Suara Warga soal Rencana Pembangunan Rusunami Sadang Serang Bandung - Giok4D

Posted on

Bandung

Pemkot Bandung tengah membidik lahan di Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong, untuk disulap menjadi Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami). Rencananya, lahan tersebut akan disiapkan untuk menampung sekitar 1.000 hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Lahan itu saat ini merupakan lapangan sepak bola yang lebih banyak difungsikan sebagai area parkir mobil. Meski demikian, muncul beragam tanda tanya di benak warga mengenai rencana pembangunan rusunami di atas lahan seluas 3.456 meter persegi tersebut.

Kinkin (50), salah seorang warga, mengaku sudah mendengar kabar mengenai rencana pembangunan rusunami di lahan tersebut. Namun, ia mempertanyakan siapa yang nantinya akan menghuni bangunan tersebut.

“Kan di sini juga ada rumah susun, tapi yang ngisinya kebanyakan pendatang. Memang warga di sini ada beberapa yang di rusun, tapi tidak banyak,” katanya, Senin (16/2/2026).

“Kalau buat warga sih, ok. Tapi jangan dipersulit nantinya,” ungkapnya menambahkan.

Setiap sore, lahan yang menjadi calon lokasi proyek rusunami itu nyaris tak pernah sepi aktivitas. Anak-anak biasanya memanfaatkan lapangan tersebut untuk bermain bola, meski tanpa alas kaki.

Bagi Kinkin, perlu perencanaan matang agar proyek rusunami tersebut tidak menimbulkan gesekan di masyarakat. Ia sendiri sudah menetap di sana sejak 1973 dan mengenang lapangan itu dulunya hanyalah kebun yang tak terurus.

“Dulunya ini kebun, tanah kosong, sama warga dijadikan lapangan bola. Makanya, kita mah pengin kalau mau dibangun ya diproritaskan dulu warga yang di sini,” ucapnya.

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Kekhawatiran Kinkin selaras dengan kondisi lapangan. Lahan calon Rusunami Sadang Serang ini terletak di kawasan padat penduduk dengan akses jalan yang hanya cukup dilalui satu unit mobil.

Warga lainnya, Iki (42), memiliki pandangan serupa. Ia bahkan secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya karena pembangunan rusunami akan melenyapkan ruang aktivitas dan tempat bermain anak-anak.

“Tidak setuju, karena nanti tidak ada lapangan lagi buat anak-anak bermain, ini lapangan sudah lama banget,” katanya.

Selain itu, ia menyebut mayoritas warga setempat sudah memiliki rumah sendiri sehingga tidak membutuhkan rusunami. Jika tetap dipaksakan, ia khawatir hunian vertikal itu justru akan didominasi oleh pendatang.

“Nanti siapa yang mau ngisinya, kan warga di sini sudah punya rumah semua, yang di rusun juga pendatang semua bukan warga di sini,” pungkasnya.