Sukabumi –
Di pesisir muara Sungai Cimandiri, Desa Loji, Kabupaten Sukabumi, pernah ada masa ketika impun atau bibit ikan sidat yang di pasar internasional dikenal sebagai glass eel dianggap sebagai komoditas yang mengubah nasib nelayan.
Nilai ekonominya yang tinggi pernah menghidupkan sebuah perkampungan di bawah naungan pohon Kalujaran, yang kini dikenal sebagai Kampung Sidat.
Namun, seiring waktu, kejayaan yang sempat dijuluki sebagai perburuan ‘Emas Hitam’ itu kini tinggal riwayat yang kian sayup-sayup terdengar.
Dayat (52), salah satu penghuni Kampung Sidat, mengenang masa-masa ketika harga bibit ini berada di titik tertinggi menurut ingatan kolektif warga.
Saat itu, nilai jual bibit sidat begitu fantastis hingga hitungannya bukan lagi per kilogram, melainkan per gram.
“Harganya dulu kalau ke nelayan pencari impun mencapai Rp 1 juta per kilo. Hitungannya, setiap gram bernilai Rp 1.000,” kenang Dayat saat ditemui, Kamis (12/2/2026).
Namun, gairah ekonomi tersebut kini telah padam. Dayat mengungkapkan bahwa harga jual impun sidat saat ini sudah tidak lagi menjanjikan, bahkan menyentuh titik terendah yang pernah ada.
Perbedaan harganya sangat mencolok dibandingkan masa kejayaannya dulu.
“Sekarang sudah tidak ada harganya. Cuma paling tinggi Rp 200.000 per kilo. Yang dulunya harganya dihitung 1 gram Rp 1.000, sekarang 1 kilo Rp 200.000. Paling tinggi itu segitu,” tuturnya dengan nada pasrah.
Kampung Sidat Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/ |
Selain harga yang anjlok, ketersediaan bibit sidat di alam pun kian sulit didapat. “Bibit sidat juga sulit sekarang. Tiap malam teman-teman paling dapat 1 ons,” tambah Dayat.
Kondisi ini memaksa Dayat dan warga lainnya untuk beralih profesi demi menyambung hidup. Di sela-sela rumah panggung yang kini banyak yang kosong, tumpukan botol plastik kini menjadi pemandangan utama menggantikan jaring nelayan.
“Karena sidat sudah tidak ada, sekarang banyak yang mengambil plastik, botol aqua. Itu masuknya rongsokan. Jadi sampah-sampah di sini justru jadi berkah,” tutup Dayat.
Sri Padmoko, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi, membenarkan masa kejayaan bibit sidat (impun) di tahun-tahun tersebut.
Ia memberikan penjelasan teknis dan validasi data yang mendalam mengenai nilai ekonomi komoditas tersebut, sekaligus meluruskan simpang siur harga yang beredar di ingatan nelayan.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Sri Padmoko menjelaskan bahwa pada masa puncak, 1 kilogram impun sidat bisa mencapai Rp 5 hingga Rp 6 juta.
“Satu kilo itu isinya 6.000 ekor. Jika Rp 6 juta dibagi 6.000, berarti satu ekornya bernilai Rp 1.000,” jelasnya merinci perhitungan harga.
Menurut Sri Padmoko, meski harga sempat melonjak tinggi, harga rata-rata yang bertahan cukup lama di pasaran sebenarnya berada di angka Rp 3 juta.
“Rp 3 juta yang lama bertahan itu. Rp 3 juta per kilo,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tingginya harga kala itu dipicu permintaan industri pembudidaya, bukan untuk konsumsi langsung.
“Dulu itu dijual kebanyakan ke perusahaan pembudidaya sidat,” tutur Sri Padmoko.
Sri Padmoko pun memberikan analogi menarik mengapa impun sidat (glass eel) ini sangat mahal dan tidak logis jika dijadikan makanan olahan rumah tangga seperti pepes oleh warga lokal.
“Tidak logis jika ikan sebesar benang itu dipepes untuk dimakan. Dengan harga Rp 1.000 per ekor, jika satu pepes berisi 100 ekor, harganya sudah Rp 100 ribu. Ini terlalu mahal hanya untuk olahan rumah tangga,” paparnya menggambarkan nilai ekonomis bibit tersebut.
Mengenai penyebab merosotnya tren sidat saat ini, Sri Padmoko menganalisis hal tersebut dari sudut pandang hukum ekonomi dan kesulitan teknis budidaya.
“Permintaan menurun. Suplai tetap, permintaan menurun. Sesuai hukum ekonomi Ceteris Paribus, otomatis harga menjadi turun,” jelasnya.
“Memang sulit dan pertumbuhannya cukup lama. Dia perlu waktu 13 bulan. Sama seperti ikan gurame yang mahal karena proses pembudidayaannya yang lama,” tutup Sri Padmoko.








