Bandung –
Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di wilayah Priangan Timur dalam sepakan. Mulai dari kabar pilu yang menimpa Siti Nur Rahayu atau Yayu, atlet rugbi Jabar yang mengalami pecah usus, hingga bayi 2 bulan diculik di Tasikmalaya.
Berikut rangkuman berita Priangan Timur sepekan:
Atlet Rugbi Jabar yang Berjuang Lawan Penyakit Pecah Usus
Siti Nur Rahayu atau Yayu, kini hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit. Atlet rugby yang pernah membela Jawa Barat di ajang PON XIII Aceh-Sumatera Utara 2024 lalu itu sedang berjuang setelah mengalami penyakit pecah usus.
Perempuan berusia 22 tahun asal Garut ini tak lagi gagah karena kondisi yang dideritanya. Usai berjuang di ajang olahraga multinasional beberapa tahun yang lalu, kondisi kesehatannya justru kian memprihatinkan.
Bulan lalu, Yayu didiagnosis mengalami pecah usus. Tubuh kuat yang biasanya digunakan untuk beradu fisik di lapangan rugby tersebut kini terkulai tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
“Sempat diperiksa ke dokter, katanya pecah usus. Dokter menyarankan untuk operasi dan berobat jalan,” ungkap Yayu.
Yang lebih ironisnya, Yayu ternyata kesulitan berobat karena terkendala biaya. Bahkan, ia diketahui tidak memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan untuk menanggung biaya perawatannya.
Selama ini, Yayu hanya bisa berharap mendapatkan uluran tangan dari pemerintah maupun rekan-rekannya sesama atlet. Beruntung, kisah pilu Yayu ini segera menyita perhatian berbagai pihak.
Namun kemudian, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) hingga Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini telah turun tangan untuk membantu proses penyembuhannya. Yayu saat ini sudah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Welas Asih.
Apa yang dialami Yayu, kemudian direspons langsung Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Ia langsung memerintahkan Dinkes Jabar untuk menangani perempuan itu, hingga Yayu bisa dirujuk dan kini menjalani perawatan intensif di RSUD Welas Asih Bandung.
Dalam unggahan di media sosialnya, Dedi blak-blakan menyebut bahwa informasi terkait kondisi Siti justru tidak datang dari pemerintah daerah asalnya.
“Pemprov Jabar akan turun untuk membawa ke rumah sakit, mohon maaf kami baru tahu peristiwa ini tidak dari pemerintah setempat,” ungkap Dedi sebagaimana dikutip, Jumat (6/2/2026).
Terkait kondisinya, Dedi Mulyadi memastikan bahwa penanganan sudah berjalan dan menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Ia menyebut Siti telah dirujuk ke RSUD Welas Asih Bandung untuk mendapat perawatan yang lebih intensif.
“Teh Siti Rahayu asal Garut yang mengalami pecah usus sudah kami tangani dan kini menjalani perawatan di RSUD Welas Asih,” ujar Dedi.
Dedi juga menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat bahwa negara harus hadir bagi warganya yang sakit dan tak berdaya, terutama mereka yang terkendala biaya dan akses layanan kesehatan.
“Selanjutnya bagi siapapun yang sakit dan tidak bisa diobati dan tidak punya kemampuan untuk berobat silahkan datang ke balai pengaduan Lembur Pakuan atau Bale Pananggeuhan Gedung Sate,” ucapnya.
Selisih Rp5 Ribu Berujung Ojol Hantam Konsumen di Tasikmalaya
Hakim (35), tak pernah menyangka bakal mendapat perlakuan tak mengenakkan dalam hidupnya. Warga Majalengka yang tinggal di Kelurahan Sukanagara, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya itu menjadi korban penganiayaan seorang oknum driver ojek online (ojol) hingga mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya.
Ceritanya bermulai pada Senin (3/2) lalu. Korban tadinya memesan bubur ayam melalui aplikasi jasa pengantar. Di ponsel Hakim, tertera harganya Rp 14.200. Sementara di telepon genggam si oknum ojol itu harganya adalah Rp 19 ribu.
Namun yang tak Hakim duga, selisih harga sekitar Rp 5 ribu itu malah jadi petaka untuknya. Dimulai dengan perselisihan karena Hakim enggan membayar sesuai permintaan ojol, hingga percakapan pun menjadi panas dan berujung cekcok di antara keduanya.
Hakim keukeuh karena biasa membeli bubur ayam di sana. Namun yang tak diduga, si oknum driver ojol malah langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Hakim, dan diiringi pukulan selanjutnya yang datang bertubi-tubi.
“Saya sempat mencoba lari, tapi karena memakai sarung, saya terjatuh. Saat itulah saya dipukuli terus, sepertinya menggunakan benda tumpul atau batu, saya kurang jelas melihatnya, tapi ini dekat telinga saya sobek,” kata Hakim.
Setelah puas menghajar Hakim, pengemudi ojol itu langsung pergi meninggalkan Hakim yang babak belur. Hakim langsung berobat ke rumah sakit, sebelum akhirnya mengadukan kekerasan yang menimpanya ke Mapolres Tasikmalaya Kota. Luka yang diderita Hakim tampak mengkhawatirkan. Wajahnya lebam, beberapa titik harus ditutup perban.
Dihubungi terpisah, Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra membenarkan pihaknya menerima laporan Hakim. “Kemarin laporan masuk, sekarang sedang kami tindak lanjuti. Dugaan sementara kasus penganiayaan,” kata Herman.
Dia menjelaskan kasus ini melibatkan seorang ojol atau kurir pengantar makanan dengan konsumennya. Dia membenarkan jika perselisihan dipicu oleh perbedaan harga. “Jadi memang harga yang di ponsel konsumen dengan harga di ponsel pengemudi ojol itu berbeda, makanya mereka cekcok,” kata Herman.
Namun demikian, untuk sementara ini pihaknya fokus kepada aksi kekerasan atau penganiayaan yang terjadi akibat masalah itu. Menurut dia, kekerasan atau penganiayaan tetap tak dibenarkan di mata hukum.
“Selisihnya hanya sekitar Rp5 ribu, kami sesalkan sampai terjadi kekerasan seperti itu. Proses hukumnya akan tetap berlanjut,” tegas Herman.
Pria Garut Berjam-jam Nyasar ke Hutan Usai Ikuti Google Maps
Nasib apes dialami Ade Ana Rojana, pria 27 tahun asal Garut. Niat hati hendak mengecek lokasi pernikahan kerabatnya, Ade malah tersesat nyaris hingga ke tengah hutan, gara-gara mengikuti petunjuk arah di Google Maps.
Kejadian ini berlangsung di Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, pada Rabu, (4/2) sore kemarin. Dengan modal share location yang diberikan kerabatnya, Ade lalu tancap gas menuju lokasi, yang terpaut belasan kilometer dari lokasi tempat tinggalnya.
Namun apes, titik lokasi pada peta yang jadi acuan Ade dalam berkendara, ternyata tidak membawanya ke lokasi yang dituju. Tanpa sadar, Ade malah tersesat ke kawasan hutan Blok Legok Demplon.
Karena medan jalan yang licin dan penuh bebatuan, Ade menyerah dengan kendaraannya. Dia lantas melapor ke polisi, sekitar jam 21.00 WIB.
“Jadi, awalnya korban ini sekitar jam 14.30 WIB berangkat dari rumahnya dengan tujuan mengecek lokasi hajat pernikahan kerabatnya di Kampung Kubang, Desa Pangeureunan,” kata Kapolsek Limbangan AKP Masrokan.
Menurutnya, sejumlah personelnya kemudian dikerahkan untuk mencari keberadaan Ade. Bersama petugas dari instansi lain dan juga warga, petugas kemudian mencari Ade hingga ke tengah hutan.
“Alhamdulillah korban berhasil kami temukan sekitar jam 2 dini hari, Kamis, (5/2/2026),” ungkap Masrokan.
Ade ditemukan dalam kondisi yang kelelahan. Setelah ditemukan, para penyelamat kemudian berbondong-bondong membawa Ade ke permukiman warga terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
“Korban kondisinya selamat. Hanya kelelahan saja,” pungkas Masrokan.
Lansia di Ciamis Tewas Tertimbun Longsor Tebing Kolam Ikan
Hujan deras yang mengguyur Dusun Gunungbangka, Desa Sukamanah, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, berujung duka. Ikah (73), seorang lansia, meninggal dunia akibat tertimbun longsor pada Selasa (3/2/2026) dini hari.
Sekitar pukul 00.30 WIB, tebing kolam ikan yang berada tepat di atas rumah korban ambruk. Material tanah dan air menghantam kamar tidur saat Ikah terlelap. Korban yang baru saja pulang dari rumah sakit itu tak sempat menyelamatkan diri ketika dinding kamarnya jebol dihantam material longsor.
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani, mengonfirmasi kejadian tersebut. Tim BPBD langsung diterjunkan ke lokasi untuk penanganan dan asesmen. Menurut Ani, hujan berintensitas tinggi membuat tanah penyangga kolam menjadi labil hingga tak mampu menahan beban air.
“Kolam ikan berada tepat di atas kamar tidur korban. Karena hujan deras, tanahnya tidak mampu menahan beban, akhirnya longsor dan menimpa rumah,” ujar Ani.
Saat kejadian, terdapat enam orang di dalam rumah tersebut. Lima anggota keluarga lainnya selamat tanpa luka karena berada di ruangan berbeda, sementara Ikah menjadi satu-satunya korban jiwa.
“Korban sedang istirahat di kamar. Yang lain aman, tidak ada luka,” kata Ani.
Jenazah Ikah telah dievakuasi oleh warga dan keluarga untuk dimakamkan di pemakaman setempat. Peristiwa ini menjadi peringatan bagi warga sekitar yang banyak memiliki kolam ikan di atas permukiman. BPBD menegaskan bahwa pola tata ruang seperti ini menyimpan risiko tinggi.
“Imbauan kami, kolam ikan sebaiknya tidak berada di atas rumah. Jika ingin beternak ikan, gunakan sistem lain yang lebih aman, seperti kolam terpisah atau bioflok,” tegas Ani.
Meski pemerintah desa telah melakukan sosialisasi, keterbatasan biaya membuat warga tetap mempertahankan kolam di lokasi rawan. Ke depan, Pemkab Ciamis berencana mencari solusi teknis, termasuk kemungkinan bantuan budidaya ikan yang lebih aman bagi warga.
Bayi 2 Bulan di Tasikmalaya Diculik Usai Pelaku Kenalan dengan Ibu dari Medsos
Laporan memilukan WR (41), seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Padakembang, memicu Polres Tasikmalaya bergerak cepat. Petugas berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan bayi kandung WR yang diculik secara paksa.
Bayi laki-laki yang baru berusia dua bulan itu diambil seorang pria tepat di depan mata ibunya. Peristiwa tersebut terjadi di teras Masjid Agung Singaparna, tak jauh dari kawasan Alun-alun dan Terminal Singaparna. Terduga pelaku diketahui merupakan kenalan korban di media sosial.
Merespons laporan tersebut, Satreskrim Polres Tasikmalaya membentuk tim khusus yang dipimpin Plt Kasat Reskrim Ipda Agus Yusup Suryana, Kanit PPA Aiptu Josner Ringgo, dan Kanit Resmob Ipda Devi. Tanpa membuang waktu, tim langsung melacak koordinat pelaku yang terdeteksi berada di luar kota.
“Kami dipimpin langsung Pak Plt Kasat. Setelah tim khusus dibentuk, kami langsung bergerak malam tadi menuju titik keberadaan pelaku di luar kota,” kata Kanit PPA Satreskrim Polres Tasikmalaya, Aiptu Josner Ringgo kepada, Sabtu (7/2/2025).
Tim menempuh perjalanan ratusan kilometer hingga tiba di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Setelah berkoordinasi dengan aparat setempat, petugas mengepung sebuah rumah permanen yang menjadi tempat persembunyian pelaku menjelang subuh.
Polisi bertindak sangat waspada. Mereka khawatir pelaku nekat menganiaya bayi tersebut, mengingat saat penculikan, pelaku sempat mengancam akan melempar bayi jika korban berteriak. Petugas memastikan bayi tidak berada dalam dekapan pelaku sebelum melakukan penyergapan.
“Kami sangat hati-hati karena khawatir bayi dijadikan sandera jika pelaku terbangun. Sesuai ancamannya saat menculik, kami tidak ingin terjadi hal buruk pada bayi tersebut,” ujar Josner.
Pelaku berinisial WD akhirnya diringkus tanpa perlawanan saat tengah tertidur lelap. Meski sempat berdalih bahwa bayi yang diculiknya adalah anak kandungnya sendiri, WD tidak dapat berkutik dan langsung diamankan petugas.
Plt Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Ipda Agus Yusup Suryana memastikan penangkapan berjalan humanis. Namun, saat disergap, bayi korban ternyata tidak ada di lokasi. Setelah diinterogasi secara intensif, WD akhirnya menunjukkan lokasi bayi tersebut disimpan.
“Pelaku sempat berkelit, namun akhirnya bersedia menunjukkan keberadaan korban. Bayi tersebut dititipkan di rumah kontrakan kakak kandung pelaku yang berjarak sekitar 30 menit dari lokasi penangkapan,” ungkap Ipda Agus Yusup.
Bayi laki-laki tersebut ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat. Anggota Polwan segera mengevakuasi korban menuju Polres Tasikmalaya untuk dipertemukan kembali dengan ibunya. Sementara itu, WD kini menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Tasikmalaya.
“Kami masih mendalami motif pelaku nekat menculik bayi tersebut secara paksa. Mohon waktu, pemeriksaan masih berjalan,” tutup Ipda Agus.







