Sampah Sayur dan Buah di Pasar Caringin Diolah Jadi Pakan dan Bioetanol

Posted on

Pasar Caringin, Kota Bandung, selama ini kerap menimbulkan sorotan. Sampah di sana seolah jadi masalah yang berkepanjangan, bahkan sampai viral di media sosial.

Namun kini, situasinya sudah jauh berbeda. Pengelola Pasar Caringin menggandeng salah satu perusahaan bernama PT Solusindo Bio Teknologi (SBT) untuk menangani sampah, terutama sampah organik yang biasanya berasal dari sayuran maupun buah-buahan.

Pantauan infoJabar belum lama ini, PT SBT menempati lahan sekitar 600 meter per segi yang disewa dari pengelola Pasar Caringin. Di lahan itu lah, mereka kini bisa mengolah sampah dengan kapasitas 20-25 ton per harinya.

“Sebetulnya ini baru berjalan satu bulan setengah, jadi sistemnya masih commissioning. Karena dari (target) 40 ton per hari, kita baru bisa (mengolah sampah) 20 ton per hari, dan terakhir itu 25 ton per hari. Tapi selesai Januari ini, kita target bisa 40 ton per hari,” kata Owner PT SBT, Diki Haedi.

PT SBT membawa sejumlah mesin pengolah sampah khusus organik yang didominasi sayuran dan buah-buahan. Setelah sampah itu dikumpulkan, mesin kemudian bekerja dengan meng-conveyor, peluruh atau melayukan sayuran dan buah, hingga masuk ke mesin press untuk mengurangi kadar airnya.

Setelah semuanya terolah, bahan baku sampah tersebut nantinya akan dijual menjadi pakan untuk kebutuhan peternakan. Sementara residunya, bisa diolah menjadi briket hingga bioetanol yang digunakan untuk keperluan bahan bakar.

“Yang kita jual ke peternak itu karena hasilnya lebih bagus dari rumput. Jadi untuk susu aja naiknya sekitar 2 liter per hari, sekitar 10 sampai 15 persenan lah,” ungkap Diki.

Investasi yang dilakukan pun terbilang menjanjikan. Per satu ton, perusahaannya mendapat tapping fee dari pengelola Pasar Caringin senilai Rp 60 ribu.

Meski sudah berjalan, Diki menyadari ada tantangan soal edukasi ke masyarakat, terutama pedagang Pasar Caringin soal penangan sampah. Sebab, kebanyakan dari mereka belum optimal memilah sampah antara organik dengan anorganik.

“Tapi intinya, ketika masuk di Caringin, ya, alhamdulillah. Kita bisa membuktikan gitu bahwa sampah itu bisa jadi sesuatu yang bermanfaat,” pungkasnya.

Gambar ilustrasi