Bandung –
Jalan Astana Anyar selalu punya cara menjemput. Pulang, bukan ke rumah, tapi ke masa kecil. Toko-toko dengan etalase mainan berjajar seperti lembar album yang terbuka. Boneka kecil, mobil-mobilan, tas warna-warni digantung. Di jalan itu, kaki melambat, seolah ada sesuatu yang menahan. Keinginan-keinginan kecil yang dulu kalah dengan uang jajan yang pas-pasan.
Di tengah toko-toko itu, berdiri sebuah warung yang tenang. Papan namanya sederhana, Waroeng Djahe By Ronde Jahe Gardujati. Dari luar tampak seperti toko biasa. Di dalam, tempo melambat. Lampu temaram memandikan ruangan dengan cahaya kuning yang hangat. Mainan-mainan jadul menggantung di atas bar. Makanan tempo dulu disajikan di sudut ruangan layaknya etalase warung lama. Aroma jahe menguar pelan, seperti sapaan yang tak perlu keras untuk didengar.
Di sini, waktu berjalan tanpa tergesa. Duduk, menunggu, lalu mengajak untuk mengingat. Tempat yang lahir dari perjalanan keluarga. Marsita Poerwanto (Sita) bercerita, usaha ini dijalankan bersama ayah, ibu, Sita, dan kakaknya. Pusatnya adalah gerobak ronde di Jalan Gardujati yang kerap dipenuhi pengunjung hingga harus rela berdiri.
“Dari situ kami kepikiran buka tempat yang lebih nyaman, supaya orang bisa duduk dengan layak,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Di Warung Jahe ini, menu diperluas dan konsepnya dipertegas. Bukan sekadar menjual minuman hangat, tapi juga menjual ingatan. Kata ‘Jahe’ di sini bukan hanya tentang rimpang yang menghangatkan tenggorokan, melainkan singkatan dari ‘Jajanan Hemat’.
“Misi balas dendam,” kata Sita sambil tersenyum.
Itulah dendam yang manis. Dendam atas masa kecil, ketika ia dan kakaknya seringkali berdiri di depan warung, hanya menatap jajanan yang tak selalu bisa dibeli dengan uang jajan yang terbatas. Lewat warung ini, katanya, keinginan-keinginan kecil itu seperti ditebus satu per satu.
Warungnya tak pernah sepi. Berbagai pengunjung lintas generasi selalu hadir. Di meja-meja kayu yang berjajar di sana, banyak cerita mengalir. Tentang ingatan sekolah, tentang permainan masa kecil, tentang jajanan yang kini kembali ditemui.
Di sini, waktu terasa hening, tak ada riuh, tak ada koneksi wifi. Bukan karena tertinggal zaman, tapi memang bagian dari rencana. Harapannya sederhana, orang-orang yang datang bisa benar-benar rehat. Duduk, berbincang, atau mengenang. Tak jarang terdengar percakapan seorang anak dan ayahnya.
“Dulu Papa main ini, kamu tahu tidak cara mainnya?” kata sang ayah sambil menunjuk sebuah mainan. Si anak menatap heran, lalu pelajaran kecil tentang cara bermain congklak pun dimulai.
Menariknya, belakangan ini Sita melihat perubahan yang tak pernah disangka. Warung semakin sering kedatangan anak muda, termasuk Generasi Z. Mereka mencari minuman tradisional, mencari sesuatu yang menghangatkan badan, barangkali sekaligus mencari jeda dari dunia yang bergerak cepat, notifikasi yang tak berhenti, dan layar yang terus menuntut perhatian.
“Saya cukup kaget, karena biasanya orang selalu mencari yang modern dan baru. Tapi sejarah memang berulang. Sekarang, dari rambut, fashion, sampai makanan, banyak yang kembali seperti dulu,”
Ketertarikan Gen Z pada hal-hal tempo dulu mungkin terdengar ganjil di era serba cepat. Tapi mungkin karena dunia terlalu bising, mereka mencari hangat dan tenang. Nostalgia menjadi semacam tempat singgah, bukan untuk lari dari hari ini, melainkan untuk bernapas sejenak sebelum kembali berjalan.
Bagi Sita, nostalgia bukan sekadar tren. Nostalgia adalah cara untuk mengingat bahwa di tengah hasrat mengejar yang baru, ada banyak hal lama yang masih layak dirawat.
“Ini waktu yang baik buat mengapresiasi apa yang sudah kita punya,” ujarnya.
Makanan, cerita, dan hubungan, semuanya menemukan ruangnya di sini.
Di luar, Jalan Astana Anyar terus bergerak dengan ritmenya sendiri. Di dalam Waroeng Djahe, waktu seolah berjalan lebih pelan, memberi kesempatan bagi setiap orang untuk menghangatkan tangan di mangkuk kecil, dan mungkin, untuk pulang sebentar ke masa yang pernah sederhana.







