Sukabumi –
Di bawah rindangnya deretan pohon cemara di kawasan pesisir Talanca, Sukabumi, sebuah mobil minibus tua berwarna merah marun terparkir tenang.
Kendaraan itu tidak tampak seperti mobil pada umumnya. Pintu samping dan belakangnya telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa membuka ke atas, layaknya sayap yang menaungi ‘harta karun’ di dalamnya.
Di balik ‘sayap-sayap’ besi itu, bergelantungan rapi rencengan kopi instan, minuman saset, hingga camilan ringan yang tersusun di rak-rak berwarna kuning cerah.
Di sanalah Tapip Sutarman (67) dan Komala (63) menghabiskan waktu, mengubah kendaraan tua mereka menjadi lapak rezeki yang menghidupi masa senja.
Sebuah stiker kuning yang tertempel di kaca samping mobil seolah menjadi proklamasi hidup mereka. Tulisannya menohok namun jenaka: “Menikmati mobil tua dan menikmati masa tua, tapi apa daya ini yang kupunya.”
Tulisan itu bukan sekadar hiasan, melainkan cerminan rasa syukur pasangan yang telah menikah sejak tahun 1983 ini.
“Mobil ini sempat menganggur setahun. Jadi harus bagaimana? Tidak mungkin dibikin odong-odong. Akhirnya ada teman menyarankan bikin warung pinggir jalan,” ujar Tapip mengenang awal mula ia membedah mobil tersebut empat tahun lalu belum lama ini.
Siang akhir pekan kemarin, suasana tampak syahdu. Tapip yang mengenakan topi dan kaos hitam bertuliskan ‘Over Think’ tampak duduk santai di kursi plastik merah, menikmati semilir angin laut.
Di hadapannya terhampar meja lipat sederhana tempat para pelanggan biasa menyesap kopi. Sementara itu, sang istri, Komala, dengan cekatan meracik minuman di bagian belakang mobil.
Dibalut kerudung berwarna dusty pink, ia melayani pembeli dengan senyum keibuan, seolah melayani anak cucu sendiri. Bagi mereka, berjualan keliling (mobile) bukan sekadar motif ekonomi, melainkan cara mereka menolak diam.
“Motivasinya awalnya karena nganggur. Kalau diam di rumah itu enggak enak. Anggap saja ini main sambil berusaha,” tutur Komala. Ia menikmati perannya sebagai navigator sekaligus mitra kerja suaminya.
Tapip dan Komala, merawat romantisme dengan cara mereka. Mengais rezeki seraya bertualang Foto: Syahdan Alamsyah/ |
Namun, perjalanan “warung berjalan” ini tak selalu semulus jalan aspal. Komala masih mengingat jelas getirnya rasa penolakan saat mereka mencoba mangkal di kawasan Palabuhanratu.
Niat hati ingin mencari nafkah, mereka justru diusir karena dianggap mengganggu.
“Kalau di Pelabuhan (Palabuhanratu) itu dukanya. Saat saya sudah duduk enak, tiba-tiba diusir. Rasanya enggak enak, padahal kita orang tua,” kenang Komala dengan nada lirih.
Beruntung, kini mereka menemukan “dermaga” yang ramah di sepanjang jalur pesisir Loji Simpenan hingga kawasan Bojongkopo, tempat di mana warga dan wisatawan menyambut kehadiran mobil unik mereka dengan hangat.
Meski berjualan dengan modal mobil tua dan recehan dari kopi saset, jangan remehkan semangat juang mereka.
Dari balik kemudi mobil inilah, Tapip dan Komala berhasil menuntaskan tanggung jawab besar sebagai orang tua, mengantarkan anak bungsu mereka hingga meraih gelar Sarjana Hukum.
Kini, di sisa usianya, mereka tak lagi mengejar ambisi duniawi yang muluk-muluk.
Kebahagiaan bagi Tapip dan Komala terpancar sederhana di bawah pohon cemara itu, duduk berdua di kursi plastik, ditemani mobil tua yang setia, dan mensyukuri setiap rupiah yang datang tanpa beban utang.
“Buat makan mah cukup. Rezeki mah ada saja jalannya,” pungkas Tapip mantap, sambil menatap jalanan yang siap ia jelajahi lagi esok hari bersama belahan jiwanya.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.








