Ciamis –
Pagi baru saja menyingsing di Bandung ketika mobil-mobil Elf mulai berdatangan ke Terminal St Hall, Rabu (11/3/2026). Beberapa sopir terlihat membersihkan kendaraan mereka, sementara yang lain duduk santai menunggu antrean keberangkatan.
Di antara para sopir itu ada Dadang (56), pria asal Malangbong yang sudah lebih dari dua dekade menghabiskan hidupnya di balik kemudi Elf jurusan Bandung-Ciamis via Panjalu.
Bagi Dadang, terminal dan jalan raya bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga bagian dari rutinitas yang telah dijalani selama puluhan tahun.
Saat berbincang di sela menunggu giliran berangkat, Dadang bercerita bahwa suasana menjelang Lebaran tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, jumlah penumpang yang datang ke terminal masih jauh dari harapan.
“Masih sepi, di bawah rata-rata. Sama hari biasa lebih parah sekarang. Kemarin 3 hari jelang puasa sempat ramai, tapi terus sepi sampai sekarang,” ucap Dadang dari balik kemudinya.
Meski begitu, ia masih menyimpan harapan bahwa arus mudik nanti akan membawa lebih banyak penumpang.
“Mudah-mudahan nanti ramai ya, semoga ada lonjakan penumpang,” katanya.
Rutinitas Subuh dari Panjalu
Sebagai sopir Elf, Dadang menjalani rutinitas yang dimulai sangat pagi. Ia menjelaskan bahwa setiap hari dirinya berangkat dari Panjalu saat sebagian besar orang masih tertidur.
Setibanya di Bandung, Dadang menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sembari menunggu penumpang. Dalam sehari, ia hanya menempuh satu rit perjalanan.
“Jam 4 pagi dari Panjalu, sampai sini jam setengah 8. Terus di sini nunggu antrean, baru nanti berangkat lagi ke Panjalu jadi sehari hanya sekali pulang pergi kalau saya,” terangnya.
Rutinitas itu telah ia jalani sejak 2004, ketika pertama kali memutuskan bekerja sebagai sopir Elf di jalur Bandung-Ciamis. Selama lebih dari dua dekade, jalan yang sama terus ia lintasi hampir setiap hari.
“Sejak 2004 jadi sopir, sudah 22 tahun,” ujar Dadang.
Suasana Lebaran yang Tak Lagi Sama
Pengalaman panjang itu membuat Dadang merasakan langsung perubahan besar dalam dunia angkutan antarkota, terutama saat musim mudik Lebaran.
Menurut Dadang, suasana menjelang Lebaran pada masa lalu terasa jauh lebih hidup. Terminal dipenuhi calon penumpang, dan kendaraan sering kali berangkat dalam kondisi penuh.
“Jauh beda, dulu mah ramai penumpang, suasana juga ramai kerasa mau lebarannya. Kalau sekarang makin sepi makin sepi tiap tahun, makin parah,” katanya.
Ia mengingat bagaimana perjalanan menuju Panjalu dahulu bisa memakan waktu sangat lama karena kepadatan kendaraan di jalan. Kini kondisi itu hampir tidak pernah ia rasakan lagi. Menurutnya, perjalanan yang dulu sangat lama kini bisa ditempuh jauh lebih cepat.
“Ya mobil penuh, di jalan macet bahkan ke Panjalu itu sampai 12 jam perjalanan dari jam 8 pagi sampainya jam 8 malam,” jelasnya.
“Kalau sekarang paling 4-5 jam tergantung di jalan situasinya ramai enggak. Beda kalau dulu pasti lama macet kalau mau lebaran,” imbuh Dadang.
Meski perjalanan menjadi lebih singkat, Dadang mengaku kondisi sekarang justru tidak lebih baik bagi para sopir. Baginya, masa lalu tetap terasa lebih menguntungkan.
“Enak dulu, dulu pemasukan masih ada (lebihnya), kalau sekarang cepat tapi uang kurang karena penumpang gak ada,” tutur dia.
Penghasilan yang Tak Menentu
Sepinya penumpang berdampak langsung pada penghasilan yang ia bawa pulang setiap hari. Dadang menjelaskan bahwa sebagai sopir ia harus menyetorkan sejumlah uang kepada pemilik kendaraan.
“Gak tentu, kadang cuma bisa setor doang, pulang bawa Rp100 ribu kurang. Sehari itu minimal setor Rp150 ribu, kalau lagi ramai lebih tergantung saya kasihnya, bisa Rp300 ribu,” ucapnya.
Belakangan ini, menurutnya, bahkan untuk memenuhi setoran saja terasa semakin sulit. Keadaan tersebut membuat uang yang ia bawa pulang untuk keluarga sering kali sangat terbatas. Namun Dadang mengatakan keluarganya sudah memahami kondisi pekerjaannya.
“Tapi sekarang minim terus, ini udah empat hari gak setoran cuma ada Rp100 kurang sehari. Kalau gitu nanti saya rapel setorannya. Ya seadanya aja, kalau kaya gini kurang kadang gak bawa uang,” kata Dadang.
Ia menyebut keluarga di rumah tidak pernah banyak menuntut. Yang terpenting bagi mereka adalah Dadang tetap selamat selama bekerja di jalan.
“Ya gimana lagi, sudah terbiasa keadaannya begini kalau ada Alhamdulillah. Yang penting keluarga mah saya aman di jalan,” ujar Dadang dengan senyum.
Momen Menegangkan di Jalan
Selama lebih dari dua puluh tahun menjadi sopir, Dadang juga pernah mengalami kejadian yang nyaris membahayakan dirinya dan para penumpang. Salah satu peristiwa yang paling ia ingat terjadi di jalan Tol Pasirkoja.
“Yang paling ingat itu waktu di Tol Pasirkoja. Waktu itu mobil blong remnya. Untungnya saya gak panik waktu itu penumpang penuh,” tegasnya.
Situasi tersebut terjadi ketika kendaraannya hendak memasuki gerbang tol. Tanpa pikir panjang, Dadang memilih menabrakkan Elf yang ia bawa ke bus di depannya.
“Pas mau masuk gerbang tol mobil gak berhenti, saya tabrakin aja ke bus di depannya. Alhamdulillah gak ada yang terluka parah, cuma mobil rusak ya,” terangnya.
Belum Siap Meletakkan Kemudi
Di usianya yang kini menginjak 56 tahun, Dadang sebenarnya sudah beberapa kali diminta oleh anak-anaknya untuk berhenti bekerja. Namun ia merasa masih mampu menjalani pekerjaannya seperti biasa.
Bagi Dadang, profesi sopir bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan hidup yang telah ia jalani selama puluhan tahun.
“Kalau anak nyuruh pensiun tapi saya bilang masih kuat jadi saya perpanjang kontrak lagi jadi sopir,” tutup Dadang.







