Suara Getir di Balik Megah Tembok Makam Para Bupati Bandung

Posted on

Di Kecamatan Astanaanyar, tepatnya di Jalan Karang Anyar, terdapat sebuah Kompleks Makam Para Bupati Bandung berdiri. Sebuah situs sarat sejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para pendiri dan tokoh besar Kota Kembang.

Memasuki area utama, pengunjung akan disambut oleh sebuah bangunan khusus tanpa dinding. Belasan pilar kokoh menyangga langit-langit, menaungi makam-makam yang tertata rapi di bawahnya. Suasana hening dan sakral langsung terasa, kontras dengan bisingnya jalanan kota. Namun, di balik kemegahan sejarah yang terukir pada nisan-nisan tersebut, terdapat realitas kontradiktif yang dialami oleh para penjaganya.

Kompleks ini bukan sekadar pemakaman biasa. Di bawah naungan bangunan utama, bersemayam tiga Bupati Bandung keturunan Raden Adipati Wiranatakusumah, lengkap dengan potret mereka yang melintasi zaman. Salah satu tokoh sentral di sini adalah R.A. Wiranatakusumah III, atau yang dikenal sebagai Dalem Karanganyar.

Hanya beberapa meter dari bangunan utama, terdapat makam Pahlawan Nasional Dewi Sartika. Sosok perintis pendidikan kaum wanita ini dimakamkan berdekatan dengan kedua orang tuanya, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanegara. Tak jauh dari sana, terbaring pula Bupati Bandung pertama, Rd. Tumenggung Wira Angun-angun (1641-1709), yang menjadi tonggak awal pemerintahan Kabupaten Bandung.

Nilai sejarah tempat ini semakin kaya dengan adanya makam dr. Hasan Sadikin, Direktur Rumah Sakit Hasan Sadikin periode 1965-1967. Ia dimakamkan di sini karena memiliki garis keturunan dari Wiranatakusumah III melalui jalur ibunya.

Berkunjung ke sini sejatinya bukan hanya sekadar berziarah, melainkan sebuah perjalanan mengenal sejarah dan tokoh-tokoh yang pernah berjasa besar untuk Kota Bandung. Namun, besarnya nama-nama yang dimakamkan ternyata tidak serta-merta menjamin kesejahteraan mereka yang masih hidup dan bertugas merawatnya.

Ibu Nani, wanita berusia 60 tahun yang telah menghabiskan separuh hidupnya di antara nisan-nisan tua tersebut. Ia bukan sekadar penjaga, ia adalah pewaris memori. Namun, pengabdiannya menjaga makam para Bupati Bandung ini ternyata tidak sebanding dengan kesejahteraan yang didapatkannya.

“Kalau orang tahunya kan ini ‘makam elit’. Seperti enggak mungkin ini si pegawai di sini dikasih uang segitu. Tapi kenyataannya kalau udah tahu, di sini teh lebih parah daripada pemakaman umum,” ungkap Ibu Nani saat ditemui infoJabar.

Ibu Nani bukanlah orang baru di kompleks Makam Para Bupati Bandung di Karang Anyar. Ia mulai menetap di sana sejak tahun 1992, mengikuti mendiang suaminya yang merupakan keturunan kuncen sebelumnya. Sepeninggal sang suami pada tahun 2003, Ibu Nani mengambil alih penjagaan, meneruskan tugas dari kakek dan bapak mertuanya.

“Sekarang keluarga di sini udah pada meninggal, turun temurun kan ini yang di sini. Dari Uyut, Kakek, Bapak. Jadi udah pada meninggal sekarang jadi yang paling tua kali Ibu di sini,” ucap Nani.

Sebagai situs yang menaungi makam para Bupati Bandung, tempat ini kerap disebut sebagai ‘Makam Elit’ oleh masyarakat awam. Persepsi ini memunculkan anggapan bahwa para penjaganya hidup berkecukupan.

Realitas di lapangan justru berbanding terbalik. Ibu Nani mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai honor yang diterimanya dari yayasan pengelola.

“Kebanyakan mah itu cuma 300 ribu sebulan. Ibu aja yang sendiri yang 700 ribu, yang lain 300 ribu-an sebulan,” ungkap Ibu Nani dengan nada getir.

Jika dikalkulasikan, angka tersebut setara dengan Rp10.000 hingga Rp23.000 per hari. Angka yang sangat jauh dari Upah Minimum Regional (UMR) Kota Bandung, bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar harian di tengah kota besar seperti Bandung.

Kondisi memprihatinkan ini, menurut pengakuan Ibu Nani, semakin parah sejak terjadinya pergantian pengurus yayasan pada tahun 2020.

“Tahun 2020. Yayasan yang megang, sebenarnya mah bukan turunan asli sini tapi menguasai,” ujar Ibu Nani. Ia membandingkan dengan pengurus terdahulu yang masih memiliki garis keturunan dengan tokoh yang dimakamkan di Karang Anyar.

Dampak dari perubahan manajemen ini sangat terasa pada aspek operasional. Tidak hanya masalah gaji, fasilitas kerja pun minim. Para kuncen seringkali harus merogoh kocek pribadi yang sudah sangat minim untuk membeli peralatan kebersihan seperti sapu.

“Ibu kalau punya uang beli alat kebersihan sendiri. Kalau ada yang nyekar itu aja yang ngasih, ah beliin aja alat buat bebersih. Yayasan yang sekarang kayak gitu, yang dulu-dulu mah enggak. Suka ngasih pinjem dulu mah walaupun sedikit gaji juga ngasih pinjem, ngasih buat jajan,” keluhnya.

Nestapa para penjaga makam ini tidak berhenti pada upah harian. Hak-hak dasar pekerja seperti Tunjangan Hari Raya (THR) dan jaminan kesehatan pun seolah menjadi barang mewah yang tak terjangkau. Ibu Nani menuturkan bahwa saat ini tidak ada alokasi dana khusus untuk THR dari yayasan, berbeda dengan masa-masa sebelumnya di mana masih ada perhatian meski jumlahnya kecil.

“Kalau mau lebaran, taruhlah THR… Di sini enggak ada,” tegasnya.

Lebih lanjut, prosedur klaim kesehatan pun dinilai berbelit dan tidak efektif. Meskipun dijanjikan akan dibantu jika ada surat dokter, realitanya laporan kesehatan seringkali diabaikan. Hal ini memaksa mereka untuk bergantung pada kebaikan hati peziarah yang datang berziarah atau memberikan sedekah sukarela.

Para penjaga makam, termasuk Ibu Nani, tinggal di rumah-rumah petak yang berdiri di atas tanah makam. Status tempat tinggal ini dianggap sebagai ‘Rumah Dinas’ seumur hidup, sehingga mereka tidak perlu membayar sewa. Namun, jangan bayangkan fasilitas rumah dinas pejabat yang mewah dan terawat.

“Gak ngontrak lah lumayan untungnya teh. Kalau ngontrak mah pusing, Neng. Gaji enggak seberapa. Tapi kalau ada bocor-bocor semua bayar itu sendiri, sama sendiri segalanya,” jelas Ibu Nani.

Selain masalah ekonomi, bekerja di area pemakaman tua tentu memiliki tantangan tersendiri, termasuk nuansa mistis. Ibu Nani menceritakan beberapa kejadian di mana orang yang lewat dengan niat tidak baik atau tidak sopan mengalami kejadian ganjil, seperti tidak bisa berjalan atau melihat penampakan. Namun, bagi Ibu Nani, hal-hal tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian.

Kini, harapan terbesar Ibu Nani dan rekan-rekannya bukan lagi pada hal-hal mistis, melainkan pada kepekaan hati nurani para pengambil kebijakan. Ada keinginan tersirat agar pengelolaan situs bersejarah ini mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kota Bandung, dengan harapan kesejahteraan mereka bisa lebih terjamin dan terstandarisasi, layaknya Petugas Harian Lepas (PHL) di pemakaman umum milik pemerintah.

“Jadi pengen ada perhatian… Curhatan yang kerja di sini pengen ada perhatian. Karena yayasan juga enggak ada perhatian kayak gitu. Jadi seenaknya aja. Terus aja disuruh kerja, kerja.” pungkasnya.

Di tengah himpitan ekonomi dan minimnya perhatian, satu-satunya alasan para kuncen ini bertahan adalah rasa tanggung jawab terhadap leluhur. Ibu Nani sendiri meneruskan tugas mendiang suaminya yang merupakan keturunan asli pengurus makam sebelumnya.

Baginya, menjaga kebersihan makam Rd. Tumenggung Wira Angun-angun, Dewi Sartika, hingga dr. Hasan Sadikin adalah bentuk pengabdian yang tak ternilai, meski imbalan materi yang didapat sangatlah kecil.

Situs Makam Para Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar adalah aset berharga. Bangunan berpilarnya mungkin kokoh menahan atap, namun para penjaganya kini tengah rapuh menahan beban hidup.

Jejak Sejarah Para Leluhur Bandung

Realitas Pahit Para Kuncen

Mengharap Kepekaan Pengambil Kebijakan