Di kampung halamannya, panda hidup tenang di pegunungan Sichuan yang dingin, berkabut, dan penuh bambu. Bila dibayangkan kawasan itu semacam ‘Puncak’ versi China. Bedanya tanpa macet dan hening dari perang klakson. Namun pada 27 November 2025, seekor bayi panda memilih membuka mata pertama kalinya jauh dari semua itu, yaitu di kaki Gunung Pangrango, Bogor, Jawa Barat. Bukan di Sichuan. Bukan di Beijing. Tapi di Bogor.
Peristiwa kecil itu langsung jadi besar. Bukan cuma karena lucu, tapi karena bayi ini tercatat sebagai satu-satunya kelahiran panda raksasa di luar Tiongkok sepanjang 2025.
Di balik kelahiran itu ada kerja panjang lintas negara. Indonesia dan China menjalankan riset konservasi bersama lewat kolaborasi Taman Safari Indonesia Group (TSI) dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda (CCRCGP). Metodenya serius, bernama Assisted Reproductive Technology (ART). Namanya terdengar rumit, tapi intinya adalah sains bekerja, panda lahir, dunia tersenyum karena menyaksikan tingkah polah kelucuan beruang putih-hitam itu.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ikut menegaskan makna peristiwa ini tidak sekedar kelahiran satwa. “Tetapi menjadi bukti nyata kerja sama diplomasi lingkungan dan kolaborasi ilmiah internasional yang telah dibangun secara berkelanjutan antara Indonesia dan China,” kata Menhut Toni.
Ia juga mengingatkan bahwa Panda ini lahir dari kesinambungan komitmen tiga presiden, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan kini Prabowo Subianto. Jadi, ini bukan proyek musiman. Ini kerja lintas zaman.
Dari dalam TSI sendiri, Jansen Manansang selaku Co-Founder Taman Safari Indonesia Group dan penggagas program konservasi panda di Indonesia, tidak kalah bangga. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai bukti bahwa Indonesia tidak cuma ikut-ikutan urusan konservasi dunia.
Capaian ini, kata Jansen, menegaskan komitmen Indonesia dalam konservasi panda raksasa dunia, sekaligus menunjukkan bahwa TSI menjalankan pendekatan berbasis sains, disiplin ilmiah jangka panjang, dan standar kesejahteraan satwa kelas global.
Secara global, kata Jansen, kelahiran ini menempatkan Indonesia sebagai mitra aktif konservasi panda, khususnya di kawasan ASEAN. Bukan lagi penonton. Sudah naik ke panggung utama.
Negara juga turun tangan. Presiden memberi nama bayi panda itu Satrio Wiratama, atau dalam Mandarin Li Ao. Bukan sekadar nama lucu untuk foto-foto Instagram, tapi simbol kerja sama konservasi Indonesia-Tiongkok, sekaligus pengingat bahwa perlindungan alam dan pembangunan harus berjalan bareng.
“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja tim lintas disiplin, mulai dari dokter hewan, perawat satwa, peneliti, hingga mitra internasional. Fokus kami bukan hanya pada kelahiran, tetapi memastikan setiap tahapan dijalankan secara bertanggung jawab,” ujar Esther Manansang, Direktur Operasional dan Life Science Taman Safari Indonesia Group.
Ke depan, TSI berharap momen ini bisa memantik kesadaran publik bahwa konservasi bukan cuma soal hewan lucu dan foto manis, tapi investasi panjang untuk masa depan bangsa dan planet.







