Sejarah dan Perjalanan Panjang Bandara Husein Sastranegara

Posted on

Nasib status Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung kembali menjadi perbincangan. Kali ini, wacana tukar guling aset antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat tengah mengemuka.

Bahasan ini mencuat setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan skema pertukaran aset antara Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang dikelola Jawa Barat dengan Bandara Husein Sastranegara yang berada di bawah pemerintah pusat, sebagai jalan keluar dari tekanan fiskal yang membebani APBD Jabar.

Dedi menegaskan bahwa Pemprov Jabar tidak berencana menjual saham BIJB Kertajati. Opsi yang ditawarkan adalah ruislag atau tukar guling aset, dengan menyerahkan Kertajati kepada pemerintah pusat dan mengambil alih pengelolaan sejumlah aset strategis di Bandung.

“Opsi saya adalah tukar aset. Husein, PT DI, dan sekitarnya diserahkan ke Pemprov, sedangkan Kertajati diserahkan ke pemerintah pusat,” ujar Dedi, Jumat (23/1/2025).

Usulan ini muncul setelah evaluasi panjang terhadap kinerja Kertajati yang dinilai tak kunjung memuaskan. Dengan mengelola Bandara Husein Sastranegara, Pemprov Jabar menilai pengembangan dapat dipacu lebih cepat karena infrastruktur dan pasarnya sudah terbentuk.

“Tidak butuh waktu lama untuk membenahinya. Misalnya, jika landasan pacu ditambah, dalam waktu singkat pasti ramai,” jelasnya.

Di balik diskusi soal nasibnya yang kembali mencuat, Bandara Husein Sastranegara menyimpan jejak sejarah panjang sebagai bagian penting dari perjalanan penerbangan nasional dan warisan militer Indonesia.

Bandara Husein Sastranegara (BDO) terletak di pusat Kota Bandung, yakni Jalan Pajajaran No. 156, Maleber, Kec. Andir, Kota Bandung. Bandara ini memiliki luas terminal sekitar 17.000 meter persegi dengan kapasitas total dapat melayani hingga 3,4 juta penumpang per tahun.

Dengan panjang landasan sekitar 2.200 meter x 45 meter, bandara ini disebut cocok untuk menampung pesawat menengah seperti Boeing 737 atau Airbus A320. Bandara Husein pun memiliki jarak yang kurang dari 3 kilometer dari Stasiun Kereta Api Bandung, sehingga memiliki konektivitas yang sangat tinggi.

Badara ini berada di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura Indonesia, yang sebelumnya dikenal sebagai Angkasa Pura II. Operasionalnya berada dalam pengawasan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Meskipun berada di wilayah Bandung, Bandara Husein bukan aset pemerintah daerah. Lahan bandara tercatat sebagai bagian dari kawasan Pangkalan TNI Angkatan Udara. Status tersebut menjadikan Husein sebagai bagian dari jaringan bandara nasional di bawah kendali pemerintah pusat.

Dilansir dari laman resmi TNI AU, sejarah hadirnya Bandara Husein Sastranegara di tengah Kota Bandung bermula pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada 1917, pemerintah kolonial membangun stasiun radio di wilayah Rancaekek, Bandung. Setahun kemudian, pembangunan lapangan terbang mulai dilakukan di beberapa titik di Bandung, termasuk Cipagalo dan Sukamiskin.

Pada masa awal, pembangunan lapangan terbang masih sangat sederhana. Pemerintah kolonial Belanda kala itu hanya meratakan tanah dan memperkeras permukaannya tanpa lapisan aspal. Pada 1920, lapangan terbang tersebut mulai digunakan secara resmi, ditandai dengan penerbangan sebuah pesawat yang terbang rendah selama beberapa menit.

Namun, kondisi tanah yang becek dan sulit diperkeras mendorong Belanda untuk membangun landasan baru di wilayah Cicukang, Desa Cibeureum. Kawasan ini kemudian dikenal sebagai Lapangan Terbang Andir. Lokasinya berada di wilayah Andir, sehingga nama tersebut melekat dalam sejarah penerbangan Bandung.

Lapangan Terbang Andir mulai dibangun secara lebih serius pada 1921 di atas lahan sekitar 45 hektare. Lahan tersebut sebelumnya milik warga dan kemudian dibeli oleh pemerintah Hindia Belanda. Pembangunan fasilitas masih terbatas, namun mulai mencakup hanggar pesawat, gudang, kantor pos, hingga bangunan pendukung militer.

Sejumlah pesawat asing pernah mendarat di Andir pada masa itu, termasuk Avro dan Glenmartin. Lapangan terbang ini juga menjadi bagian penting dari jaringan Angkatan Udara Belanda di wilayah Priangan.

Secara geografis, Lapangan Terbang Andir saat itu berbatasan dengan Desa Cibeureum di sisi barat, Sungai Cilimus di sisi timur, Cibogo di sisi utara, serta jalur kereta api di wilayah Maleber di sisi selatan. Lokasi ini membuat Andir menjadi titik strategis bagi operasi penerbangan dan militer kolonial.

Setelah Indonesia merdeka, proses pengalihan pangkalan udara dari Belanda ke Republik Indonesia mulai berlangsung. Pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar pada 1949 membuka jalan bagi serah terima aset militer, termasuk pangkalan udara.

Pangkalan Udara Andir menjadi salah satu pangkalan pertama yang diserahkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia. Proses serah terima berlangsung bertahap sejak Januari hingga Juni 1950. Pada tahap awal, pihak Belanda hanya menyerahkan sebagian area, terutama fasilitas penerbangan di sisi utara.

Beberapa bulan kemudian, seluruh kawasan Pangkalan Udara Andir resmi berada di bawah kendali AURI. Sejak saat itu, Andir berperan sebagai pangkalan strategis pertahanan udara sekaligus pusat aktivitas penerbangan di wilayah Jawa Barat.

Sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu perintis Angkatan Udara Indonesia, nama Pangkalan Udara Andir kemudian diubah menjadi Pangkalan Udara Husein Sastranegara. Perubahan nama ini ditetapkan pada 17 Agustus 1952 melalui keputusan Kepala Staf Angkatan Udara.

Dalam perkembangannya, kawasan Husein tidak hanya berfungsi sebagai pangkalan militer, tetapi juga melayani penerbangan sipil dan komersial. Selama bertahun-tahun, Bandara Husein Sastranegara pun menjadi ikon sekaligus gerbang utama bagi penerbangan ke dan dari Kota Bandung.

Nama bandara ikonik Kota Bandung ini merujuk pada nama salah satu tokoh perintis Angkatan Udara Republik Indonesia, Husein Sastranegara. Ia dikenang sebagai pria muda penuh semangat yang berperan meletakkan fondasi awal kekuatan udara Indonesia.

Husein lahir dari keluarga ningrat Priangan yang memiliki latar belakang birokrasi pada masa Hindia Belanda. Ayahnya merupakan pejabat pemerintahan kolonial yang pernah menjabat sebagai demang dan patih di wilayah Priangan Timur. Lingkungan keluarga ini membentuk kepercayaan diri dan cara pandang Husein sejak kecil.

Husein menempuh pendidikan dasar di sekolah Eropa di Bandung sebelum melanjutkan ke jenjang menengah di HBS Bandung dan Jakarta. Setelah lulus pada 1939, ia melanjutkan studi ke Technische Hoge School di Bandung yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.

Pecahnya Perang Dunia Kedua mengubah arah hidupnya. Pemerintah Hindia Belanda kala itu mulai membuka peluang bagi pemuda pribumi untuk mengikuti pendidikan penerbang militer. Husein memanfaatkan kesempatan tersebut dan memilih meninggalkan bangku kuliah untuk mendaftar di sekolah penerbang di Kalijati, Subang.

Dari sepuluh pemuda pribumi yang diterima dalam angkatan tersebut, hanya lima orang yang berhasil meraih brevet penerbang. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai perintis dunia penerbangan Indonesia. Meskipun Husein hanya memperoleh lisensi terbatas untuk pesawat bermesin tunggal, kontribusinya tetap penting dalam sejarah aviasi nasional.

Setelah gagal melanjutkan pendidikan penerbang lanjutan, Husein sempat beralih ke jalur kepolisian. Ia mengikuti pendidikan Inspektur Polisi di Sukabumi dan kemudian bertugas di beberapa wilayah di Jawa Barat, termasuk Cianjur.

Situasi berubah setelah Jepang menyerah dan masa revolusi kemerdekaan dimulai. Husein kembali terjun ke dunia perjuangan bersenjata dan bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat. Ia kemudian terlibat dalam unit penerbangan yang dipimpin oleh Suryadarma.

Ketika Lapangan Udara Andir berhasil direbut oleh pejuang Indonesia, Husein mendapat kepercayaan untuk mengelola fasilitas tersebut. Namun, kondisi keamanan di Bandung memaksanya hijrah ke Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Di Yogyakarta, Husein ikut membangun dan memperkuat Angkatan Udara Republik Indonesia. Ia mengikuti pendidikan lanjutan di Sekolah Penerbangan dan kemudian bertugas sebagai instruktur sekaligus perwira operasi.

Pada masa awal berdirinya AURI, keterbatasan pesawat dan peralatan menjadi tantangan besar. Husein aktif menerbangkan dan menguji pesawat peninggalan Jepang yang kondisinya jauh dari ideal.

Husein terlibat dalam sejumlah penerbangan formasi jarak menengah dan jauh, termasuk rute dari Yogyakarta ke wilayah Jawa Barat dan Banten. Ia juga berperan dalam berbagai kegiatan penerbangan yang mendukung moral dan simbol perjuangan pada masa revolusi.

Pada 26 September 1946, Husein gugur saat melakukan uji terbang pesawat di atas Yogyakarta. Pesawat yang ia terbangkan mengalami kerusakan mesin dan jatuh terbakar, menewaskan Husein bersama seorang teknisi. Saat itu, usianya masih 27 tahun.

Negara memberikan penghargaan anumerta atas jasa jasanya, termasuk kenaikan pangkat menjadi Komodor Udara dan sejumlah tanda kehormatan. Sebagai bentuk penghormatan, nama Husein Sastranegara diabadikan sebagai nama pangkalan udara di Bandung sejak 1952.

Bandara Husein Sastranegara aktif melayani penerbangan komersial rute lokal maupun internasional dari dan menuju Kota Bandung selama bertahun-tahun ke belakang. Namun, penerbangan komersial di Bandara Husein pun mulai dibatasi hingga resmi dihentikan pada 29 Oktober 2023.

Sejumlah rute penerbangan yang sebelumnya dilayani di bandara tersebut dialihkan ke Bandara Kertajati. Keputusan ini bertujuan untuk mendorong optimalisasi Kertajati sebagai bandara utama Jawa Barat.

Namun, dalam praktiknya, Kertajati belum mampu menarik lonjakan penumpang yang diharapkan. Kondisi ini menimbulkan beban fiskal bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena sebagian tanggung jawab pembiayaan masih berada di tingkat daerah.

Wacana ini berkelindan dengan keinginan kuat Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang gencar menyuarakan reaktivasi Husein Sastranegara menjadi bandara yang melayani rute komersial lokal maupun internasional. Ia menilai hal tersebut mampu menghidupkan pariwisata Kota Bandung dan mendatangkan devisa.

Meski masih menemui sejumlah tantangan, saat ini wacana tersebut perlahan mulai terealisasi. Salah satunya adalah dengan kehadiran beberapa rute penerbangan domestik seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya pada Juli hingga Desember 2025.

Namun, nasib dan status Bandara Husein Sastranegara selanjutnya masih berada di persimpangan antara kebijakan fiskal, kebutuhan daerah, juga nilai sejarah. Apakah bandara ini akan kembali melayani penerbangan komersial secara utuh atau berfokus menjalani fungsinya sebagai pangkalan udara militer, kesemuanya masih menunggu keputusan politik dan kajian teknis di tingkat pusat maupun daerah.

Profil Bandara Husein Sastranegara

Sejarah Bandara Husein Sastranegara

Siapa Husein Sastranegara?

Bandara Husein Sastranegara Kini

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu perintis Angkatan Udara Indonesia, nama Pangkalan Udara Andir kemudian diubah menjadi Pangkalan Udara Husein Sastranegara. Perubahan nama ini ditetapkan pada 17 Agustus 1952 melalui keputusan Kepala Staf Angkatan Udara.

Dalam perkembangannya, kawasan Husein tidak hanya berfungsi sebagai pangkalan militer, tetapi juga melayani penerbangan sipil dan komersial. Selama bertahun-tahun, Bandara Husein Sastranegara pun menjadi ikon sekaligus gerbang utama bagi penerbangan ke dan dari Kota Bandung.

Nama bandara ikonik Kota Bandung ini merujuk pada nama salah satu tokoh perintis Angkatan Udara Republik Indonesia, Husein Sastranegara. Ia dikenang sebagai pria muda penuh semangat yang berperan meletakkan fondasi awal kekuatan udara Indonesia.

Husein lahir dari keluarga ningrat Priangan yang memiliki latar belakang birokrasi pada masa Hindia Belanda. Ayahnya merupakan pejabat pemerintahan kolonial yang pernah menjabat sebagai demang dan patih di wilayah Priangan Timur. Lingkungan keluarga ini membentuk kepercayaan diri dan cara pandang Husein sejak kecil.

Husein menempuh pendidikan dasar di sekolah Eropa di Bandung sebelum melanjutkan ke jenjang menengah di HBS Bandung dan Jakarta. Setelah lulus pada 1939, ia melanjutkan studi ke Technische Hoge School di Bandung yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.

Pecahnya Perang Dunia Kedua mengubah arah hidupnya. Pemerintah Hindia Belanda kala itu mulai membuka peluang bagi pemuda pribumi untuk mengikuti pendidikan penerbang militer. Husein memanfaatkan kesempatan tersebut dan memilih meninggalkan bangku kuliah untuk mendaftar di sekolah penerbang di Kalijati, Subang.

Dari sepuluh pemuda pribumi yang diterima dalam angkatan tersebut, hanya lima orang yang berhasil meraih brevet penerbang. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai perintis dunia penerbangan Indonesia. Meskipun Husein hanya memperoleh lisensi terbatas untuk pesawat bermesin tunggal, kontribusinya tetap penting dalam sejarah aviasi nasional.

Setelah gagal melanjutkan pendidikan penerbang lanjutan, Husein sempat beralih ke jalur kepolisian. Ia mengikuti pendidikan Inspektur Polisi di Sukabumi dan kemudian bertugas di beberapa wilayah di Jawa Barat, termasuk Cianjur.

Situasi berubah setelah Jepang menyerah dan masa revolusi kemerdekaan dimulai. Husein kembali terjun ke dunia perjuangan bersenjata dan bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat. Ia kemudian terlibat dalam unit penerbangan yang dipimpin oleh Suryadarma.

Ketika Lapangan Udara Andir berhasil direbut oleh pejuang Indonesia, Husein mendapat kepercayaan untuk mengelola fasilitas tersebut. Namun, kondisi keamanan di Bandung memaksanya hijrah ke Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Di Yogyakarta, Husein ikut membangun dan memperkuat Angkatan Udara Republik Indonesia. Ia mengikuti pendidikan lanjutan di Sekolah Penerbangan dan kemudian bertugas sebagai instruktur sekaligus perwira operasi.

Pada masa awal berdirinya AURI, keterbatasan pesawat dan peralatan menjadi tantangan besar. Husein aktif menerbangkan dan menguji pesawat peninggalan Jepang yang kondisinya jauh dari ideal.

Husein terlibat dalam sejumlah penerbangan formasi jarak menengah dan jauh, termasuk rute dari Yogyakarta ke wilayah Jawa Barat dan Banten. Ia juga berperan dalam berbagai kegiatan penerbangan yang mendukung moral dan simbol perjuangan pada masa revolusi.

Pada 26 September 1946, Husein gugur saat melakukan uji terbang pesawat di atas Yogyakarta. Pesawat yang ia terbangkan mengalami kerusakan mesin dan jatuh terbakar, menewaskan Husein bersama seorang teknisi. Saat itu, usianya masih 27 tahun.

Negara memberikan penghargaan anumerta atas jasa jasanya, termasuk kenaikan pangkat menjadi Komodor Udara dan sejumlah tanda kehormatan. Sebagai bentuk penghormatan, nama Husein Sastranegara diabadikan sebagai nama pangkalan udara di Bandung sejak 1952.

Bandara Husein Sastranegara aktif melayani penerbangan komersial rute lokal maupun internasional dari dan menuju Kota Bandung selama bertahun-tahun ke belakang. Namun, penerbangan komersial di Bandara Husein pun mulai dibatasi hingga resmi dihentikan pada 29 Oktober 2023.

Sejumlah rute penerbangan yang sebelumnya dilayani di bandara tersebut dialihkan ke Bandara Kertajati. Keputusan ini bertujuan untuk mendorong optimalisasi Kertajati sebagai bandara utama Jawa Barat.

Namun, dalam praktiknya, Kertajati belum mampu menarik lonjakan penumpang yang diharapkan. Kondisi ini menimbulkan beban fiskal bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena sebagian tanggung jawab pembiayaan masih berada di tingkat daerah.

Wacana ini berkelindan dengan keinginan kuat Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang gencar menyuarakan reaktivasi Husein Sastranegara menjadi bandara yang melayani rute komersial lokal maupun internasional. Ia menilai hal tersebut mampu menghidupkan pariwisata Kota Bandung dan mendatangkan devisa.

Meski masih menemui sejumlah tantangan, saat ini wacana tersebut perlahan mulai terealisasi. Salah satunya adalah dengan kehadiran beberapa rute penerbangan domestik seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya pada Juli hingga Desember 2025.

Namun, nasib dan status Bandara Husein Sastranegara selanjutnya masih berada di persimpangan antara kebijakan fiskal, kebutuhan daerah, juga nilai sejarah. Apakah bandara ini akan kembali melayani penerbangan komersial secara utuh atau berfokus menjalani fungsinya sebagai pangkalan udara militer, kesemuanya masih menunggu keputusan politik dan kajian teknis di tingkat pusat maupun daerah.

Siapa Husein Sastranegara?

Bandara Husein Sastranegara Kini

Gambar ilustrasi