabung dalam Komunitas Cikapundung mulai bergerak. Mereka tak hanya membersihkan sungai, tetapi membawa gagasan yang lebih besar, mengembalikan fungsi sungai sebagai ruang hidup sekaligus ruang belajar bagi publik.
“Tujuan pembangunan ini buat ruang edukasi publik tentang sungai Cikapundung,” kata Mumuh.
“Supaya masyarakat tahu, sungai itu bukan cuma tempat buang sampah atau tinja. Sungai masih bisa dipakai buat bermain, buat kegiatan,” katanya menambahkan.
Gagasan tersebut kemudian bertemu dengan kebijakan pemerintah. BBWS Citarum bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung untuk menata ulang kawasan bantaran sungai. Prosesnya tidak instan dan berlangsung lintas periode pemerintahan.
Pembangunan awal dilakukan pada masa Wali Kota Bandung Dada Rosada, lalu dilanjutkan hingga diresmikan pada era Ridwan Kamil. Dalam proses itu, Ridwan Kamil terlibat langsung dalam penyusunan konsep dan desain kawasan.
“Iya, desainnya dari Pak Ridwan Kamil,” ujar Mumuh singkat.
Setelah melalui proses penataan yang panjang, Teras Cikapundung resmi dibuka pada 2016. Peresmian tersebut menandai babak baru Sungai Cikapundung, dari kawasan padat permukiman menjadi ruang terbuka hijau yang dapat diakses publik.
Pada masa awal beroperasi, kawasan ini dipenuhi berbagai aktivitas berbasis sungai. Arung jeram, tubing, hingga rafting sempat menjadi daya tarik utama. Selain itu, fungsi edukasi berjalan secara tidak langsung melalui interaksi warga dengan sungai.
“Dulu ada arung jeram, rafting juga. Kegiatannya banyak,” ujar Mumuh.
Kehadiran berbagai aktivitas tersebut menjadikan Teras Cikapundung sebagai salah satu ikon ruang publik baru di Bandung. Kawasan ini ramai dikunjungi warga, komunitas, hingga wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda di tengah kota.
Namun, perjalanan Teras Cikapundung tidak selalu berjalan mulus. Seiring waktu, aktivitas mulai berkurang. Kondisi itu semakin terasa saat pandemi Covid-19 melanda. Sejak periode tersebut, jumlah pengunjung menurun drastis, sejumlah kegiatan berhenti, dan pengelolaan kawasan tidak lagi seaktif sebelumnya.
“Kalau mulai sepinya ya pas Covid, kalau sekarang paling ya bisa dihitung jari, banyak orang yang pengelolanya juga udah ga aktif,” kata Mumuh.
Meski demikian, Teras Cikapundung belum sepenuhnya kehilangan denyut aktivitas. Pada akhir pekan, kawasan ini masih didatangi warga, terutama untuk kegiatan olahraga.
“Kalo Sabtu Minggu disini ada senam pagi, rutin tiap hari Selasa, Jumat, Sabtu, Minggu. Dari warga-warga sekitar sini ada, yang dari luar juga ada,” ucapnya.
Secara fisik, Teras Cikapundung masih berdiri sebagai ruang terbuka publik di tengah kota. Meski tak seramai masa awal peresmian, upaya perawatan tetap dilakukan agar kawasan ini tidak kembali terbengkalai.
“Kita juga selalu berupaya, perawatan selalu ada tiap tahunnya, kayak air mancur kita lagi di betulin lagi sama fasilitas-fasilitas yang lain. Mungkin kayak kursi gitu yang udah rusak kita betulin lagi,” ujar Mumuh.
Kini, Teras Cikapundung berada di persimpangan antara memori kejayaan masa lalu dan harapan untuk kembali hidup. Sungai yang dulu dipunggungi, setidaknya telah membuktikan bahwa ruang kota bisa berubah.
