Sholat Nisfu Syaban: Hukum, Niat, dan Tata Caranya

Posted on

Bandung

Sholat Nisfu Syaban menjadi salah satu amalan yang kerap dikerjakan umat Islam untuk menghidupkan malam pertengahan bulan Syaban. Malam Nisfu Syaban diyakini memiliki keutamaan tersendiri karena dipenuhi rahmat, ampunan, serta keberkahan dari Allah SWT.

Sebelum mengamalkan sholat Nisfu Syaban, umat Islam dianjurkan memahami tuntunan pelaksanaannya secara menyeluruh, mulai dari hukum, niat, jumlah rakaat, tata cara, doa setelah sholat, hingga waktu pelaksanaan.

Hukum Sholat Nisfu Syaban Menurut Ulama

Pembahasan mengenai hukum sholat Nisfu Syaban masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mengutip ringkasan buku Malam Nishfu Sya’ban karya Hanif Luthfi Lc MA, sebagian ulama memandang sholat ini sebagai amalan sunnah, sementara sebagian lainnya menolaknya.

Pendapat Ulama yang Membolehkan

Imam al-Ghazali termasuk ulama yang menganjurkan pelaksanaan sholat Nisfu Syaban. Dalam keterangan yang disampaikan Kamaluddin Muhammad bin Musa Abu al-Biqa as-Syafi’i, Imam al-Ghazali menyebut sholat malam Nisfu Syaban dapat dikerjakan hingga 100 rakaat. Setiap rakaat dianjurkan membaca surah al-Fatihah dan surah al-Ikhlas sebanyak 10 kali.

Selain itu, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani juga menyebut sholat Nisfu Syaban sebagai sholat penuh keberkahan. Dalam kitab al-Ghunyah, beliau menjelaskan sholat ini dikenal sebagai sholat al-Khair dan memiliki pahala yang besar, bahkan dahulu dikerjakan secara berjamaah oleh sebagian ulama salaf.

Pendapat Ulama yang Menolak

Di sisi lain, Imam an-Nawawi menolak pelaksanaan sholat khusus di malam Nisfu Syaban. Dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, ia menyebut sholat Rajab dan Syaban sebagai amalan bid’ah yang tidak memiliki landasan kuat dari hadis sahih.

Pendapat serupa disampaikan Imam az-Zabidi dalam Syarh al-Ihya’, yang menegaskan tidak ditemukan dalil sahih mengenai sholat dan doa khusus Nisfu Syaban, kecuali praktik sebagian ulama terdahulu.

Niat Sholat Nisfu Syaban

Bagi umat Islam yang ingin mengerjakan sholat Nisfu Syaban, berikut beberapa bacaan niat yang dapat digunakan, dikutip dari buku Tuntunan Lengkap 99 Salat Sunah Superkomplet karya Ibnu Watiniyah.

أُصَلَّى سُنَّةً لِإِحْيَاءِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرْ.

Arab Latin: Ushalli sunnatan li-ihyaʻi lailati nishfi sya’bâna rak’ataini mustaqbilal qiblati lillâhi ta’âlâ. Allâhu Akbar…

Artinya: “Saya niat sholat sunnah Nishfu Sya’ban dua rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah Taala. Allahu Akbar…”

Bisa juga dengan membaca niat ini:

أُصَلَّى لَيْلَةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرْ.

Arab Latin: Ushalli lailata nishfi sya’bâna rak’ataini mustaqbilal qiblati sunnatan lillâhi ta’âlâ. Allâhu Akbar…

Artinya: “Saya niat sholat sunnah Nishfu Sya’ban dua rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar…”

Tata Cara Sholat Nisfu Syaban

Mengutip buku yang sama, sholat Nisfu Syaban dapat dikerjakan minimal dua rakaat dan maksimal 100 rakaat.

Jika dikerjakan 100 rakaat, pelaksanaannya dilakukan setiap dua rakaat satu salam, sehingga total terdapat 50 salam.

Urutan Tata Cara Sholat Nisfu Syaban

Secara umum, tata cara sholat Nisfu Syaban sama dengan sholat sunnah lainnya, yaitu:

  • Niat sholat Nisfu Syaban
  • Takbiratul ihram
  • Membaca surah al-Fatihah dan surah al-Kafirun
  • Rukuk dan i’tidal
  • Sujud, duduk di antara dua sujud, lalu sujud kembali
  • Berdiri untuk rakaat kedua
  • Membaca al-Fatihah dan surah al-Ikhlas
  • Rukuk hingga sujud kedua
  • Tahiyat akhir dan salam

Doa Setelah Sholat Nisfu Syaban

Setelah menunaikan sholat Nisfu Syaban, umat Islam dianjurkan membaca doa. Doa ini berisi permohonan agar Allah SWT menghapus catatan keburukan, kesempitan rezeki, serta menetapkan hamba-Nya sebagai orang yang berbahagia dan diridhai.

Doa tersebut juga memohon perlindungan dari berbagai musibah yang diketahui maupun tidak diketahui, serta memohon keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِينَ وَأَمَانَ الْخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَى فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمَ الْكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَاقْتَارِ رِزْقِي وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمَ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أم الكِتَابِ الهِي بِالتَّجَلَّى الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّي مِنَ الْبَلَاءِ مَا أَعْلَمُ وَمَا لَا اَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. أَمِينَ

Latin: Allâhumma yâ dzal manni walâ yamunnu ‘alaika yâ dzal jalâli wal ikrâm, yâ dzath thauli wal in’âm lâ ilâha illâ anta, dzhahral lâjîn, wa jârul mustajîrîn, wa amânal khâ’ifîn. Allâhumma in kunta katabtanî ‘indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan au mahrûman au mathrûdan au muqtarran ‘alayya fir rizqi famhu. Allâhumma bi fadlika fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî wa thardî waiq târi rizqî wa ats- bitnî ‘indaka fî ummil kitâbi sa’îdan marzûqan muwaffaqal lil khairât. Fa innaka qulta wa qaulukal haqqu fî kitâbikal munzali ‘alâ nabiyyikal mursali, yamhullâhu mâ yasyâ’u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul kitâbi. Ilâhî bittajallil a’dzhami fî lailatin nishfi min syahri sya’bânal mukarramil latî yufraqu fîhâ kullu amrin hakîm wa yubramu ishrif ‘annî minal balâ’i mâ a’lamu wa mâ lâ a’lamu wa anta ‘allâmul ghuyûbi birahmatika yâ arhamar râhimîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallama. Âmîn.

Artinya: “Ya Allah, Dzat Pemilik anugerah, bukan penerima anugerah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai Dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah. Ya Allah, dengan anugerah-Mu, dari Ummul Kitab, akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisi-Mu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sungguh Engkau telah berfirman, dan firman-Mu pasti benar, dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan melalui lisan Nabi-Mu yang terutus: Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab. Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak pada malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin.”

Waktu Pelaksanaan Sholat Nisfu Syaban 2026

Sholat Nisfu Syaban dikerjakan pada malam tanggal 15 bulan Syaban. Berdasarkan Kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 15 Syaban 1447 H jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026.

Namun, dalam kalender Hijriah, pergantian hari dimulai sejak waktu Magrib. Dengan demikian, malam Nisfu Syaban dimulai pada Senin, 2 Februari 2026 setelah sholat Magrib. Pada waktu inilah sholat Nisfu Syaban dianjurkan untuk dikerjakan.

Halaman 2 dari 2