Bandung Barat –
Jalur yang biasa dilintasi kendaraan offroad baik roda dua dan roda empat di kawasan hutan Sukawana-Cikole, diblokade warga Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Hal itu sebagai bentuk protes warga karena aktivitas offroad dianggap merusak lingkungan hingga fasilitas penunjang kehidupan mereka seperti air bersih serta pertanian dan perkebunan.

Penutupan jalur offroad itu dilakukan sejak Minggu (15/2) usai buntunya mediasi antara pengelola wisata, pemerintah desa, hingga warga yang dilaksanakan sebagai langkah mencari solusi.
“Jalur ini kami tutup karena belum ada aturan yang jelas. Jangan sampai merusak sumber mata air dan pencaharian warga, harus ada solusinya,” kata Aep, perwakilan warga Kampung Cipariuk, Desa Sukajaya, Kamis (19/2/2026).
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Aktivitas offroad menggunakan mobil dan motor trail, menimbulkan kebisingan untuk fauna hingga warga yang ada di sekitaran kawasan hutan. Belum lagi saat motor dan kendaraan menginjak jalan permukiman, menyebabkan permukaan menjadi kotor oleh tanah merah.
“Enggak cuma siang, bahkan di malam hari. Belum lagi kalau lagi musim hujan, terus tanah merah dari kendaraan itu bikin jalanan kampung jadi kotor, licin, dampak negatifnya kan ke kami,” katanya.
Belum lagi kerusakan sumber air alami untuk kebutuhan sehari-hari warga. Pipa hingga selang untuk menyambungkan air dari sumber mata air ke permukiman tak jarang rusak karena dilibas roda-roda kendaraan.
“Di sana kan ada paralon air warga. Sering itu pada pecah. Belum lagi menginjak rumput-rumput yang sengaja ditanam warga untuk ternak mereka,” katanya.
Kerusakan juga terjadi pada permukaan tanah di area hutan. Tanah yang terus digerus kendaraan semakin cekung membentuk kubangan. Kerusakan itu tak mungkin kembali pulih jika tak ada perbaikan.
“Lintasannya kan banyak membentuk kubangan-kubangan. Tanahnya semakin dalam tergali oleh ban kendaraan,” ucapnya.
Penutupan akses untuk offroad itu sudah diketahui oleh Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lembang. Alasan utamanya diakui karena adanya kerusakan dan efek yang ditimbulkan.
“Betul sekarang jalannya ditutup. Memang karena alasannya kerusakan yang ditimbulkan,” ujar Asisten Perhutani (Asper) pada BKPH Lembang, Cucu Supriatna






