Cirebon –
Menyelinap di antara padatnya permukiman Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon, sebuah bangunan berdiri anggun dengan rona merah bata yang mencolok. Tak ada polesan semen atau cat modern yang menutupi pori-porinya. Warga mengenalnya sebagai Masjid Merah Panjunan, sebuah monumen bisu yang telah melintasi berbagai zaman.
Berdasarkan papan informasi yang terpampang di depan masjid, bangunan itu didirikan pada tahun 1480. Masjid tersebut dibangun oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan.
Nama Panjunan yang melekat pada masjid ini merujuk pada wilayah tempat bangunan itu berdiri. Sementara sebutan “Merah” berasal dari struktur bata yang mendominasi seluruh bagian dindingnya.
Tokoh masyarakat setempat, Isnain, menyebut Masjid Merah Panjunan merupakan salah satu masjid tertua di Kota Cirebon yang dibangun pada abad ke-15.
“Masjid Merah Panjunan memang ini termasuk masjid tertua yang ada di Kota Cirebon. Dibangun di tahun 1480 atau di abad ke-15 oleh Pangeran Panjunan atau Syekh Syarif Abdurrahman,” kata Isnain, baru-baru ini.
Dari luar, masjid ini tampil berbeda dengan masjid modern pada umumnya. Dinding bata merahnya dibiarkan terlihat tanpa plester.
Warna bata itulah yang kemudian melekat menjadi identitas dan asal-usul penamaan dari Masjid Merah Panjunan di Kelurahan Panjunan.
“Penamaan masjid merah itu memang berawal dari bata merah tersebut,” terang dia.
Masjid Merah Panjunan Cirebon Foto: Ony Syahroni/ |
Tak hanya pada material bata, akulturasi budaya pun terasa kental pada detail arsitekturnya. Gapura bergaya klasik menyambut di bagian depan. Di sejumlah sisi dinding, tertanam piring-piring kuno sebagai ornamen.
“Memang masjid ini menunjukkan bahwa kita dari dulu ini kuat dengan akulturasi budayanya. Mulai dari gapura, terus ornamen-ornamen piring-piring Cinanya,” tutur Isnain.
Masuk ke bagian dalam, suasana terasa teduh dan sederhana. Atapnya relatif rendah dibanding masjid masa kini. Material kayu yang digunakan pada masjid ini masih dipertahankan hingga sekarang. “Ini masih berbahan kayu. Ini sudah lama sekali,” ucap Isnain.
Ketinggian bangunan yang cenderung pendek bukan tanpa makna. Ada filosofi yang ingin disampaikan para pendirinya. Merunduk sebelum masuk menjadi simbol kerendahan hati. Semua yang datang dibuat sejajar dalam ruang ibadah tanpa memandang status.
“Kalau di Masjid Merah Panjunan ini kan bisa dibilang rendah, pendek. Tapi ini mempunyai satu makna, bahwasanya di saat kita masuk ke dalam masjid ini, kita harus merunduk dan semuanya rata,” jelasnya.








