Kuningan –
Kabupaten Kuningan kini sedang dipusingkan dengan fenomena yang terjadi beberapa hari ke belakang. Puluhan ikan dewa mati mendadak di Balong Cigugur.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Kematian ikan dewa yang dikeramatkan masyarakat setempat di lokasi wisata ini pertama kali terkonfirmasi pada Sabtu (31/1). Penyebabnya karena serangan parasit cacing jangkar yang menyerang bagian mulut dan insang.
Akibatnya, ikan-ikan itu jadi sulit bernapas, kehilangan nafsu makan, dan mengalami iritasi hebat sebelum akhirnya mati. Ditambah, sirkulasi air kolam yang tak lancar berhari-hari memperburuk kondisinya hingga mengakibatkan ikan mengalami stres dan penurunan daya tahan tubuh.
Untuk mencegah kematian berlanjut, pengelola lalu direkomendasikan menggunakan ramuan herbal berupa campuran daun kenikir dan garam. Getah daun kenikir dipercaya mampu melepaskan parasit cacing yang menempel pada tubuh ikan.
Teknisnya, ikan yang sakit dipisahkan ke kolam isolasi. Daun kenikir kemudian ditumbuk hingga keluar getahnya, lalu dicampur garam dan ditaburkan ke kolam karantina tersebut.
Namun kemudian, kasus kematian massal ikan dewa terus mengalami penambahan. Selasa (3/2/2026), jumlah ikan uang mati bertambah dari puluhan menjadi 300 ekor.
“Ikan mulai mati sejak Kamis (29/1) sampai Selasa hari ini. Totalnya sudah 300 ekor dari populasi sekitar 1.000 ekor,” tutur Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Deni.
Meski jumlahnya mencapai ratusan, fenomena ini belum dikategorikan sebagai wabah. Pasalnya, kasus serupa tidak ditemukan di lokasi habitat ikan dewa lainnya di wilayah Kuningan.
“Bukan wabah, ini musibah lokal saja. Kalau wabah, di tempat lain harusnya mati juga, tapi ini hanya terjadi di sini. Di Cibulan, misalnya, kondisinya masih aman,” kata Deni.
Antisipasi selanjutnya, Diskanak akan menguras kolam untuk memulihkan kondisi air di Balong Cigugur. Selain itu, rapat pun bakal digelar agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
“Kami kuras dulu lalu dikeringkan untuk mematikan bakteri, baru diganti air baru. Mitigasinya meliputi perbaikan pengelolaan kolam, manajemen pakan yang baik, serta pengukuran kualitas air secara berkala. Insya Allah kondisi air akan segera pulih dan ikan bisa berkembang lagi,” pungkasnya.







