Bandung –
Sejumlah peristiwa terjadi di wilayah Sukabumi dan Cianjur dalam sepekan terakhir. Mulai dari teror lutung di pemukiman warga di Sukabumi hingga bocah malang digigit anjing liar di Cianjur.
Berikut rangkuman berita Sukabumi dan Cianjur pekan ini
1. Eks Kades di Sukabumi Korupsi BLT Rp 1,3 M demi Nyaleg
Fakta baru terungkap dalam kasus dugaan korupsi Dana Desa yang menyeret GI, mantan kepala desa di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Polisi menyebut uang hasil penyelewengan BLT itu dipakai tersangka untuk membiayai pencalonannya sebagai anggota DPRD.
Kanit Tipikor Satreskrim Polres Sukabumi Ipda Sidik Zaelani mengatakan, berdasarkan pengakuan tersangka, dana hasil korupsi tidak hanya digunakan untuk kepentingan politik, tetapi juga untuk membeli aset dan mencukupi kebutuhan pribadi.
“Pengakuan tersangka, uangnya digunakan untuk pencalonan anggota DPRD, membeli aset, serta kebutuhan sehari-hari,” kata Sidik kepada di Polres Sukabumi, Selasa (27/1/2026).
Ironisnya, aksi tersebut dilakukan saat masyarakat tengah menghadapi masa sulit akibat pandemi COVID-19. Dana BLT yang seharusnya diterima warga terdampak justru disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.
“Kejadiannya terjadi di masa pandemi, rentang tahun 2020 sampai 2022,” ujarnya.
Meski telah menggelontorkan dana besar untuk kampanye politik, upaya tersangka untuk melenggang ke kursi legislatif berakhir gagal. “Uangnya habis dipakai untuk pencalonan berikut kampanye, namun yang bersangkutan tidak terpilih,” ungkapnya.
Terkait proses hukum yang berjalan saat ini, Sidik menjelaskan bahwa masa jabatan GI sebagai kepala desa berakhir pada 2023. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan akhir masa jabatan pada 2024, sebelum akhirnya masuk tahap penindakan hukum pada 2025.
“Pemeriksaan akhir masa jabatan dilakukan tahun 2024. Di 2025 baru kita lakukan penindakan hukum,” jelasnya.
Dari total kerugian negara sebesar Rp1,35 miliar, penyidik menemukan sebagian besar dana telah habis digunakan tersangka. Meski begitu, terdapat pengembalian uang dalam jumlah terbatas.
“Ada sekitar Rp100 jutaan yang dikembalikan, tapi sisanya sudah habis. Digunakan untuk biaya pencalonan dan kebutuhan pribadi,” kata dia.
2. Geger Tahu Berjamur, Guru-Siswa di Sukabumi Diduga Keracunan
Guru dan siswa diduga mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Empat orang yang terdiri dari guru dan pelajar dilaporkan harus menjalani perawatan di Puskesmas Simpenan.
Para korban tersebut masing-masing satu guru PAUD, satu guru sekolah dasar, serta dua siswa SD. Mereka berasal dari sejumlah sekolah di wilayah Bojongkopo, Bakan Astana, dan Cimapag.
Salah seorang keluarga korban, Agus mengatakan, keponakannya mengalami gejala serius setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah. Menu tersebut terdiri dari nugget, jeruk, sayur wortel, dan tahu yang diduga sudah tidak layak konsumsi.
“Pagi tadi langsung dibawa ke puskesmas karena sudah muntah sampai enam kali. Sempat dibawa pulang, tapi muntah lagi, akhirnya sekarang dibawa kembali ke sini,” kata Agus di Puskesmas Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Rabu (28/1/2026) sore.
Selain muntah, Agus menyebut korban juga mengeluhkan mual, badan terasa lemas, diare, hingga mengalami sesak napas. Tak berselang, kabar keracunan itu pun viral di media sosial. “Iya betul (kejadian keracunan) yang viral itu di Facebook dan status,” ujarnya.
Sementara itu, Kasubag Tata Usaha Puskesmas Simpenan, Reno Erdiansyah menjelaskan, para pasien mulai berdatangan sekitar pukul 15.30 WIB dengan keluhan beragam. “Keluhan yang dirasakan mulai dari rasa kebas, mual, mulut pahit, sampai sesak napas,” jelas Reno.
Staf Surveilans Puskesmas Simpenan, Ibing Rianto menambahkan, pihaknya akan mengamankan sampel makanan MBG untuk dilakukan uji laboratorium. “Sampel menu hari ini akan kami amankan dan dikirim ke laboratorium. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak dapur penyedia,” katanya.
3. Ratusan Warga Kaki Gunung Gede Kembali Usir 3 Alat Berat
Ratusan warga kaki Gunung Gede kembali usir alat berat yang berusaha naik untuk membuka jalan menuju proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau Geothermal. Bahkan kali ini ada tiga unit alat berat yang diusir warga pada Selasa (27/1/2026) dini hari.
Pantauan, dua buah alat berat sempat masuk hingga naik 500 meter dari jalan utama menuju kaki Gunung Gede Pangrango melalui Jalan Kampung Ciguntur pada Senin (26/1/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB.
Namun saat alat berat ketiga hendak masuk ke jalur tersebut, muncul gerombolan warga yang menolak proyek tersebut dan mencegah alat berat masuk. Bahkan situasi sempat memanas, terlebih setelah anggota organisasi masyarakat (Ormas) turut mengawal masuknya alat berat ke kaki Gunung Gede Pangrango.
Setelah berhasil mencegah alat berat ketiga masuk, massa yang berjumlah puluhan orang mendesak agar dua alat berat yang terlanjur masuk untuk diturunkan.
Mediasi antara massa yang menolak Geothermal dengan pihak yang membawa alat berat pun terjadi begitu alot. Namun pada akhirnya dua alat berat berhasil diusir warga. Bahkan warga mengawal proses turunnya alat berat pada Selasa dini hari sekitar pukul 00.15 WIB.
Koordinator warga Aryo Prima, mengatakan aksi pengusiran tersebut merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya alat berat dinaikan melalui jalur Kampung Pasir Cina, sedangkan kali ini melalui jalur Kampung Ciguntur Kecamatan Pacet, Cianjur.
“Ini yang kedua kalinya. Karena kemarin lewat Pasir Cina langsung dihadang dan diusir, sekarang nyoba jalur lain. Tapi sama saja, karena warga sudah sepakat untuk menolak proyek ini,” kata Aryo, Selasa (27/1/2026).
Menurut dia, warga juga tidak mendapatkan pemberitahuan terkait aktivitas mobilisasi alat berat.
“Kami dapat informasi ada alat berat masuk setelah beredar surat permohonan pengawalan kepada aparat. Meskipun faktanya yang mengawal itu malah Ormas, ini yang membuat kami sangat geram. Kalau proyek strategis nasional, kok malah Ormas yang diturunkan,” jelas Aryo.
Dia mengaku warga akan terus melakukan aksi penghadangan dan pengusiran alat berat dari kawasan kaki Gunung Gede Pangrango. “Meskipun kami geram terus-terusan diakali alat berat supaya naik, tetapi warga tidak akan sampai berbuat lebih jauh. Kami sebatas akan mengusir saja alat beratnya. Kalau datang lagi ya diusir lagi,” tegasnya.
4. Lutung Jawa Teror Permukiman di Cisaat Sukabumi, Warga Heboh
Warga Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, dihebohkan dengan kemunculan seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang berkeliaran di permukiman. Satwa lindung tersebut terlihat melompat antar-atap rumah warga.
Kemunculan lutung di Cisaat bukan yang pertama kali. Catatan menunjukkan pada Desember 2022, lutung jawa juga sempat turun ke permukiman dan berhasil dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Peristiwa ini pertama kali diketahui sejumlah ibu yang sedang mencuci di kolam sekitar permukiman, Jumat (30/1/2026). Awalnya, warga mengira hewan tersebut monyet biasa, namun fisiknya berbeda.
“Awalnya dilihat sama ibu-ibu yang lagi nyuci di kolam. Tiba-tiba ramai, karena ada binatang mirip monyet tapi bentuknya beda,” ujar Sigit (40), warga Cisaat, kepada.
Teriakan para ibu memicu warga lain berdatangan. Setelah didekati, warga memastikan hewan itu adalah lutung dengan ciri khas bulu hitam legam dan ekor panjang. Menurut Sigit, lutung tersebut sempat mendekati salah satu rumah warga yang kosong. Di area itu memang sering terdapat tumpukan sampah di luar rumah.
“Kemungkinan lagi lapar, cari makan. Dia sempat mendekat ke rumah warga, tapi nggak lama ketahuan sama warga lain, akhirnya kabur lagi,” katanya.
Hingga kini, lutung tersebut belum berhasil dievakuasi karena terus berpindah lokasi. Informasi terbaru menyebutkan satwa itu berada di wilayah Cibolang Kidul, Desa Cibatu.
Warga menduga kemunculan lutung dipicu faktor musim. Saat musim hujan, lutung dari kawasan Situ Gunung kerap turun mendekati permukiman. “Kalau dibilang sering sih nggak. Biasanya kalau musim hujan baru kelihatan. Kalau musim panas jarang banget terlihat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Resort Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Asep Suganda menyatakan asal-usul lutung tersebut belum dipastikan. Ia menduga satwa itu merupakan hasil pelepasan oleh manusia.
“Bisa jadi juga dibawa orang. Mungkin ditangkap dari lokasi lain, dipelihara, terus dilepas lagi,” kata Asep.
Ia menjelaskan populasi lutung di kawasan Situ Gunung memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. “Beberapa tahun ke belakang awalnya tidak terlalu banyak. Sekarang populasi meningkat karena mereka merasa aman dan nyaman, tidak ada perburuan, sehingga perkembangbiakannya cepat,” jelasnya.
5. Bejat! Pelajar SMP di Cianjur Cabuli 10 Anak
MRR, bocah berusia 15 tahun, diringkus polisi usai menyodomi dan melecehkan 10 anak di Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur. Pelaku juga mengancam akan menganiaya korban jika menolak melayani nafsu bejatnya.
Informasi yang dihimpun, aksi bejat itu terungkap saat seorang korban mengeluh sakit pada bagian alat vitalnya ketika hendak buang air besar. Orang tua korban syok mengetahui anaknya menjadi korban sodomi MRR, yang merupakan tetangga satu kampung.
“Setelah mengetahui anaknya menjadi korban pelecehan, orang tua korban melapor ke polisi. Usai penyelidikan, anak berkonflik dengan hukum (ABH) tersebut langsung kami amankan,” ujar Kapolres Cianjur AKBP Alexander Yurikho Hadi, Kamis (29/1/2026).
Alexander menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan, total korban mencapai 10 anak dengan rentang usia 6 hingga 10 tahun.
“Korban terdiri dari 3 anak perempuan dan 7 laki-laki. Pelaku masih berstatus pelajar SMP, sedangkan para korban ada yang masih duduk di bangku SD dan SMP,” katanya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Ia menjelaskan, aksi pencabulan dan sodomi itu sudah berlangsung sejak enam bulan lalu. Beberapa korban bahkan dilecehkan lebih dari satu kali.
“Dari penyelidikan sementara, aksi ini dilakukan sejak pertengahan 2025. Ada satu korban yang disodomi hingga tujuh kali dalam periode tersebut,” tuturnya.
Alexander menyebut tersangka menggunakan modus iming-iming melatih burung merpati milik korban hingga ancaman kekerasan.
“ABH ini memiliki burung merpati, begitu juga dengan para korban. Korban dijanjikan burungnya akan dilatih asal mau menuruti kemauan pelaku. Jika menolak, pelaku mengancam akan menampar mereka,” jelasnya.
Tersangka dijerat Pasal 76D dan 76E UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pasal 6 UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), serta Pasal 415 atau Pasal 473 KUHP.
“Pelaku terancam hukuman penjara maksimal 12 tahun,” pungkasnya.
6. Tubuh Bocah SD di Cianjur Penuh Gigitan, Diserang 8 Anjing Liar
CS (8) mengalami luka robek dan gigitan di sekujur tubuh setelah diserang delapan ekor anjing liar di Kampung Cilimus, Desa Mekarjaya, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Korban bahkan sempat tak sadarkan diri.
Dalam video yang viral di media sosial, terlihat tubuh bocah SD itu digendong seorang pria dewasa. Tampak juga bekas gigitan di bagian perut, kaki, hingga lengan, disertai darah yang berceceran.
Informasi yang dihimpun, peristiwa bocah diserang anjing liar itu terjadi pada Kamis (29/1) siang hari. CS yang sudah pulang sekolah berjalan kaki menuju rumahnya.
Namun, tiba-tiba delapan anjing liar yang tengah berkumpul di sekitaran jalur menuju rumahnya menyerang korban.n
“Saat kejadian korban jalan kaki setelah pulang sekolah. Seketika itu diserang anjing liar yang bergerombol,” ujar Kepala Desa Mekarjaya, Ahmad Saepudin, Jumat (30/1/2026).
Menurut dia, korban sempat berusaha berlari tetapi akhirnya digigit hingga terjatuh. Saat terjatuh, sekawanan anjing liar terus menyerang dan menggigitnya.
Serangan anjing liar itu berhenti setelah seorang warga yang melintas mengusirnya dan menyelamatkan korban.
“Saat kejadian ada warga yang melintas. Warga yang melintas langsung berusaha mengusir anjing-anjing itu, dan korban diselamatkan. Namun, anjing liar itu sempat kembali dan berusaha menyerang warga yang menyelamatkan,” ujar dia.
Dia mengungkapkan serangan gerombolan anjing liar itu menyebabkan korban mengalami luka serius di kepala dan badannya.
“Bahkan terdapat luka robek di bagian kepala, hingga dijahit sebanyak empat jahitan. Belum lagi luka gigitan di perut, tangan, dan kaki. Korban langsung dibawa ke puskesmas dan akhirnya dirujuk ke rumah sakit karena kondisi lukanya parah,” kata dia.
Dia menyebut warga yang geram langsung memburu gerombolan anjing liar tersebut dan membunuhnya lantaran khawatir menyerang anak-anak atau warga lain di sekitar lokasi kejadian.
“Kemungkinan itu kawanan anjing liar yang kelaparan. Bukan anjing rabies, karena bergerombol sedangkan yang rabies biasanya penyendiri. Warga sudah menangkap dan membunuh semua anjing yang menyerang. Selain geram, juga takut menyerang anak-anak lainnya,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Campaka, Tito Nurtansah, menjelaskan kondisi korban yang sempat ditangani Puskesmas memang mengalami luka serius, dengan banyak luka robek di tubuhnya, sehingga harus dirujuk ke RSUD Sayang untuk penanganan lebih lanjut.
“Luka robek bekas gigitan anjing pada korban ini memang cukup banyak, mulai dari badan, tangan, kaki, bahkan kepalanya memerlukan hingga 8 jahitan. Sehingga kami harus merujuknya ke rumah sakit,” kata dia.
Di sisi lain, Kepala Instalasi Humas RSUD Sayang, Raya Sandi, mengatakan korban sudah mendapatkan berbagai penanganan medis terkait banyak luka yang dialaminya.
“Tindakan yang dilakukan adalah penjahitan (hecting) pada luka terbuka dan pemberian obat pereda nyeri,” kata dia.
Menurut dia, kondisi korban sudah membaik dan diizinkan untuk pulang. “Sekarang pasien sudah pulang karena kondisinya membaik, tetapi kesehatannya terus dipantau,” kata dia.







