Garut –
Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di wilayah Priangan Timur dalam sepekan. Mulai dari kasus pembunuhan yang menimpa seorang perempuan oleh kakak kandungnya sendiri di Garut, hingga pemuda putus cinta nekat telan racun tikus di Tasikmalaya.
Berikut rangkuman berita Priangan Timur dalam sepekan:
Pemuda Tasikmalaya Telan Racun Tikus Usai Putus Cinta
Seorang pemuda berinisial MSH (21) ditemukan tergeletak pingsan di pinggir Jalan Mangin, Kampung Rancakukun, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, pada Minggu (8/3/2026) sore.
Korban diduga kuat melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum racun tikus yang dicampur kopi akibat depresi diputus cinta oleh kekasihnya.
Kejadian bermula sekira pukul 15.00 WIB, warga menemukan korban bersama sepeda motor Suzuki hitam bernomor polisi AD 2336 KT dalam kondisi tidak sadarkan diri di pinggir jalan.
Warga yang khawatir dengan kondisi korban, segera membawa korban ke sebuah klinik kesehatan terdekat.
Namun, karena peralatan medis yang terbatas, korban kemudian dirujuk ke RSUD dr. Soekarjo untuk penanganan darurat.
Selain berusaha menyelamatkan korban, sebagian warga juga melapor ke polisi, sehingga petugas dari Polsek Mangkubumi bersama Unit Identifikasi Polres Tasikmalaya Kota mendatangi lokasi kejadian dan menemui korban di rumah sakit.
Beruntung tim medis bisa bergerak cepat dengan ‘menguras’ isi lambung korban. Sehingga korban bisa kembali siuman.
“Beruntung racun belum menyebar ke seluruh tubuh karena kejadian berlangsung kurang dari enam jam. Tim medis langsung melakukan tindakan bilas lambung untuk mengeluarkan zat berbahaya itu,” kata seorang polisi yang menyelidiki kasus tersebut.
Kepada polisi korban juga mengakui telah menenggak racun tikus yang dicampur dengan kopi. Aksi nekat itu dilakukan karena dia depresi akibat diputus cintanya oleh sang kekasih.
Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto membenarkan adanya kejadian itu.
“Berdasarkan keterangan dokter jaga RSUD dr. Soekarjo, korban dinyatakan positif mengalami keracunan. Terkait motifnya sedang diselidiki,” kata Andi.
Namun demikian hasil penyelidikan sementara diketahui jika korban diduga dengan sengaja melakukan aksinya.
Sebelum melakukan aksinya, korban sempat mengunggah status WhatsApp yang berisi riwayat pencarian Google mengenai efek racun tikus. Selain itu di ponsel korban didapati video saat dirinya mengaduk racun ke dalam kopi.
“Petugas sudah meminta keterangan saksi-saksi dan melakukan olah TKP. Saat ini korban beserta kendaraannya telah diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk pengawasan lebih lanjut,” kata Andi.
Warga Garut Edarkan Sabu Dari Balik Penjara
Polisi meringkus seorang warga Garut berinisial WSP. Lelaki berumur 28 tahun tersebut ditangkap setelah ketahuan mengendalikan peredaran barang haram narkotika jenis sabu dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
WSP diamankan belum lama ini oleh personel Sat Narkoba Polres Garut. Menurut Kasat Reserse Narkoba Polres Garut AKP Usep Sudirman, keterlibatan WSP terungkap setelah salah seorang anak buahnya berkicau di meja penyidik.
“Pengungkapan kasus ini berawal dari hasil pengembangan terhadap seorang pria berinisial SMMR, yang ditangkap beberapa hari lalu,” kata Usep kepada, Selasa, (10/3/2026).
SMMR ditangkap dalam sebuah penggerebekan yang dilakukan Sat Narkoba Polres Garut di wilayah Kampung Bojonglarang, Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, tempo hari.
Dari tangan SMMR, polisi menyita barang bukti narkotika jenis sabu. “Berdasarkan pengakuan tersangka SMMR, bahwa sabu tersebut milik tersangka WSP,” ucap Usep.
Polisi terkejut saat menelusuri WSP, yang ternyata diketahui merupakan seorang narapidana, atau warga binaan di salah satu Lapas yang ada di Jawa Barat. Berbekal keterangan SMMR, WSP kemudian diciduk tanpa perlawanan.
Usep mengungkapkan, fakta kemudian terungkap dari hasil interogasi yang dilakukan kepada WSP. Kepada penyidik, WSP mengaku mengendalikan peredaran sabu dengan menggunakan telepon genggam dari dalam penjara.
Dari hasil interogasi juga diketahui, bahwa WSP mengaku mendapatkan narkotika jenis sabu dari sebuah akun Instagram yang identitas dan alamat lengkap pemilik akun tersebut masih dalam penyelidikan polisi.
“Tersangka telah beberapa kali memperoleh sabu dari akun tersebut sejak Februari 2026,” ungkap Usep. Pada transaksi terakhir di bulan Maret 2026 ini, tersangka menerima sebanyak 20 paket sabu yang rencananya akan diedarkan kembali dengan bantuan para personel WSP yang berada di luar penjara.
“Dari penjualan tersebut, tersangka mengaku mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1,3 juta per 20 paket sabu yang berhasil diedarkan,” katanya.
WSP kini kembali diproses secara hukum, meskipun hukumannya di Lapas atas kasus serupa belum rampung dia jalani. Bedanya, kini dia tak sendiri, karena Cs-nya, SMMR juga ditahan polisi dan dijebloskan ke penjara.
Menurut AKP Usep, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 114 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan atau Pasal 609 Ayat 1 Huruf A Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Narkoba dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun.
“Sudah kami lakukan penahanan terhadap kedua tersangka. Kami saat ini masih melakukan pengembangan,” pungkas Usep.
Remaja Perempuan di Garut Tewas Ditusuk Kakak Kandung
Rabu (11/3) siang sekitar pukul 14.10 WIB, suasana Kampung Karikil Lebak, Desa Sukatani, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut mendadak mencekam. Seorang pria berinisial RR (27) menikam adik kandungnya, JAN (14), menggunakan pisau hingga korban meninggal dunia.
Peristiwa memilukan itu tampaknya tak terelakkan. Pelaku yang saat itu baru tiba di rumahnya langsung menghunuskan pisau ke dada sang adik hingga korban meregang nyawa.
Saat kejadian, korban berusaha sekuat tenaga untuk meminta pertolongan. Korban sempat dilarikan ke klinik kesehatan, namun sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan.
“Benar, telah terjadi tindak pidana pembunuhan di wilayah Cisurupan terhadap anak di bawah umur. Pelaku adalah kakak kandung dari korban,” ucap Kasat Reskrim Polres Garut AKP Joko Prihatin.
Sebelum meninggal, korban sempat lari meminta pertolongan. Tubuhnya bersimbah darah karena mengalami luka tusukan senjata tajam di bagian dada sebelah kanan.
Dari hasil pemeriksaan, peristiwa tragis ini terjadi di kediaman mereka. Korban yang saat itu tengah tertidur di kamarnya tiba-tiba langsung diserang oleh pelaku.
“Korban ditusuk menggunakan pisau di bagian dada sebelah kanan,” ungkap Joko.
Begitu polisi turun tangan, pelaku diamankan saat bersembunyi di rumahnya. Dia ditangkap di tengah kerumunan massa yang memadati lokasi kejadian. Polisi juga menyita barang bukti dari tindakan pembunuhan tersebut.
Kasus ini tengah didalami polisi. Berdasarkan kesimpulan sementara, motif pembunuhan diduga karena pelaku mengalami gangguan jiwa (ODGJ).
“Berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, pelaku diduga mengalami gangguan kejiwaan. Namun demikian, tetap harus kami lakukan pendalaman, termasuk meminta keterangan dari ahli,” pungkasnya.
Geger Perempuan Berlumuran Darah di Tasikmalaya
Kejadian tragis menimpa Heni Nurhayani (45) warga Kampung Gunung Bubut, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya, Rabu (11/4/2026).
Perempuan ini ditemukan warga terkapar bersimbah darah di selokan kawasan pesawahan sekitar kampungnya. Padahal sebelumnya, janda ini pamit kepada keluarganya untuk membersihkan makam anaknya.
Beruntung keberadaan Heni yang terluka ini segera diketahui warga yang melintas. Dia segera ditolong dan sampai sore ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya. Di sisi lain polisi masih berusaha keras mengusut kejadian ini. Polisi masih mencari siapa pelaku dan motif di balik perbuatan sadis ini.
Ketua RT 02/RW04 Kelurahan Cipawitra, Aep mengatakan korban ditemukan dalam kondisi tergeletak di selokan dekat sawah.
“Tangannya luka terlihat akibat senjata tajam, wajahnya juga berlumuran darah, di pinggangnya juga ada luka,” kata Aep.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB itu langsung dilaporkan Aep ke polisi. Petugas Polsek Mangkubumi segera datang dan langsung membawa korban ke rumah sakit.
“Langsung dinaikkan ke mobil polisi, saat itu kondisinya terlihat masih sadar,” kata Aep. Meski demikian korban tidak sempat menjelaskan apa yang telah menimpanya.
Pamapta Polres Tasikmalaya Kota, Ipda Joni Jonansa membenarkan adanya kejadian itu. Polisi menurut dia sudah melakukan langkah-langkah penanganan. Mulai dari mengevakuasi korban hingga melakukan olah TKP.
“Laporan dari masyarakat ada seorang perempuan yang tergeletak di selokan tengah sawah. Oleh petugas Polsek Mangkubumi dibantu masyarakat langsung dibawa ke RSUD,” kata Joni.
Kondisi korban kata Joni sudah pingsan dan luka-luka di beberapa bagian tubuhnya.
“Untuk kondisi korban sudah pingsan. Korban mengalami luka di wajahnya lebam-lebam mungkin bekas pukulan. Terus tangannya yang sebelah kiri luka diduga bekas senjata tajam, sepertinya korban dianiaya menggunakan senjata tajam, ditangkis oleh korban sehingga tangannya luka,” kata Joni.
Untungnya saat itu, kondisi korban mulai stabil. Sudah siuman meski belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, sebelum kejadian korban pamit dari rumah hendak ke tempat pemakaman. Korban berniat membersihkan makam anaknya, yang belum lama ini meninggal.
“Alhamdulilah kondisi korban sudah sadar ditangani oleh tim medis RSUD dr. Soekardjo, tapi belum sepenuhnya pulih. Menurut keterangan keluarganya, waktu mau pergi itu, korban berbicara ke keluarganya mau ke makam anaknya, mau membersihkan makam anaknya yang belum lama meninggal,” papar Joni.
Sementara itu terkait siapa pelakunya dan motif di balik insiden itu, Joni masih menunggu hasil penyelidikan anggota Satreskrim.
“Kita sudah melakukan olah TKP, mengumpulkan barang bukti dan saksi saksi di sekitar. Mudah-mudahan segera terungkap,” kata Joni.
Usai serangkaian pemeriksaan, Polres Tasikmalaya Kota kemudian mengamankan seorang pria yang diduga terkait dengan kasus tersebut. Namun, status pria tersebut hingga Kamis (12/3) masih sebagai saksi.
“Bukan menangkap, kita mengamankan yang diduga terkait, ini dilakukan berdasarkan keterangan korban sekilas saja,” kata Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto.
Meski kondisi korban saat itu belum stabil untuk dimintai keterangan, gambaran umum dari kejadian ini perlahan sudah terpetakan. Ada seseorang yang sempat bertemu dengan korban sebelum insiden berdarah itu terjadi.
Berdasarkan kronologi sementara, korban awalnya berangkat dari rumah untuk berziarah dan membersihkan makam anaknya yang baru 40 hari meninggal. Di lokasi itu, dia melihat seorang pria yang sedang memancing di saluran air. Pria inilah yang sudah diamankan polisi untuk dimintai keterangan.
“Kita masih pelajari karena berdasarkan keterangan sementara, pada saat ibu ini mau datang ke makam anaknya yang baru meninggal 40 hari. Tiba-tiba dia melihat seseorang yang sedang mancing,” kata Andi.
Dijelaskan pula, saat itu tidak ada saksi lain di lokasi kejadian. Hanya ada korban dan pemancing tersebut. Terkait motif penganiayaan, sejauh ini polisi belum bisa memastikan apakah aksi ini dilatarbelakangi perampokan, dendam, atau motif lainnya.
“Motif belum terungkap karena tadi kondisi korban masih belum stabil. Kemudian pada saat kejadian hanya ada korban dan orang tersebut,” kata Andi.
Andi juga menegaskan komitmen jajarannya untuk mengusut tuntas perkara ini hingga benderang. “Intinya sampai saat ini kita masih melakukan penyelidikan, kami mohon doa mudah-mudahan perkara ini bisa terungkap,” kata Andi.
Preman di Garut Ancam Bunuh Kapolsek gegara Tak Terima Ditegur Mokel
Aksi seorang Kapolsek yang berkelahi dengan preman kampung di Kabupaten Garut viral di media sosial. Belakangan diketahui, kejadian dipicu lantaran pria tersebut tak terima ditegur saat makan di siang hari (mokel) pada bulan Ramadan, dan mengancam akan membunuh Kapolsek serta Camat.
Kejadian tersebut berlangsung pada Jumat (13/3/2024) sore di Kecamatan Pakenjeng, Garut. Adapun personel Polri yang terlibat perkelahian tersebut adalah Kapolsek Pakenjeng Iptu Muslih Hidayat. Sedangkan pria yang melawannya diketahui bernama Tio alias Tito Kobra.
Perkelahian antara Tito Kobra dengan Kapolsek ini terekam dalam video amatir berdurasi lebih dari 4 menit yang beredar di media sosial. Seperti dilihat, dalam video tersebut keduanya bertarung sengit.
“Kamu pikir saya takut sama kamu?,” teriak Kapolsek kepada Tito Kobra dalam video tersebut.
Saat dihubungi, Sabtu (14/3/2024) pagi, Muslih membeberkan kronologi kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa bermula sekitar 10 hari lalu. Kala itu, dirinya yang sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan Safari Ramadan melakukan patroli di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Pakenjeng.
“Saat berada di PLTM, saya merasa aneh. Ada banyak motor, tapi orangnya tidak ada. Kemudian saya telusuri, ternyata orang-orangnya ada di bawah sedang minim-minum,” kata Muslih.
Muslih menuturkan, saat itu ia mendata sekitar 8 pemuda, termasuk Tito Kobra yang ada di lokasi. Kepada para pemuda yang kedapatan tidak berpuasa tersebut, Muslih memberikan hukuman push-up.
“Karena kan kami juga memiliki dasar Maklumat Bupati Garut tentang imbauan di bulan Ramadan,” katanya.
Kejadian sore itu berlalu tanpa masalah berarti. Namun, pada Jumat 13 Maret kemarin, tanpa disangka Tito Kobra menghampiri Muslih yang saat itu hendak berbagi takjil dengan komunitas pemuda di Pakenjeng.
Tito langsung berbicara kepada Muslih. Dia mengaku tersinggung oleh perilaku Muslih yang merazia Tito dan anak buahnya saat sedang makan di siang hari tempo hari. Muslih kemudian menjelaskan tugas dan fungsinya sebagai polisi, tetapi Tito tidak terima.
“Saat itu yang bersangkutan ngedumel karena merasa dicemarkan nama baiknya. Berbicara kasar dan memaki saya. Saya diamkan saja,” ungkap Muslih.
Namun, Muslih akhirnya terpancing emosi kala Tito mengancam akan membunuhnya dan Camat Pakenjeng. “Saat berlalu, dia bicara…. kalau begitu, ku aing dipaehan Camat sakalaian jeung Kapolsekna,” ungkap Muslih menirukan ucapan Tito.
Mendengar perkataan tersebut, Muslih meradang dan langsung melumpuhkan Tito dengan tujuan untuk mengamankannya ke Mapolsek. Namun, Tito melawan hingga terjadi perkelahian.
Pertarungan itu berlangsung sengit hingga 4 menit lamanya sebelum pria tersebut akhirnya menyerah. Saat dilakukan penggeledahan, Tito Kobra kedapatan membawa sebilah golok berukuran kecil.
Muslih mengaku sempat terpancing emosi. Meski demikian, dia memutuskan tidak akan membuat laporan secara resmi untuk memproses hukum Tito. Muslih memilih berbesar hati atas kejadian tersebut.
“Meskipun kelakuannya seperti itu, tapi yang bersangkutan adalah masyarakat saya. Sudah menjadi kewajiban saya untuk melakukan pembinaan meskipun terkadang nyawa terancam,” ucap Muslih.
Dari hasil penyelidikan polisi, Tito Kobra terindikasi tengah dalam pengaruh obat-obatan terlarang saat kejadian berlangsung. Ia merupakan sosok yang selama ini meresahkan warga di wilayah Kecamatan Pakenjeng.







