Tangis Vina Gadis Cirebon Terjebak Jerat Pengantin Pesanan di China

Posted on

Cirebon

Isak tangis seorang perempuan muda memecah kesunyian jagat maya pada Jumat (27/2/2026). Di balik layar ponsel yang berpendar, wajah Vina tampak sembab. Ia bukan sedang mencari popularitas, melainkan sedang mempertaruhkan nyawa, mengirimkan pesan darurat dari daratan China yang jauh.

Vina, gadis asal Kabupaten Cirebon, kini terjebak dalam labirin gelap yang dikenal sebagai praktik “pengantin pesanan”. Tanpa dokumen di tangan dan ruang gerak yang terkunci, ia hanya memiliki keberanian untuk merekam sebuah video singkat yang kini viral di Instagram.

Dalam rekaman yang menggetarkan hati itu, Vina secara khusus mengetuk pintu hati Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Suaranya bergetar, menahan beban ketakutan yang luar biasa.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yang terhormat Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi. Perkenalkan, nama saya Fitna, saya dari Cirebon. Saya sedang berada di China saat ini,” ucapnya dalam video tersebut.

Penderitaan Vina bukan sekadar rindu kampung halaman. Ia mengaku menjadi tawanan di negeri orang. Seluruh identitasnya dirampas, dan tubuhnya menjadi sasaran kekerasan fisik.

“Saya telah menjadi korban pengantin pesanan oleh sesama WNI. Mereka mengambil dan menahan semua berkas saya, termasuk paspor saya,” katanya.

Luka cerita ini bermula dari gemerlap kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Kuasa hukum Vina dari YLBHI Garuda Sakti, Asep Maulana Hasanudin, menceritakan bagaimana jerat itu mulai dipasang. Saat bekerja di sana, Vina tanpa sadar telah menjadi target.

“Awalnya Vina bekerja di Jakarta, di salah satu tempat di PIK. Kemudian, Vina itu diam-diam difoto oleh orang Tiongkok,” ujar Asep saat ditemui di Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jumat (27/2/2026).

Foto itu rupanya menjadi pintu masuk. Tak lama berselang, seorang pria warga negara asing asal China bersama komplotannya mulai mendatangi kediaman Vina di Desa Gombang. Tak tanggung-tanggung, mereka datang hingga empat kali untuk meyakinkan keluarga.

Pada kunjungan awal, suasana tampak seperti perkenalan biasa. Rombongan itu melibatkan beberapa warga negara China seperti Liu Guanggun, Zhang Haibi, dan Wang Jun, serta didampingi seorang WNI bernama Nisa Herman Susi.

Keseriusan palsu mulai ditunjukkan pada kunjungan kedua. Wang Jun diperkenalkan sebagai calon suami, didampingi ayahnya, Wang Yujun. Puncaknya terjadi pada 5 Agustus 2025, saat rombongan datang membawa mahar, sebuah simbol pengikat yang ternyata menjadi awal petaka.

“Yang keempat ini tujuannya memberikan mahar,” kata Asep.

Vina, yang lahir pada 21 Agustus 1999, adalah seorang yatim piatu. Ia tumbuh besar di bawah asuhan pamannya, Samija. Di tengah himpitan ekonomi, janji-janji manis tentang mahar besar dan kiriman uang bulanan menjadi oase yang mematikan.

“Dia dijanjikan mahar dan uang kiriman bulanan untuk keluarganya di Indonesia. Karena kondisi ekonomi, akhirnya Vina tertarik,” ujar Asep menjelaskan alasan kliennya tergiur.

Hanya berselang dua hari setelah mahar diterima, tepatnya 7 Agustus 2025, Vina diterbangkan ke China. Namun, alih-alih menemukan kehidupan yang lebih baik, ia justru mendarat di sebuah mimpi buruk yang nyata.

Kejanggalan mulai terkuak saat Vina menetap di sana. Wang Jun, pria yang semula tampak normal dan pendiam saat di Cirebon, menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan.

“Di Tiongkok dia baru sadar ternyata Wang Jun ini sering bergerak sendiri dan berbicara sendiri. Padahal waktu di sini terlihat normal karena hanya diam saja,” kata Asep.

Janji tinggal janji. Pernikahan secara Islam yang dijanjikan tak pernah ada, begitu pula dengan kiriman uang untuk keluarga di Cirebon. Vina justru terisolasi, mengalami kekerasan, dan kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri karena paspornya ditahan.

Kini, keluarga di Desa Gombang hanya bisa berharap pada keajaiban diplomasi. Melalui kuasa hukumnya, mereka memohon agar pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan menjemput Vina.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa modus “pengantin pesanan” masih menjadi ancaman nyata bagi perempuan yang terhimpit ekonomi. Keluarga berharap, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak membiarkan Vina berjuang sendirian di negeri orang, dan segera memulangkannya ke pelukan tanah air.