Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Bangunan empat lantai yang berdiri gagah ini mudah terlihat dari Jalan Raya Citepus, Palabuhanratu. Lokasinya berada tak jauh dari kemegahan Istana Presiden yang dahulu menjadi tempat peristirahatan Presiden Soekarno.
Meski demikian, cat dindingnya yang berwarna merah muda kusam mulai mengelupas di sana-sini karena dimakan usia dan lembapnya udara pantai selatan.
Dari luar, ia tampak seperti mes karyawan perkebunan biasa yang bersahaja. Tidak ada kemewahan mencolok yang menyiratkan kecanggihan teknologi di baliknya.
Padahal di balik tembok beton yang memudar itu tersimpan aset sejarah penting teknik sipil nasional. Bangunan ini adalah Gedung Tahan Gempa Tenjoresmi atau dalam literatur teknis dikenal sebagai Experimental Building with Base Isolation System.
Fakta bahwa bangunan tahan gempa pertama di Indonesia dengan teknologi modern ini berdiri di Sukabumi dan bukan di kota metropolitan seperti Jakarta adalah sebuah kebanggaan yang tersembunyi.
Keajaiban gedung ini bukan terletak pada ketebalan dindingnya melainkan pada apa yang bersembunyi di kolong fondasinya. Bangunan seberat 786 ton ini tidak menapak langsung ke tanah melainkan melayang di atas 14 titik bantalan karet atau rubber bearings.
Ujang Sutardi, Staf Inspeksi PTPN 1 Regional 2 yang kini mengelola kawasan tersebut, menjelaskan teknologi rumit bernama Base Isolation ini dengan analogi otomotif yang mudah dipahami.
“Kalau kita di mesin itu kayak Engine Mounting. Jadi mounting mesin itu tidak kena sasis, namun kena mounting dulu mesin itu. Bangunan ini juga seperti itu,” kata Ujang kepada infoJabar, Sabtu (10/1/2026).
“Jadi tidak langsung ke tanah, tetapi ke panggung dulu. Kalau dari kayu kan langsung kayu bantalannya, sedangkan kalau ini dari karet, hanya dilapisi dalamnya serat baja,” ujar Ujang sembari menunjuk celah bantalan karet yang terjepit di antara beton fondasi, tambahnya.
Mekanismenya bekerja dengan memutus energi gempa dari tanah ke struktur bangunan. Di dalam karet tersebut terdapat lapisan pelat baja tipis untuk menambah kekuatan vertikal, namun tetap fleksibel secara horizontal.
Saat gempa terjadi, tanah boleh berguncang hebat, namun bantalan karet ini meredam getaran tersebut sehingga bangunan di atasnya hanya mengayun perlahan layaknya penari sehingga tidak retak ataupun hancur.
“Anti gempa. Ketika ada gempa itu tidak ada retak. Bergoyang,” tutur Ujang meyakinkan.
Keunikan lain yang menarik perhatian adalah sistem perawatannya. Di bagian dinding luar fondasi terlihat menyembul batang-batang besi ulir berkarat yang bagi orang awam mungkin terlihat tak berguna. Namun besi itu adalah dudukan untuk dongkrak hidrolik raksasa.
Jika pasca-gempa posisi bangunan miring atau saat bantalan karet perlu diganti, gedung empat lantai ini bisa didongkrak untuk diluruskan kembali lalu diturunkan perlahan.
“Dulu kan ini buat dudukan dongkraknya. Jika ada penggantian atau uji coba ini kan didongkrak. Posisi bangunan itu miring. Kontraktor memiliki dongkrak khusus untuk itu. Diturunkan jadi goyang gini. Digoyangkan gini bangunan tidak ada yang retak, dongkrak juga berfungsi sebagai uji coba gempa tiruan,” jelas Ujang sambil memperagakan gerakan bangunan dengan tangannya.
Keberadaan gedung ini bukan kebetulan semata. Berdasarkan data prasasti di lokasi, proyek ini dibiayai oleh PBB melalui UNIDO atau United Nations Industrial Development Organization bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia. Dibangun pada tahun 1993 dan diresmikan operasionalnya pada 26 Oktober 1994, gedung ini adalah laboratorium hidup.
Palabuhanratu dipilih bukan tanpa alasan. Posisinya yang berada di pantai selatan merupakan zona subduksi yang sangat rawan gempa. Gedung ini sengaja dibangun di sini untuk menguji teknologi tahan gempa berbiaya murah yang kelak bisa diaplikasikan di negara-negara berkembang lainnya.
“Maka dicoba dulu di daerah yang gempanya paling tinggi. Ternyata kan di Palabuhanratu,” kenang Ujang menceritakan sejarah pemilihan lokasi tersebut.
Penting untuk dicatat agar tidak tertukar bahwa bangunan ini berbeda dengan Pesanggrahan Tenjo Resmi atau Istana Palabuhanratu yang dibangun Presiden Soekarno pada tahun 1960-an. Meski berada di kawasan yang sama, Gedung Tahan Gempa ini adalah entitas berbeda yang lahir tiga dekade kemudian dengan misi sains.
Sejarah mencatat perjalanannya yang unik. Pascatsunami Aceh 2004, gedung ini sempat ramai dikunjungi ahli dari dalam dan luar negeri sebagai rujukan konstruksi aman gempa. Ia menjadi selebriti sesaat di kalangan insinyur sipil.
Meski demikian, terdapat kendala operasional. Ujang menuturkan bahwa fungsi awal gedung ini untuk mendeteksi karakteristik gempa sempat dianggap kurang optimal karena faktor struktur tanah setempat yang didominasi karang. Hal tersebut menyebabkan pembacaan instrumen tidak seperti yang diharapkan para peneliti.
“Uji coba karena pada saat itu terdapat kegagalan sedikit karena di dalamnya itu banyak karang tanahnya. Jadi untuk mendeteksinya kurang optimal,” ungkap Ujang.
Namun, kegagalan kecil itu tak mengurangi kesuksesan struktur bangunan utamanya. Sejak 1994 hingga hari ini gedung ini telah melewati puluhan gempa besar yang mengguncang Sukabumi dan Banten.
Gedung ini terbukti ampuh karena tetap berdiri kokoh tanpa kerusakan struktural berarti dan membuktikan bahwa teknologi Base Isolation sangat berhasil. Karet bantalannya pun diklaim memiliki usia pakai hingga 200 tahun.
Kini setelah kontrak penelitian internasional usai, aset tersebut dikelola oleh PTPN 1 Regional 2. Bangunan yang dulunya tempat berkumpul ilmuwan dunia itu kini beralih fungsi menjadi penginapan umum bernama Tenjo House.
Di balik kesunyiannya sekarang, ia tetap berdiri sebagai saksi bisu bahwa teknologi penyelamat nyawa pernah dirintis dari pesisir selatan Jawa Barat.
Melayang di Atas Karet
Bisa Didongkrak Layaknya Mobil
Pembuktian Laboratorium Hidup









