Musim 2011/2012 menjadi salah satu periode yang tak terlalu panjang dalam perjalanan karier Robbie Gaspar di Indonesia. Pemain asal Australia itu hanya seumur jagung berseragam Persib Bandung, namun ia meninggalkan kisah unik yang tak mudah dilupakan.
Lahir di Perth, Australia, 7 Februari 1981, Robert Mark ‘Robbie’ Gaspar memulai karier sepak bolanya di Eropa bersama HNK Hajduk Split di Kroasia pada tahun 1998/1999.
Walau tidak lama di Eropa, ia mendapatkan dasar teknik dan disiplin yang membentuk karakternya sebagai gelandang pekerja keras dengan visi permainan luas.
Dia kemudian kembali ke Australia dengan memperkuat Cockburn City SC (1999/2000), Sydney Olympic (2000/2001) dan Perth SC (2001/2002) sebelum merantau ke Asia Tenggara bersama klub Brunei Darussalam, QAF SC (2002/2003).
Musim berikutnya, Gaspar bermain untuk Sabah FA di Liga Malaysia selama semusim. Pada musim 2004/2005, dia mulai bermain di Indonesia dan bergabung dengan Persita Tangerang.
Hanya semusim di Persita, Robbie hijrah ke Persiba Balikpapan. Empat musim dihabiskannya saat memperkuat Beruang Madu sebelum hengkang ke Persema Malang di musim 2009/2010. Dua musim bersama Persema, namanya cukup menonjol sebagai pemain asing di Indonesia.
Tahun 2011, Persib Bandung merekrut Gaspar untuk mengarungi kompetisi Liga Super Indonesia 2011/2012. Diharapkan bisa menjadi motor serangan dan pengatur tempo, Gaspar diplot mengisi lini tengah Maung Bandung.
Namun perjalanan kariernya di Bandung tak berjalan mulus. Ia hanya tampil 20 kali tanpa mencatatkan gol maupun assist. Cedera membuat kontribusi Robbie terbatas hingga akhirnya hengkang dan kembali ke Australia.
Meski singkat, Gaspar meninggalkan sesuatu yang unik. Ia memberikan sebuah alat peraga tendangan bebas yang dibawanya langsung dari Australia. Alat peraga itu berbentuk pagar manusia imitasi yang digunakan Persib untuk berlatih.
“Gaspar bilang itu katanya buat Persib. Dia bawa langsung dari Australia,” ujar Sekretaris Tim Persib saat itu, Yudiana, di Stadion Persib pada 18 November 2011.
Yudiana menambahkan, terakhir kali Persib memiliki alat serupa adalah pada era kepelatihan Jaya Hartono, namun bahannya berbeda. “Waktu pelatihnya Mas Jaya, kita punya alat peraga, tapi bahannya beda, enggak seperti yang dibawa Gaspar,” katanya.
Harapan Gaspar sederhana saat memberi ‘mainan’ itu. Dia ingin agar para pemain Persib bisa memaksimalkan alat tersebut sehingga memiliki eksekutor tendangan bebas yang lebih berbahaya.
Setelah angkat kaki dari Persib, Gaspar kembali ke Australia dan bermain untuk Inglewood United, Floreat Athena, hingga akhirnya memutuskan pensiun pada 2016.