Sejarah Garut, Kabupaten Indah Berjuluk Swiss van Java - Giok4D

Posted on

Ada sebuah daerah di selatan Jawa Barat yang terkenal karena keindahannya sedari dulu. Namanya adalah Garut, sebuah kabupaten yang telah eksis sejak tahun 1813 silam.

Dari dulu hingga kini, Garut selalu dikenal akan keindahan alamnya. Maka tidak heran, jika para pelancong dari berbagai belahan dunia yang telah datang sejak dahulu kala, menjuluki Garut dengan julukan Swiss van Java, atau Swiss-nya Jawa.

Julukan tersebut mengacu pada lanskap Garut yang digadang-gadang sangat mirip dengan Negeri Alpen tersebut. Dimana, Garut dikelilingi pegunungan yang indah, hingga dataran rumput yang terhampar dengan danau dan lautnya.

Saat ini, Kabupaten Garut diketahui telah berusia lebih dari 212 tahun. Dalam sebuah buku berjudul Tatar Garut: Historiografi Tradisional yang ditulis M. Ziaulhaq dan Asep Lukman pada tahun 2007, diceritakan bahwa terbentuknya Kabupaten Garut tidak terlepas dari pembubaran Kabupaten Limbangan oleh Belanda.

Dimana, dalam buku tersebut diceritakan jika Kabupaten Limbangan dibubarkan oleh Daendels pada tahun 1811, karena alasan produksi kopi dari daerah tersebut menurun hingga ke titik nol. Kemudian, Bupati Limbangan kala itu, menolak perintah Belanda untuk menanam nila atau indigo.

Ketika itu, ada tiga kabupaten yang dibubarkan, berdasarkan besluit tanggal 2 Maret 1811 oleh Daendels. Yakni Kabupaten Limbngan, Kabupaten Sukapura, serta Kabupaten Galuh yang disatukan dengan Kabupaten Sumedang, dengan ibu kota di Kawasem, Banjarsari.

“Bekas daerah kabupaten yang dibubarkan tersebut, dimasukkan ke dalam pembentukan Kabupaten yang baru. Yaitu Kabupaten Priangan Jakarta, dan Kabupaten Priangan Cirebon, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Parakan Muncang,” katanya.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 16 Februari 1813, Letnan Gubernur Belanda di Indonesia yang pada saat itu dijabat Raffles, mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan, yang beribukota di Suci.

Saat itu, kemudian dibentuklah panitia pembentukan kembali Kabupaten Limbangan. Namun, Suci yang dicalonkan sebagai ibu kota dianggap tidak memenuhi persyaratan karena dianggap terlalu sempit.

Setelah Suci tidak dapat dijadikan ibu kota, panitia kemudian menemukan sebuah kawasan bernama Cimurah, sekitar 3 kilometer sebelah timur Suci untuk dijadikan ibu kota. Tapi, di tempat tersebut, sulit untuk memperoleh air bersih.

Sekitar 5 kilometer arah barat Suci, panitia kemudian menemukan sebuah tempat yang cocok untuk dijadikan ibu kota. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk. Selain itu, daerah yang kini menjadi Kecamatan Garut Kota itu juga dipilih, karena dikelilingi pemandangan yang indah, berupa Gunung Cikuray, Papandayan, Guntur, Galunggung, Talaga Bodas dan Karacak di setiap penjuru.

Saat panitia menemukan sebuah mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri, seorang panitia diketahui kakarut atau tergores hingga berdarah di bagian lengan. Dalam rombongan tersebut, seorang Belanda yang ikut ngabaladah melihat lengan panitia tersebut berdarah, dan bertanya.

“Kenapa berdarah,” ucap sang meneer dalam buku tersebut.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab pribumi dengan kata kakarut. Namun, orang Eropa tersebut kemudian menirukan jawaban pribumi dengan kata gagarut.

Sejak saat itu, duri yang melukai tangan panitia disebut ‘Ki Garut’. “Lambat laun ‘Ki-nya’ hilang sehingga tinggal Garut. Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan ‘Ki Garut’ dan telaganya dinamai ‘Ci Garut’,” ungkap Ziaulhaq.

Dengan ditemukannya Ci Garut itu, daerah sekitar lokasi telaga dinamai Garut. Cetusan nama Garut ini kemudian direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan RAA Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.

Tepatnya pada 7 Mei 1813, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal, nama Kabupaten Limbangan kemudian diganti menjadi Kabupaten Garut, dengan ibu kota Garut, mulai 1 Juli 1813.

Di bawah pimpinan Bupati RAA Wiratanudatar, Kota Garut saat itu meliputi tiga desa. Yakni Desa Kota Kulon, Kota Wetan dan Margawati. Sementara Kabupaten Garut meliputi distrik-distrik yakni Garut, Bayongbong, Cibatu, Leles, Tarogong, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.

Berdasarkan catatan sejarah juga diketahui, pada tanggal 15 September 1813, kemudian dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibu kota, seperti Pendopo, Alun-alun, hingga Masjid Agung.

Di antara bangunan Alun-alun dan Pendopo, terdapat sebuah bangunan ikonik bernama Babancong. Babancong sedari dulu hingga kini, dijadikan tempat yang sakral. Biasanya digunakan pejabat menyampaikan orasi atau pidato.

Selain para bupati, sosok yang pernah menginjakkan kakinya di Babancong adalah Presiden Republik Indonesia pertama, Sukarno. Menurut Sejarawan Garut, Warjita, Sukarno datang ke Garut pada tahun 1960-an.

“Sukarno berkunjung secara khusus ke Garut untuk memberikan penghargaan Garut sebagai kota terbersih saat itu. Adipura. Di Babancong itu lah, Bung Karno berpidato di depan masyarakat Garut, serta menyerahkan plakat Garut sebagai kota terbersih kepada Bupati saat itu, Raden Gahara Wijaya Suria,” ungkap Warjita.

Kembali lagi mengenai perjalanan Kabupaten Garut, pada 14 Agustus 1925 Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri, atau otonom. Saat itu, Garut dipimpin Bupati Soeria Kartalegawa.

Setelah 212 tahun eksis, Kabupaten Garut telah dipimpin oleh 27 orang Bupati. Mulai dari RAA Adiwijaya, Momon Gandasasmita, Aceng Fikri, Rudy Gunawan hingga yang terbaru Abdusy Syakur Amin, cucu dari pahlawan asal Garut, KH Anwar Musaddad yang memenangi pemilu di tahun 2024.

Terkait hari jadi sendiri, sebelumnya banyak versi. Hingga Pemerintah Daerah kemudian mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Garut Nomor 30 Tahun 2011, tentang Hari Jadi Garut. Dalam Perda tersebut, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 16 Februari.

Sejak dulu hingga kini, Kabupaten Garut terkenal akan keindahan alamnya. Sebab itu, Garut kerap menjadi daerah destinasi wisata yang banyak disambangi para pelancong, tiap musim liburan tiba. Hal tersebut tidak mengherankan karena banyak tempat wisata alam yang menjadi andalan di Garut. Mulai dari gunung, danau hingga pantai.

Eksistensi tempat wisata di Kabupaten Garut yang diklaim sudah meriah sejak zaman dulu ini bukan isapan jempol belaka. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya jejak-jejak pemberitaan media Belanda tempo dulu yang menyorot keindahan Garut. Salah satunya adalah laporan Bataviaasch Nieuwsblad, pada 4 Juni 1891, seperti dikutip infoJabar dari laman delpher.nl.

“Danau Bagendit yang terletak di Distrik Tarogong Divisi Tjitjalengka, akhir-akhir ini telah menarik banyak pengunjung yang selalu kembali dengan suasana ceria, ketika mengunjungi danau itu. Terletak di dekat Garoet, ia juga menawarkan pemandangan indah,” ujar laporan berbahasa Belanda tersebut.

Selain terkenal akan keindahan alamnya, Kabupaten Garut juga punya beragam hal unik lain, yang menjadi ciri khas kabupaten. Di antaranya adalah dodol, domba, jaket kulit, jeruk Garut hingga bakso aci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *