Pagi itu, suasana Bundaran Marlin Pangandaran cukup sibuk oleh lalu lalang kendaraan, baik yang menuju gerbang tol wisata pantai maupun arus lalu lintas umum. Di sebelah timur bundaran, terdapat sebuah bangunan sederhana yang dipadati pelanggan setiap pukul 07.00-09.00 WIB. Tempat itu adalah warung Soto Jarkomi Ayam Kampung.
Sejak 1980-an, soto ini telah menyajikan sarapan hangat berkuah kuning bagi warga Pangandaran. Awalnya, soto ini dijajakan dengan cara dipikul keliling desa. Seiring berjalannya waktu, Soto Jarkomi terus berkembang. Hingga kini, telah berdiri lima gerai (jongko) Soto Jarkomi di wilayah Pangandaran.
Jarkomi Marlin menjadi nama yang tidak asing di telinga warga Pangandaran. Meski memiliki beberapa cabang, gerai di Bundaran Marlin tetap menjadi favorit banyak penikmat kuliner. Kendati demikian, cabang lainnya pun tetap ramai pelanggan. Keistimewaan soto ini terletak pada kuah kuningnya yang gurih, dipadukan dengan kecambah, bihun, dan suwiran ayam kampung.
Hingga kini, Soto Jarkomi konsisten menggunakan ayam kampung betina dengan campuran hati ampela. Cita rasanya kian menonjol saat kuah dan daging ayam menyatu di mulut. Rasanya ingin tambah, namun satu porsi sebenarnya sudah cukup mengenyangkan.
“Satu porsi terasa kurang, tapi kalau dua porsi rasanya beda,” canda seorang pelanggan kepada keluarganya saat sarapan di sana.
Salah satu pengunjung, Yosep Trisna mengaku selalu menyempatkan diri menyantap Soto Jarkomi setiap berlibur ke Pangandaran. “Segar dan hangat kuahnya, bumbu dan taburannya juga pas,” ujar Yosep kepada infoJabar, belum lama ini.
Yosep menambahkan taburan yang tak boleh dilewatkan adalah kulit ayam kampung goreng yang garing. “Cobain, pasti ketagihan,” katanya.
Semangkuk Soto Jarkomi dibanderol Rp18.000, sedangkan nasi putih dihargai Rp4.000. Harga yang sepadan untuk seporsi soto ayam kampung lengkap dengan hati ampela, nasi, teh hangat, dan kerupuk.
Yosep mengungkapkan, warung soto ini menyimpan kenangan tersendiri karena sering menjadi tempat pertemuan tak sengaja dengan kawan-kawannya. “Sering reuni tidak sengaja di sini,” ucapnya.
Bahkan, ia bercerita bahwa beberapa kali acara reuni sekolahnya dilakukan dengan memesan seluruh porsi dari satu gerobak Soto Jarkomi.
Penikmat soto lainnya, Eka Yuli, menyebut Soto Jarkomi sangat legendaris di ingatannya. “Dulu kan hanya ada di pasar, sekarang Jarkomi Marlin sudah sangat terkenal,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Faizal Ammirudin. Selama empat tahun merantau di Pangandaran, soto ini menjadi menu andalannya. “Selain karena lokasinya paling dekat dengan kos, rasanya memang cocok. Seminggu bisa tiga kali saya makan di sini,” tutur Faizal.
Ia mengenang, saat pertama kali menginjakkan kaki di Pangandaran pada 2019, Soto Jarkomi adalah kuliner pertama yang ia cicipi.
Sementara itu, tokoh masyarakat Pangandaran, Asep Noordin, menilai Soto Jarkomi layak menjadi ikon kuliner khas daerah, bersanding dengan pindang gunung. “Seperti Soto Bogor atau Coto Makassar,” ujarnya.
Menurut Asep, cita rasa Soto Jarkomi yang berkarakter membuatnya sangat pantas dikukuhkan sebagai salah satu makanan khas dari Pangandaran.







