Bandung –
Sepekan berlalu pascabencana longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu (24/1/2026). Bencana yang dipicu hujan deras disertai angin kencang ini meluluhlantakkan permukiman warga di wilayah RW 10 dan RW 11.
Menurut kesaksian keluarga korban, sempat terdengar gemuruh kencang mirip suara pesawat dari arah Gunung Burangrang sebelum longsoran tanah menerjang dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi pukul 03.00 WIB, disusul longsoran kedua dengan skala lebih besar dalam waktu singkat. Sedikitnya 30 rumah warga terdampak, dengan kondisi rusak berat hingga tertimbun material.

Jeda waktu antar-longsor yang sangat singkat membuat banyak warga tak sempat menyelamatkan diri. Salah satu kisah memilukan datang dari Arsya, balita yang kini menjadi yatim piatu. Ayahnya, Komarudin, sempat berupaya menyelamatkan keluarganya saat gelombang pertama tiba.
Komarudin menjebol atap rumah dan menempatkan Arsya di tempat tinggi agar selamat. Namun, saat ia kembali masuk ke dalam rumah untuk menjemput istri dan anak sulungnya, gelombang lumpur setinggi 5 meter datang menerjang dan menimbun mereka seketika.
Proses Evakuasi
Hingga saat ini, Pemkab Bandung Barat masih memberlakukan status tanggap darurat bencana. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menjelaskan bahwa tim gabungan menggunakan berbagai metode pencarian, mulai dari penggalian manual, penyemprotan material, hingga penggunaan drone untuk pengawasan udara.
“Cuaca yang tidak menentu menjadi kendala utama. Hujan sering turun, membuat kondisi tanah labil dan meningkatkan risiko longsor susulan,” ujar Ade.
Saat ini, para pengungsi telah dievakuasi ke tenda-tenda darurat yang disiapkan pemerintah.
Update Terkini
Hingga Jumat (30/1/2026), tim SAR gabungan yang terdiri dari 2.000 personel masih melakukan penyisiran di lima sektor (A1, A2, A3, B1, dan B2). Total 19 unit ekskavator dikerahkan untuk mempercepat pembersihan material.
Hingga Kamis (29/1), tercatat 55 jenazah telah berhasil dievakuasi. Berikut adalah daftar korban yang telah teridentifikasi:
1. Sunarya (L, 58 th)
2. Jajang Taryana (L, 36 th)
3. Nining (P, 40 th)
4. Dadang (L, 60 th)
5. Nurhayati (P, 43 th)
6. Muhammad Kori (L, 30 th, TNI)
7. Keyla (P)
8. Lia Sartika (P)
9. Lina Lismayanti (P, 43 th)
10. Nina Haeronisa (P, 16 th)
11. Ai Sumarni (P, 35 th)
12. Koswara (L, 41 th)
13. Koswara (L, 26 th)
14. Ayu Yuniarti (P, 31 th)
15. Deni Suparman (L, 48 th)
16. Andri (L, 30 th)
17. Cicah Mulyani (P, 40 th)
18. Sidiq Harianto (L, 41 th, TNI)
19. Nicky Olga Suwita (L, 30 th, TNI)
20. Widia Putri (P, 17 th)
21. Andar (L, 55 th)
22. Pipin Koswandi (L, 36 th)
23. Delisa (P, 11 th)
24. Tini (P, 38 th)
25. Karmita (L, 46 th)
26. Komarudin (L, 41 th)
27. Susi Rahayu (P, 29 th)
28. Baran Permana (L, 46 th)
29. Elis Aning (P, 43 th)
30. Adri Firmansyah (L, 6 th)
31. Ari Kurniawan (L, 26 th)
32. Reza Subagja (L, 14 th)
33. Awangsih (P, 70 th)
34. Wati (P, 50 th)
35. Bayu Nurchaya (L, 32 th)
36. Epon (P, 28 th)
37. Odah (P, 77 th)
38. Febri Bramantio (L, TNI)
39. Komarawati alias Engkom (P)
40. Rizky Hafis (L)
Analisis Pakar dan Langkah Pemerintah
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan akan melakukan relokasi bagi warga di zona merah dan merestorasi kawasan kaki Gunung Burangrang. “Kondisi permukiman dan lahan pertanian di sana sudah sangat berisiko. Struktur tanah labil ditambah aktivitas pertanian sayur yang masif memperbesar potensi longsor,” tegasnya.
Pakar Geologi ITB, Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, menambahkan wilayah tersebut secara alamiah memiliki lapisan pelapukan vulkanik tua yang tebal. Ketika diguyur hujan intensitas tinggi, air mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.
“Pada kondisi jenuh air, kekuatan geser material pembentuk lereng menurun drastis. Lereng tidak lagi mampu menahan bebannya sendiri, sehingga memicu aliran lumpur (mudflow) yang sangat mematikan,” pungkasnya.






