Kuningan –
Dapur rumah Pak Roni (38) di Kelurahan Winduhaji, Kecamatan Kuningan, awalnya hanya dipenuhi irama sederhana menjelang sahur, suara sutil beradu dengan wajan, letupan minyak panas, dan aroma telur yang mulai matang.
Minggu (1/3/2026) dini hari itu, jarum jam tepat menunjuk pukul 03.00 WIB. Yeti, sang istri, sibuk menyiapkan santap sahur untuk keluarga, tenggelam dalam rutinitas yang hangat dan menenangkan. Namun, ketenangan itu runtuh dalam hitungan detik.
Di sela kesibukannya menggoreng telur, pandangan Yeti menangkap sesuatu yang bergerak pelan dari balik tabung gas. Dari celah gelap bawah kompor, seekor ular babi dengan sisik mengilat perlahan merayap keluar. Tubuhnya yang panjang dan lentur tampak kontras dengan cahaya dapur yang temaram. Yeti membeku. Napasnya tercekat.
Alih-alih menjauh, reptil itu justru bergerak semakin dekat, lalu menghilang masuk ke dalam celah mesin kompor dua tungku yang saat itu sedang menyala. Ancaman itu kini berada tepat di hadapannya, hanya berjarak beberapa senti dari tangannya yang masih memegang sutil.
Kepanikan tak lagi terbendung. Yeti berteriak histeris, menjauh seketika dari kompor, lalu dengan tangan gemetar menghubungi petugas pemadam kebakaran.
“Saat sedang menggoreng telur. Tiba-tiba melihat ular keluar dari bawah kompor gas lalu ularnya masuk lagi ke dalam kompor. Karena takut membahayakan, Istri Pak Roni segera menghubungi Pemadam Kebakaran Kuningan,” tutur Kepala UPT Damkar Kuningan, Andri Arga Kusuma.
Laporan darurat itu langsung direspons cepat oleh UPT Damkar Kuningan. Empat personel diterjunkan menuju lokasi. Setibanya di rumah Pak Roni, mereka mendapati situasi masih mencekam, ular tersebut belum keluar dan diyakini masih bersembunyi di dalam instalasi kompor.
Proses evakuasi pun berlangsung dramatis. Petugas harus membongkar dan mengangkat badan kompor dengan sangat hati-hati, mengingat risiko kebocoran gas dan kemungkinan serangan mendadak dari reptil tersebut. Ruang sempit di dalam kompor menjadi arena ‘persembunyian’ yang menyulitkan.
Arga mengungkapkan bahwa agresivitas ular itu sempat merepotkan anggotanya. Reptil tersebut bergerak lincah, berusaha menghindari tangkapan di ruang yang terbatas.
Setelah duel singkat selama lima menit yang terasa jauh lebih lama bagi penghuni rumah, ular itu akhirnya berhasil ditarik keluar pada pukul 03.10 WIB. Seekor ular babi sepanjang sekitar 1,2 meter berhasil diamankan. Diduga, hewan tersebut menyelinap masuk melalui celah lubang angin di atap samping rumah.
“Jenis ularnya ular babi atau yang juga dikenal dengan nama ular tembaga hitam sebuah spesies ular tikus yang tersebar luas di Asia tenggara. Panjangnya sekitar 1,20 meter. Untuk kesulitannya, ular sedikit agresif dan lincah dan mempunyai gigi yang tajam. Sehingga harus lebih berhati-hati, ” tutur Arga.
Ketegangan yang menyelimuti dapur kecil itu akhirnya mereda. Sahur yang sempat berubah menjadi mimpi buruk pun bisa kembali dilanjutkan, meski dengan sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun.
Pasca-kejadian tersebut, pihak Damkar mengimbau warga Kuningan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hewan liar, khususnya ular yang kerap mencari mangsa di area permukiman. Kebersihan rumah menjadi faktor penting agar tidak mengundang tikus.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan menutup rapat setiap celah atau lubang yang berpotensi menjadi pintu masuk. Selain itu, penggunaan aroma menyengat seperti karbol atau kapur barus di sudut-sudut rumah dapat membantu menghalau tamu tak diundang.







