Putri si Perempuan Tangguh di Balik Kemudi Angkot Sukabumi

Posted on

Sukabumi

Siang itu, suara mesin angkot jurusan Cikareo-Lettu Bakrie terdengar meraung pelan di sebuah sudut Kota Sukabumi. Di balik kemudinya, duduk seorang remaja perempuan berusia 18 tahun.

Tangannya mantap memegang setir, matanya fokus memantau jalan. Tak ada raut canggung. Setir angkot itu kini sudah terasa akrab di tangan Putri Anjarwati.

Warga Kampung Kebonjati, RT 3 RW 13, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi ini memang bukan sopir angkot biasa. Di usianya yang masih belia, ia sudah terbiasa melaju di trayek yang sama seperti para sopir senior lainnya.

Semua berawal dari rasa penasaran sederhana. Putri awalnya hanya sering menemani sang ayah, Alohudin (55), yang lebih dulu menjadi sopir angkot. Dari kursi penumpang itulah ketertarikannya tumbuh.

“Awalnya emang ikut ayah doang. Ikut ayah, cuma jadi iseng-iseng pengen belajar mobil. Bisa aja buat ke depannya,” ujar Putri saat ditemui di sela aktivitasnya, Rabu (18/2/2026).

Iseng yang dulu sekadar coba-coba, kini berubah menjadi keahlian. Hampir dua tahun terakhir, Putri rutin membantu ayahnya menarik angkot. “Setahunan, mau dua tahun,” katanya singkat.

Rutinitasnya dimulai setelah bel sekolah berbunyi. Jika pagi hari sang ayah lebih dulu menyusuri jalanan, maka siang hingga sore adalah giliran Putri mengambil alih kemudi. Ia pun sudah mengantongi SIM, tanda keseriusannya menekuni profesi ini.

“Dari siang sampai sore. Paginya bapak, pulang sekolah baru narik,” ucapnya.

Putri Anjarwati, remaja perempuan yang mantap jadi sopir angkot. (Foto: Siti Fatimah/)

Di balik setir, Putri menemukan lebih dari sekadar tambahan penghasilan. Ada cerita, pertemuan, dan pelajaran hidup yang tak ia dapatkan di bangku sekolah.

“Seru aja gitu. Bisa kenal banyak orang. Capek tapi seru sih. Jadi dapet ilmu. Jadi tahu perjuangan bapak juga,” tuturnya sambil tersenyum.

Dalam sehari, jika menarik penuh, penghasilan kotor bisa mencapai Rp300 ribu. Jumlah yang tak kecil untuk ukuran pelajar. Namun bagi Putri, uang bukan satu-satunya tujuan. Profesi sopir sudah menjadi bagian dari keseharian keluarganya. Dua kakak laki-lakinya juga bekerja sebagai sopir angkutan barang.

Darah pengemudi seolah mengalir kuat dalam keluarganya. Dan di balik kemudi angkot itu, Putri menyimpan mimpi yang lebih besar.

“Cita-cita jadi sopir busway sih. Udah lancar bawa mobil,” katanya percaya diri.

Sementara itu, sang ayah tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Putri adalah anak kelima, si bungsu yang kini tumbuh menjadi sosok tangguh di jalanan kota.

“Senang dan bahagia. Bahagia anak sudah bisa nyupir. Memang dia cita-citanya pengen bisa mobil. Soalnya kakak-kakaknya juga jadi sopir,” ujar Alohudin.

Ia mengakui, kini Putri sudah sering menyetir sendiri tanpa perlu didampingi. “Sering sendiri. Ini juga barusan saya mau turun, mau ada yang dibeli di pasar,” katanya.

Bagi sebagian orang, setir angkot mungkin hanya alat mencari nafkah. Namun bagi Putri, itu adalah ruang belajar, tempat ia memahami arti kerja keras, dan jembatan menuju cita-citanya.

Di antara riuh klakson dan hiruk-pikuk penumpang, seorang remaja perempuan sedang menulis kisahnya sendiri-tentang mimpi, keberanian, dan keyakinan bahwa jalanan kota pun bisa menjadi ruang pembuktian.

Halaman 2 dari 2