Raut wajah bahagia terpancar dari para siswa SMP 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, ketika perwakilan dari tiga universitas menggelar beragam aktivitas olahraga dan permainan edukatif di lingkungan sekolah. Tawa dan sorak sorai siswa memecah suasana, seolah menyingkirkan kekhawatiran yang selama ini membayangi mereka.
Padahal, cuaca buruk tengah melanda kawasan tersebut. Hujan disertai angin kencang menyelimuti wilayah Sukaresmi. Namun kondisi itu tak menyurutkan semangat para siswa dan guru untuk tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh keceriaan.
Biasanya, cuaca ekstrem justru memicu kecemasan di kalangan siswa. Maklum, wilayah sekitar SMP 3 Sukaresmi dikenal sebagai daerah rawan bencana, mulai dari longsor hingga pergerakan tanah. Ketakutan akan bencana kerap menghantui aktivitas belajar mereka.
Namun pada hari itu, rasa cemas seolah tergantikan oleh kegembiraan. Berbagai permainan dan aktivitas fisik yang dirancang khusus membuat suasana belajar menjadi lebih ringan dan menyenangkan.
Salah seorang siswa, Zahra Maharani, mengaku kegiatan tersebut membuatnya melupakan trauma yang selama ini ia rasakan akibat bencana alam di sekitarnya.
“Tadi menyenangkan, kegiatan olahraga di sekolah. Tapi ada permainan yang mengenyangkan. Jadi lupa dengan trauma bencana,” kata dia, Minggu (25/1/2026).
Tak hanya para siswa yang merasakan manfaatnya. Para guru, khususnya guru olahraga, juga mendapatkan pembinaan dan edukasi terkait metode pembelajaran yang lebih menyenangkan dan berorientasi pada kesehatan mental siswa.
“Tadi siswa kami diajak untuk melakukan aktivitas yang menyangkan untuk trauma healing, dan kami guru-gurunya diajarkan bagaimana metode mengajar olahraga yang tidak hanya menjaga kebugaran tapi memberikan kebahagiaan,” ungkap Aep Saepudin, guru olahraga SMP 3 Sukaresmi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program trauma healing dan pembinaan guru olahraga yang digelar oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan UTM Malaysia dan Universitas Suryakancana Cianjur.
Pemilihan SMP 3 Sukaresmi bukan tanpa alasan. Tingginya risiko bencana di kawasan tersebut membuat anak-anak rentan mengalami trauma berkepanjangan jika tidak ditangani secara tepat.
“Kegiatan ini merupakan Community Development Program Equity-nya UNJ yang tiga universitas. Ini juga sekaligus Sustainable Development Goals, SDGs, terutama ini SDGs ke-3 yang terkait dengan health and well-being dan SDGs ke-4 yang terkait dengan pendidikan berkualitas atau quality education,” ujar Dr Yassab Setiakarna Wijaya, Direktur Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Jakarta.
Menurutnya, siswa yang tinggal di daerah rawan bencana, terutama penyintas bencana, kerap tidak menyadari bahwa mereka mengalami trauma psikologis yang berkepanjangan.
“Ada yang memang merasa mengksami trauma, sehingga memunculkan kekhawatiran, ada juga yang tidak sadar mereka alami trauma. Dan tentu ini perlu ditangani traumanyas upaya tidak berkepanjangan, makanya dilakukan kegiatan ini,” kata dia.
Melalui pendekatan berbasis aktivitas fisik yang menyenangkan, para siswa diajak menumbuhkan kembali rasa bahagia sekaligus mengurangi dampak trauma yang mereka alami.
“Kami juga edukasi para siswa untuk sigap dan siap saat terjadi bencana, baik longsor, pergerakan tanah, ataupun gempa bumi yang pada 2022 lalu mengguncang Cianjur,” katanya.
Selain itu, pembinaan juga difokuskan kepada para guru olahraga agar mampu menciptakan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada kebugaran fisik, tetapi juga kesehatan mental siswa.
“Jadi penting bagi guru olahraga di daerah rawan bencana untuk tidak sebatas menjaga kebugaran siswanya. Tetapi bagaimana metode ajarnya juga menyenangkan, sehingga siswa secara fisik sehat dan mental juga sehat,” kata dia.
Ke depan, tim dari ketiga universitas berencana kembali ke SMP 3 Sukaresmi untuk melakukan evaluasi dan pemantauan lanjutan.
“Kami uji berdasarkan berbagai indikator, bagaimana metode ajarnya teraplikasikan dan tingkat kebahagiaan siswanya. Tentu dengan beragam indikator yang sudah disiapkan,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Zulqarnain Mohd Nasir, dosen dari UTM Malaysia, menyebut metode trauma healing dan pembelajaran olahraga yang diterapkan di Cianjur akan dijadikan contoh untuk pengembangan program serupa di negaranya.
“Di Malaysia dari sejak diri sudah diedukasi tentang kesiagaan bencana. Tapi juga ada hal yang kami belajar dari sini terkait metode ajar dan trauma healing yang nantinya dapat diterapkan di Malaysia,” katanya.
