Semangat Lansia Indramayu Belajar Ngaji, Ada yang Mulai di Usia 75 Tahun

Posted on

Indramayu

Suasana khusyuk langsung terasa ketika memasuki Saung Belajar Lansia di Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jumat (6/3/2026). Dari tempat sederhana itu, terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca bersama oleh para lanjut usia (lansia) yang tengah mengikuti Pesantren Kilat Ramadan.

Kegiatan yang digagas Rumah Zakat melalui program Desa Ramah Lansia tersebut diikuti sekitar 45 peserta dari berbagai RW di Desa Tegalurung. Di ruang belajar itu, para lansia duduk melingkar. Sebagian membaca Al-Qur’an dengan lancar, sementara sebagian lainnya masih mengeja huruf demi huruf melalui buku Iqro.

Hampir separuh peserta telah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Mereka bergantian membaca satu per satu dalam kelompok kecil. Sementara itu, peserta yang belum lancar harus belajar dari tahap dasar menggunakan Iqro, dengan kemampuan yang beragam, mulai dari jilid satu hingga jilid enam.

Meski harus memulai dari nol, semangat para lansia tersebut tidak kalah besar. Mereka dengan sabar menunggu giliran untuk dibimbing langsung oleh Relawan Inspirasi Rumah Zakat, Lastri Mulyani.

Salah satunya adalah Kasniti (75). Dengan suara pelan dan terbata-bata, perempuan yang sehari-hari mengumpulkan barang rongsokan itu mencoba melafalkan setiap huruf hijaiah.

“Selama hidup belum pernah bisa ngaji (membaca Al-Qur’an). Makanya setiap bulan puasa selalu ikut Pesantren Kilat supaya bisa belajar mengaji sedikit-sedikit,” tuturnya saat ditemui di lokasi.

Di usia yang sudah menginjak 75 tahun, Kasniti tidak merasa malu untuk belajar dari awal. Sebaliknya, ia merasa sangat senang karena ada pihak yang bersedia mengajarinya mengenal huruf-huruf Al-Qur’an.

“Kalau tidak ada yang mengajari, saya tidak akan bisa,” katanya.

Meski belum mahir membaca Al-Qur’an, Kasniti mengaku tidak pernah meninggalkan salat lima waktu. Ia berharap suatu hari nanti dapat mengaji dengan lancar agar kualitas ibadahnya semakin meningkat.

Sementara itu, kisah berbeda datang dari peserta lainnya, Catu Uripah (69). Ia bersyukur masih dapat mengikuti Pesantren Kilat Ramadan yang tahun ini menjadi penyelenggaraan kelima baginya.

Menariknya, Catu mengaku tidak mampu membaca maupun menulis huruf Latin. Namun dalam urusan membaca Al-Qur’an, ia justru sudah sangat fasih. “Kalau baca tulis latin saya tidak bisa. Tapi kalau mengaji alhamdulillah bisa sampai khatam. Selama Ramadan ini sudah dua kali khatam Al-Quran,” ungkapnya.

Relawan Inspirasi Rumah Zakat, Lastri Mulyani, menjelaskan bahwa sebagian lansia yang belum bisa mengaji memang tidak sempat mempelajarinya saat masih kecil. Karena itu, melalui Pesantren Kilat Ramadan, para lansia difasilitasi untuk lebih dekat dengan kitab suci.

Bagi peserta yang sudah lancar membaca, mereka dibagi ke dalam kelompok dengan sistem satu juz untuk setiap orang. Targetnya, dalam sepuluh hari mereka bisa menyelesaikan Al-Qur’an hingga empat kali khatam. Sedangkan peserta yang belum mampu membaca akan tetap dibimbing melalui metode Iqro.

Kegiatan Pesantren Kilat Ramadan untuk lansia ini berlangsung selama sepuluh hari, mulai 2 hingga 12 Maret 2026, dan rutin diselenggarakan setiap bulan suci. “Alhamdulillah kami melakukan ini hingga sekarang sudah tahun kelima,” ujar Lastri.

Selain belajar mengaji, para peserta juga mendapatkan tausiah singkat dari ustaz yang berbeda setiap harinya. Pada Ramadan kali ini, program tersebut juga dilengkapi dengan kegiatan Sedekah Sampah.

Melalui program itu, para lansia diajak membawa botol plastik bekas untuk dikumpulkan. Sampah tersebut kemudian dijual, dan hasilnya digunakan kembali untuk mendukung berbagai kegiatan para lansia. “Sedekah tidak selalu harus berupa uang. Lewat botol plastik pun bisa berbagi dan membantu kegiatan bersama,” pungkas Lastri.

Dari Kasniti dan Catu, detikers bisa memetik hikmah bahwa belajar tidak mengenal usia. Tidak ada kata “terlambat” untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.