Konflik satwa liar dan manusia masih menjadi sorotan di Jawa Barat. Sejumlah satwa liar kerap meneror warga dengan memangsa hewan ternak, dan tidak sedikit konflik yang terjadi akhirnya berujung pada hilangnya nyawa, baik satwa maupun manusia.
Kondisi tersebut menunjukkan masih rapuhnya upaya pencegahan konflik antara manusia dan satwa liar, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Oleh karena itu, diperlukan langkah mitigasi dan perlindungan yang lebih efektif.
Berikut rangkuman konflik satwa dengan manusia yang sempat terjadi di Jabar:
Seorang petani di Kabupaten Sukabumi bernama Abah Ocang (70), tewas usai berduel dengan ular king kobra di Kampung Cipetir, Desa Cidadap, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi.
Ocang ditemukan meninggal dunia pada Senin (6/10) pagi di dalam rumahnya. Di lokasi kejadian, warga juga menemukan seekor ular king kobra sepanjang sekitar empat meter dalam kondisi mati. Ular tersebut diduga tewas setelah terjadi perlawanan sengit saat korban berusaha mempertahankan diri.
Peristiwa tragis tersebut terjadi ketika Ocang sedang sendirian di rumah. Letak rumahnya yang terpencil, dikelilingi kebun karet dan jauh dari permukiman warga lain, membuat korban tidak sempat mendapatkan pertolongan saat serangan terjadi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi kejadian, ular king kobra tersebut diduga masuk ke dalam rumah melalui area dapur dan langsung menyerang korban secara agresif. Ular itu mematuk kaki kanan Ocang, namun pria lanjut usia tersebut diduga sempat melakukan perlawanan dengan peralatan seadanya.
Tanda-tanda perkelahian terlihat jelas di dalam rumah, mulai dari perabot yang berantakan hingga tanah di sekitar dapur yang penuh bekas gesekan. Ular king kobra akhirnya ditemukan tewas dengan kepala tertancap tongkat kayu, yang diduga menjadi bukti perlawanan terakhir korban sebelum meninggal dunia.
Meski terluka parah akibat reaksi racun yang mulai menyebar, Ocang diduga berupaya mencari bantuan dengan berjalan keluar rumah menuju permukiman warga. Namun, kondisi fisiknya yang melemah membuat ia gagal dan akhirnya meninggal dunia di sebuah jalan yang tak jauh dari kediamannya.
Menanggapi kejadian tersebut, tim gabungan dari unsur kecamatan, kepolisian, dan tim medis segera melakukan olah TKP serta pemeriksaan pada jenazah korban. Selain itu, pemerintah desa telah berkoordinasi untuk memberikan pendampingan dan bantuan yang diperlukan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Konflik satwa liar dengan manusia juga pernah terjadi pada September 2023 yang lalu di Kabupaten Sukabumi. Seekor macan tutul Jawa mati di kawasan hutan Legok Paku, Cisolok, Kabupaten Sukabumi usai dilempar batu hingga disabet golok oleh sekelompok warga yang sedang mencari madu.
Peristiwa itu bermula ketika anjing peliharaan yang dibawa warga ke hutan tiba-tiba menyerang sesuatu. Penasaran dengan kejadian tersebut, warga pun berlari mendekat dan tanpa diduga langsung berhadapan dengan seekor macan tutul.
Merasa keselamatan mereka terancam, warga melempari macan tutul dengan batu. Dalam situasi terdesak, salah seorang warga menyabetkan golok ke arah hewan tersebut hingga akhirnya macan tutul itu mati di tempat.
Insiden berujung penyesalan datang dari seorang warga bernama Hartono (41) alias Kelep. Ia orang yang menebas si macan tutul menggunakan golok hingga membuatnya terkapar tak bernyawa.
“Saya dari awal juga sudah tahu bahwa hewan ini dilindungi, cuma saya merasa terpaksa. Namun semua yang ada di sini mau saya serahkan ke pihak berwajib,” lirihnya.
“Memang si hewan itu mau lari ke permukiman, makanya saat itu lari ke bawah karena si macan mau ke permukiman, kalau ke atas enggak akan saya kejar. Namanya dalam hutan situasinya lain, pas mau ke permukiman mau ke persawahan mau ke permukiman, jaraknya kurang dari satu kilometer,” ungkapnya.
Kemudian berdasarkan catatan infoJabar, konflik satwa liar dengan manusia terjadi di dua wilayah yakni Sukabumi dan Garut. Macan tutul tersebut dilaporkan terperangkap jerat milik warga, yang menyebabkan salah satu di antaranya mati seketika.
Di Kampung Cikalaces, Desa Sekarsari, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, seekor macan tutul berukuran besar sempat terjerat jebakan babi pada 27 Desember 2023 dan kemudian dievakuasi dengan cara dibius demi menjaga keselamatan warga sekitar.
Macan tutul itu selanjutnya dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) di Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. BBKSDA Jawa Barat berencana melepasliarkannya kembali agar tidak terjadi konflik dengan manusia.
Berbeda dengan kasus di Sukabumi, seekor macan tutul di Garut ditemukan mati akibat terjerat kawat di kawasan Hutan Gunung Lancang pada 4 Juni 2024. Satwa tersebut ditaksir berumur 2 tahun dengan kondisi tubuh membusuk setelah diduga telah tewas selama 7 hingga 10 hari.







