Rumah Isi Sampah Ini Terjual dengan Harga Fantastis

Posted on

Jakarta

Jika dijual, rumah yang dipenuhi sampah, barang bekas, hingga kotoran hewan umumnya akan bikin orang malas membelinya. Akan tetapi, rumah ini justru berbeda.

Alih-alih tak ada yang mau membeli, rumah ini malah terjual dengan harga fantastis. Tak tanggung-tanggung, pembelinya rela mengeluarkan yang puluhan miliar untuk membelinya.

Dikutip dari detikProperti, rumah second memang kerap jadi incaran karena harganya bisa lebih bersahabat dibanding rumah baru. Namun biasanya, pembeli tetap mempertimbangkan banyak hal: lokasi strategis, bebas banjir, hingga kondisi bangunan. Semakin layak huni, umumnya harga pun semakin tinggi.

Tapi cerita dari Brookfield, Queensland, Australia, ini benar-benar di luar dugaan.

Rumah empat kamar tidur yang berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi di 77 Nioka Street, pinggiran Brisbane, itu kondisinya sangat memprihatinkan. Bagian dalamnya dipenuhi tumpukan sampah, barang-barang tak terpakai, serta kotoran hewan. Halamannya pun tak kalah berantakan, penuh barang rusak yang dibuang sembarangan dan dibiarkan bertahun-tahun tanpa perawatan.

Alih-alih terlihat seperti hunian nyaman, rumah itu lebih mirip gubuk tua di tengah hutan. Pohon dan tumbuhan liar tumbuh tak terkendali, membuat suasananya seperti bangunan terbengkalai.

Namun siapa sangka, rumah ‘kapal pecah’ ini malah laris manis. Dilansir dari Domain Australia, rumah tersebut dilelang pada 10 Februari 2026 oleh Queensland Public Trustee. Meski kondisinya mengenaskan, antusiasme pembeli sangat tinggi.

Sebanyak 40 peserta mendaftar untuk ikut lelang, dan sekitar 130 orang hadir menyaksikan proses yang berlangsung selama 25 menit itu.

Penawaran dibuka di angka US$ 800 ribu atau sekitar Rp 13,4 miliar (kurs Rp 16.800). Tak lama kemudian, angka langsung melonjak ke US$ 1 juta atau sekitar Rp 16,8 miliar.

Sebuah rumah di Australia laris manis diincar pembeli. Padahal kondisi rumahnya penuh dengan sampah. (Foto: Dok. Queensland Public Trustee)

Persaingan semakin panas. Penawaran terus naik perlahan hingga menyentuh US$ 1,2 juta.

“Saat harga mencapai US$ 1,2 juta, hanya tersisa dua dari penawar awal. Kemudian beberapa penawar langsung mengajukan angka penawaran sebesar US$ 1,27 juta,” kata Kepala Juru Lelang Paul Gaffney.

Tak berhenti di situ, satu penawar kembali menaikkan tawaran menjadi US$ 1,28 juta. Angka itulah yang akhirnya menjadi penawaran tertinggi dan diketok palu.

“Ada satu penawaran tandingan sebesar US$ 1,28 juta dan itu menjadi miliknya,” ujar Gaffney.

Jika dikonversikan, harga tersebut setara sekitar Rp 21,5 miliar. Fantastis untuk rumah yang bahkan tak layak huni.

Menariknya, seluruh peserta lelang tidak diizinkan masuk ke dalam rumah. Kondisinya yang sangat kotor dinilai berpotensi membahayakan kesehatan. Alhasil, proses lelang dilakukan di pinggir jalan, tepat di depan rumah itu.

Kini, pemilik baru harus bersiap kerja keras. Tumpukan sampah harus dibersihkan, renovasi besar kemungkinan tak terhindarkan, dan biaya perbaikan tentu tidak sedikit.

Sebuah rumah di Australia laris manis diincar pembeli. Padahal kondisi rumahnya penuh dengan sampah. (Foto: Dok. Queensland Public Trustee)

Meski begitu, daya tarik lokasi tampaknya menjadi faktor utama. Menurut Gaffney, para penawar berasal dari berbagai latar belakang.

“Para penawar tampaknya merupakan campuran dari penduduk lokal yang sudah mengenal daerah itu dengan baik dan keluarga yang ingin pindah ke Brookfield, serta beberapa pengembang dan investor yang mungkin berpikir itu akan menjadi peluang menarik jika bisa mendapatkannya dengan harga tepat,” pungkasnya.

Artikel lini telah tayang di detikProperti. Simak selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2