Iran –
Ali Khamenei, yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, lahir pada 19 April 1939 di kota suci Mashhad di Iran. Ia adalah anak kedua dari Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama yang hidup sederhana dan mendidik keluarganya dengan nilai-nilai kerendahan hati.
Sejak kecil, Khamenei belajar di maktab, sebuah sekolah dasar tradisional untuk mengenal huruf dan membaca Al-Qur’an, kemudian melanjutkan pendidikan di institusi pendidikan Islam yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan sekolah dasar agama, ia belajar di seminari teologi Mashhad, memperdalam studi logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan sejumlah ulama besar.
Khamenei kemudian berperan penting dalam revolusi Islam Iran dan setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989, ia diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi, memimpin negara dengan pengaruh besar dalam politik, militer, dan keagamaan selama beberapa dekade.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Ayatollah Ali Khamenei dalam Revolusi di Iran
Demonstrators hold pictures of Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei during an anti-Israeli protest, following the Israeli strikes in Iran, near the Israeli Consulate in Istanbul, Turkey, June 16, 2025. REUTERS/Dilara Senkaya Foto: REUTERS/Dilara Senkaya |
Saat remaja Khamenei sudah mendengarkan pidato berapi-api dari ulama pemberani, Nawwab Safavi, menentang kebijakan Shah yang anti-Islam dan licik, sebelum akhirnya ia menjadi martir rezim Shah.
Pada 1962, Ayatollah Ali Khamenei bergabung dalam barisan pengikut revolusioner Imam Khomenei–pemimpin politik Revolusi Islam Iran–menentang kebijakan rezim Shah yang dinilai pro-Amerika dan anti-Islam. Tanpa kenal takut, ia mendedikasikan dirinya di jalan ini selama 16 tahun hingga akhirnya rezim Shah jatuh.
Atas keberaniannya itu, Khamenei mendapat kehormatan dari Imam Khomeini untuk misi membawa pesan rahasia Ayatollah Milani dan ulama lainnya terkait cara dan taktik mengungkap sifat rezim Shah.
Dalam perjalanan hidupnya untuk revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei menjalani penangkapan dan pengasingan. Dia ditahan di “Penjara Gabungan Polisi-SAVAK” di Teheran selama berbulan-bulan. Setelah bebas, dia dilarang memberikan ceramah atau mengadakan kelas-kelas.
Ayatollah Khamenei juga diasingkan selama tiga tahun karena aktivitas rahasianya terendus oleh SAVAK. Setelah bebas, ia terus konsisten melanjutkan kegiatan politik-keagamaan, terlibat dalam demonstrasi massal di seluruh Iran.
Pimpin Iran Usai Perang Berdarah dengan Irak
Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam pada tahun 1989 setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang telah memimpin revolusi Islam satu dekade sebelumnya.
Khamenei yang membentuk aparat militer dan paramiliter Iran. Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia telah memimpin Iran sebagai presiden melalui perang berdarah dengan Irak pada tahun 1980-an. Konflik yang berkepanjangan, ditambah dengan rasa isolasi di antara banyak warga Iran karena negara-negara Barat mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat secara umum dan Amerika Serikat secara khusus.
Khamenei Dilaporkan Meninggal
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Khamenei tewas dalam serangan AS dan Israel di Teheran.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” kata Trump di jaringan media Social Truth miliknya, dilansir AFP, Minggu (1/3/2026).
AS dan Israel menyerang wilayah Iran pada Sabtu (28/2) kota Iran. Kompleks kediaman Khamenei di Teheran disebut telah dijatuhkan puluhan bom. Media Iran juga melaporkan putri hingga cucu Khamenei tewas.
Iran pun akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi terkait kabar kematian Ali Khamenei dalam serangan Israel dan Amerika Serikat. Pemimpin Tertinggi Iran itu telah terkonfirmasi tewas.
“Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid,” demikian dilaporkan oleh stasiun penyiaran negara IRIB dilansir CNN Internasional, Minggu (1/3/2026).
Dilansir Al Jazeera, kantor berita Tasnim dan Fars juga telah mengkonfirmasi kematian Ali Khamenei akibat serangan Israel dan AS di Iran.
Kantor berita Fars melaporkan pemerintah Iran mengumumkan 40 hari berkabung nasional menyusul pembunuhan Khamenei. Pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional.








