Roda Kehidupan Yogi, Dulu Susah Kini Bawa Timnas RI ke Final Piala Asia Futsal

Posted on

Cirebon

Di sebuah gang sempit Kampung Karang Anyar, Kelurahan Jagasatru Selatan, riuh rendah suara kendaraan Kota Cirebon seolah teredam oleh ketenangan di sebuah rumah sederhana. Di sanalah Tamirah (56) duduk, menggenggam ponselnya dengan tangan yang masih gemetar karena haru.

Hari ini, Sabtu (7/2/2026), bukan sekadar akhir pekan biasa bagi Tamirah. Putranya, Yogi Saputra, bocah yang dulu tumbuh dalam kepungan keterbatasan, kini berdiri tegak di ambang sejarah. Yogi mengenakan jersei Garuda di dada, bertarung melawan raksasa Iran dalam Final Piala Asia Futsal 2026 di Indonesia Arena.

Tak banyak kata yang terucap saat Yogi menghubungi ibunya pagi tadi, sekitar pukul 09.50 WIB. Bagi atlet kelahiran 2003 itu, suara ibunya adalah jimat paling ampuh.

“Yogi itu kalau mau tanding mendadak saja kasih kabar. ‘Doain ya, Mah,’ katanya. Saya cuma jawab, ‘Iya, semangat, fokus mainnya. Jangan ke mana-mana pikirannya biar menang,'” tutur Tamirah dengan mata berkaca-kaca.

Timnas Iran merayakan kemenangan dalam ajang AFC Futsal ASIAN CUP di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Timnas Futsal Indonesia nyaris meraih gelar juara pertamanya usai dikalahkan Iran hingga adu pinalti.Timnas Futsal Indonesia di final AFC Futsal ASIAN CUP di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto

Bagi Tamirah, melihat Yogi di layar televisi adalah sebuah keajaiban yang nyata. Ia kerap tak percaya, anak bungsu dari empat bersaudara itu kini menjadi tumpuan harapan jutaan rakyat Indonesia.

“Kadang-kadang saya bicara sendiri, ‘Aduh anakku ya Allah, rezekinya benar-benar.’ Alhamdulillah anaknya jempol, fokus, jujur ke bola,” ungkapnya bangga.

Memori Lontong dan Sepatu Pinjaman

Perjalanan Yogi menuju tim nasional bukanlah karpet merah yang bertabur fasilitas. Bakatnya memang sudah mengkilap sejak di SDN Pegajahan 3, namun ekonomi keluarga seringkali menjadi tembok tinggi.

Tamirah mengenang masa-masa sulit saat Yogi nyaris batal ikut turnamen karena tak punya uang untuk patungan tim. Beruntung, sang pelatih saat itu melihat “api” di mata Yogi dan membebaskannya dari biaya.

Ujian hidup semakin berat saat sang ayah berpulang pada 2016 akibat penyakit jantung. Sejak saat itu, Tamirah menjadi tulang punggung tunggal. Dari balik kepulan uap nasi lengko, lontong, dan nasi kuning yang ia jual di pos sekolah, ia merajut biaya sekolah dan mimpi futsal Yogi.

“Bapaknya sakit, jadi saya yang jualan buat sarapan pagi. Di tengah kesulitan itu, Yogi nggak pernah neko-neko. Cita-citanya cuma satu: bola,” kenang Tamirah.

Kini, lulusan SMKN 1 Cirebon yang memperkuat klub Pangsuma itu bukan lagi bocah yang pusing memikirkan uang patungan. Ia adalah salah satu aktor utama yang membawa Indonesia pertama kalinya menembus Final Piala Asia Futsal.

Laga melawan Iran bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah upaya meruntuhkan dominasi 17 tahun Iran dan Jepang di kancah Asia. Jika menang, nama Yogi Saputra akan tertulis dengan tinta emas sebagai pahlawan olahraga nasional.

Namun bagi Tamirah, kemenangan adalah bonus. Melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang ingin membahagiakan orang tua adalah juara yang sesungguhnya.