Bandung –
Sore merayap pelan di riuhnya Kota Bandung. Matahari yang beranjak pulang menebar cahaya ke celah-celah kota yang dipadati kendaraan. Jalan Merdeka seperti denyut nadi yang tak pernah berhenti. Suara klakson, obrolan anak sekolah, dan lalu lintas yang saling mendesak memenuhi udara.
Di tengah gemuruh itu, ada ruang tenang yang enggan berubah, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution. Ia berdiri bagai napas lama kota yang tak pernah tergerus waktu. Saat langkah kaki memasuki halaman hijau itu, ritme kota seolah berubah. Angin lembut menyentuh kulit, pepohonan rimbun yang saling bersentuhan, dan burung-burung berkicau seolah menyambut desir angin yang membelai dedaunan.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Tempat ini seperti bagian lain dari Bandung yang bergerak perlahan dengan nadanya sendiri. Tak banyak yang berubah di sini. Kolam itu masih ada, memantulkan cahaya sore yang lembut. Perosotan masih berdiri menunggu giliran anak-anak yang berlari kecil tanpa beban. Gerbong-gerbong kereta masih setia mengitari jalurnya, membawa penumpang kecil berkeliling dalam putaran yang sederhana.
Di rumput hijau, Sari (40) dan teman-temannya duduk berbincang sambil memperhatikan gerak taman itu. Baginya, taman ini bukan hanya ruang publik biasa. Taman ini seperti menyimpan ingatan kolektif banyak orang. “Cocok aja untuk bernostalgia buat generasi milenial kayak saya,” ujar Sari kepada belum lama ini.
Nostalgia itu terasa bukan karena taman ini membeku di masa lalu, melainkan karena ia tumbuh tanpa menghapus jejak-jejak lamanya. Jalur sepeda masih mengular, sementara rambu-rambu lalu lintas tetap berdiri sebagai penanda kecil dunia.
Menurut Sari, kondisi Taman Lalu Lintas cukup baik untuk sarana belajar anak, sekaligus menjadi ruang jeda bagi orang tua untuk bersantai dan bernostalgia. Hal itu didukung oleh fasilitas yang memadai, seperti toilet, tempat salat, hingga area bermain yang luas.
Kondisi Taman Lalu Lintas Bandung, Jumat (6/2/2026) Foto: Gheyna Sabila Z/ |
Ia tidak salah menilai itu. Taman ini memang tak banyak berubah. Rambu-rambu lalu lintas yang pernah menjadi panduan kecil anak-anak kini masih berdiri, mematung seperti poster masa lalu yang tak pernah benar-benar pudar. Tiap jalur dan tiap sudut membawa jejak-jejak permainan sepeda serta tawa yang tak lekang oleh waktu. “Penting banget,” kata Sari, ketika ditanya soal keberadaan taman seperti ini dalam kehidupan anak-anak sekarang.
“Generasi sekarang banyak main gadget. Sesekali anak perlu ruang yang luas, yang memberinya wawasan soal lingkungan, transportasi, dan kebersamaan keluarga.” lanjutnya.
Bagi generasi yang lahir di penghujung 2000-an, tempat ini pernah menjadi medan kecil untuk belajar kehidupan; memahami rambu, mengenal marka, hingga belajar kapan harus berhenti dan berjalan. Di salah satu sudut taman, Regan Rasendria (17) mengingat kembali kunjungan masa kecilnya. “Tempat yang ngingetin saya waktu kecil itu ya Taman Lalu Lintas,” katanya.
Ia pertama kali datang saat berusia sekitar 10 tahun. Kenangannya bukan hanya satu hal, melainkan rangkaian pengalaman sederhana, bermain sepeda di jalurnya, naik kereta-keretaan, lalu mempelajari rambu-rambu serta tanda-tanda lalu lintas.
“Yang paling saya kenang itu bermain sepeda di jalur dan belajar rambu-rambu lalu lintas. Itu bukan hanya permainan, tapi pelajaran kecil yang saya ingat sampai sekarang,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah ia ingin kembali membawa anak atau saudaranya ke tempat ini suatu hari nanti, Regan mengangguk pelan. “Pengen banget. Tempatnya nyaman, dan membuat saya ingin melihat generasi baru merasakan hal yang dulu saya rasakan,” katanya.
Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution bukan sekadar taman. Ia adalah narasi panjang yang terus ditulis oleh langkah-langkah kecil, tawa anak-anak, dan napas kota yang selalu mencari ketenangan di antara deru.
Taman ini tak berteriak untuk menarik perhatian. Ia berdiri sederhana dan tak banyak berubah. Simbol-simbol kecil di jalur sepeda, rambu-rambu mini, dan gerbong-gerbong kereta itu adalah artefak edukasi yang terus bergaung. Inilah tempat di mana anak-anak belajar tentang aturan dengan cara yang paling sederhana melalui permainan dan keterlibatan langsung.








