Roti Kopyor, Penjaga Rasa Ramadan di Pusat Kota Tasikmalaya | Giok4D

Posted on

Tasikmalaya

Menjelang magrib di bulan Ramadan, ruas Jalan Galunggung Kota Tasikmalaya diwarnai suasana berbeda. Meja-meja sederhana berdiri di atas trotoar, beralas plastik seadanya, dipenuhi deretan bungkusan hijau dari daun pisang. Jarak pedagang ini cukup rapat, beberapa titik bahkan ada yang berdampingan.

Pemandangan ini terjadi sejak puluhan tahun lalu setiap bulan Ramadan, sehingga menjadi semacam “template” bulan puasa di Kota Tasikmalaya. Roti kopyor, demikian nama kuliner yang dijajakan oleh para pedagang musiman di Jalan Galunggung Kota Tasikmalaya tersebut.

Bukan kudapan mewah, sekedar kreasi kuliner zaman dulu yang bertahan di tengah perubahan zaman.

Roti kopyor ini secara umum terdiri dari santan yang dikukus bersama gula dan pandan meresap ke dalam sepotong roti tawar dan potongan kelapa muda. Rasanya manis dan gurih. Sangat sederhana, tetapi justru di situlah daya pikatnya.

“Ya mulai lagi jualan roti kopyor, mudah-mudahan ada rejekinya,” kata Ucu, salah seorang pedagang roti kopyor, Kamis (19/2/2026). Perempuan 52 tahun itu tinggal di permukiman padat penduduk dalam gang sekitar Jalan Galunggung. Dia mengaku sudah puluhan tahun jadi pedagang roti kopyor musiman. Sejak harganya masih seribu atau dua ribu rupiah, sampai sekarang harganya Rp12 ribu.

“Saya sejak tahun 90-an jualan roti kopyor setiap bulan puasa. Roti kopyor Galunggung sudah terkenal, sudah legendaris. Pembeli datang dari mana-mana,” kata Ucu.

Menurut Ucu, roti kopyor tak sebatas makanan takjil, tapi merupakan kudapan nostalgia, pemantik memori masa lalu.

“Senang tuh kalau udah ada yang nostalgia-nostalgia makanan jadul. Biasanya orang Tasik yang sukses di perantauan, suka ngeborong banyak. Jadi teringat waktu kecil katanya,” kata Ucu.

Informasi yang dihimpun, roti kopyor yang dijual puluhan pedagang di Jalan Galunggung ini berasal dari satu produsen. Pemilik resep legendarisnya adalah mendiang pasangan Holid dan Dodoh.

“Kalau sekarang usahanya dijalankan oleh generasi kedua, oleh anak-anaknya. Jadi kalau mau roti kopyor Galunggung asli, ya hanya di Jalan Galunggung,” kata Ucu.

Titik lain yang ramai oleh penjual roti kopyor di Kota Tasikmalaya adalah sepanjang Jalan RAA Wiratanuningrat, atau sekitar kawasan Alun-alun Kota Tasik. Di sini roti kopyor yang dijajakan sudah mengalami modifikasi atau berbagai varian rasa. Ada yang sudah ditambah gula aren dan varian rasa lainnya.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Encang Hermawan (45), warga Kecamatan Sariwangi Tasikmalaya mengatakan roti kopyor menjadi contoh kuliner lokal yang bertahan bukan karena kemewahan, melainkan karena konsistensi rasa dan memori kolektif.

Dia juga menyoroti tentang peluang usaha bagi warga, meski dalam skala kecil.

“Bagi saya sekeluarga ini menu takjil wajib, kuliner jadul tapi enak. Makanya jauh-jauh juga dikejar. Terus bisa jadi penggerak ekonomi musiman. Asal ada kemauan, warga bisa dagang,” kata Encang.*